beritabernas.com – Rob permanen dan penurunan tanah di pesisir Sayung, Kabupaten Demak, telah menghilangkan lebih dari 1.500 hektare sawah dan menyisakan tambak kurang dari 700 hektare. Untuk memulihkan mangrove sekaligus mata pencaharian warga, Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup (Pusdal LH) Jawa bersama Pemerintah Kabupaten Demak menggelar sosialisasi ekosistem mangrove, aksi bersih pantai, dan bimbingan teknis (bimtek) budidaya kepiting bakau di Desa Timbulsloko dan Pantai Sayung, Selasa–Rabu, 27–28 Oktober 2026.
Tanah di Sayung turun 7–12 sentimeter per tahun, dan sekitar 6.600 hektare wilayah Demak terdampak genangan permanen pada 2026. Mangrove sebagai pelindung alami pantai terus tertekan, sementara sumber penghidupan warga ikut hilang.
Kepala Pusdal LH Jawa Eduward Hutapea menyebut pesisir Sayung menghadapi abrasi, banjir rob, penurunan muka tanah, perubahan garis pantai, dan degradasi ekosistem. Dampaknya dirasakan langsung warga lewat berkurangnya lahan produktif, terganggunya mata pencaharian, dan meningkatnya kerentanan ekonomi keluarga. Menurut dia, pemulihan pesisir harus berorientasi pada pemulihan lingkungan sekaligus penghidupan masyarakat.
Tiga kegiatan dalam dua hari
Pada Selasa pagi, 27 Oktober 2026, sosialisasi pentingnya ekosistem mangrove di Desa Timbulsloko diikuti lebih dari 300 warga, kelompok masyarakat, dan perangkat desa. Dilanjutkan, 200 peserta membersihkan sampah di habitat mangrove Pantai Sayung dengan pendampingan tim SAR setempat. Volume dan jenis sampah akan ditimbang dan dicatat sebagai dasar rekomendasi pengelolaan sampah pesisir.
Pada Rabu, 28 Oktober, 15 perwakilan pemerintah desa dan nelayan mengikuti bimtek budidaya kepiting bakau yang ramah ekosistem mangrove, meliputi pre-test dan post-test, praktik budidaya, serta penyusunan rencana penerapan.
Eduward menjelaskan bahwa mangrove meredam energi gelombang pada kondisi tertentu, mengurangi risiko erosi di lokasi yang sesuai, menyediakan habitat biota, mendukung perikanan, dan menyimpan karbon. Namun efektivitasnya bergantung pada kesesuaian lokasi, kondisi hidrologi, dan karakteristik pantai. “Menanam mangrove saja tidak cukup,” ujarnya.
Baca juga:
- Budidaya Ikan di Saluran Irigasi Dikeluhkan Warga
- PT BPR Restu Artha Yogyakarta Melaksanakan Kegiatan CSR dengan Menebar Benih Ikan
Mangrove tidak boleh dipandang sebagai kegiatan seremonial tanam, melainkan bagian dari sistem perlindungan pesisir yang dijaga bersama pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha. Keberhasilannya diukur dari tingkat kelangsungan hidup tanaman, regenerasi, kondisi habitat, dan manfaat yang dirasakan warga, bukan sekadar jumlah bibit.
Hilangnya sawah dan tambak mengubah profesi warga. Mereka yang dulu memproduksi padi kini harus membeli beras. Petani berusia lanjut menganggur, sedangkan anak muda merantau menjadi buruh kasar di Kota Semarang dengan upah harian tidak menentu.
Budidaya kepiting bakau ditawarkan sebagai alternatif ekonomi yang bergantung pada mangrove sehat, sehingga warga punya alasan nyata untuk menjaganya. “Kita tidak ingin masyarakat dihadapkan pada pilihan antara menjaga lingkungan dan memenuhi kebutuhan hidup,” kata Eduward.
Ia menegaskan bahwa keberhasilan kegiatan tidak hanya diukur dari jumlah peserta atau sampah terkumpul, tetapi dari perubahan perilaku, keterlibatan warga merawat mangrove, dan tumbuhnya mata pencaharian yang tidak merusak ekosistem. Selain kepiting bakau, peluang usaha yang dapat dikaji meliputi produk olahan perikanan, produk lokal, jasa pembibitan mangrove, dan ekowisata konservasi, disertai penguatan kelembagaan kelompok, keterampilan pemasaran, akses pembiayaan, serta kemitraan dengan pemerintah dan dunia usaha.
Kolaborasi lintas instansi
Kegiatan diselenggarakan Pusdal LH Jawa secara swakelola bersama Pemkab Demak, Pemerintah Desa Timbulsloko, BBWS Pemali-Juana, BKSDA Jawa Tengah, dan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Demak. Pakar perguruan tinggi dan praktisi budidaya kepiting bakau menjadi narasumber. Eduward menekankan bahwa tantangan Sayung terlalu kompleks untuk diselesaikan satu pihak, sehingga diperlukan pembagian peran yang jelas dan tindak lanjut yang konsisten.
Mewakili Bupati Demak, Wakil Bupati, KH. Muhammad Badruddin, menyatakan bahwa aksi bersih pantai tidak boleh berhenti sebagai kegiatan seremonial, melainkan menjadi pemicu perubahan perilaku dan kepedulian bersama. Kebersihan pesisir, menurutnya, adalah tanggung jawab seluruh masyarakat, bukan hanya petugas kebersihan atau pemerintah.
Ia menyebut hampir dua juta bibit mangrove telah ditanam di pesisir Demak hingga 2026, namun pemeliharaan dan pemantauan berkala tetap diperlukan untuk menindaklanjuti tanaman yang rusak atau mati. Pemkab juga terus mengedukasi warga soal pengelolaan sampah, karena kebersihan lingkungan mendukung perkembangbiakan biota laut dan berpotensi menambah pendapatan keluarga pesisir.
Rangkaian kegiatan dimulai sejak 12 Oktober 2026 melalui rapat koordinasi, rapat teknis, dan verifikasi lapangan. Tim akan menilai efektivitasnya pada 17 November, menggelar rapat evaluasi pada 18 November, dan memantau tindak lanjut pada 1–4 Desember 2026.
Pendekatan ini sejalan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 27 tahun 2025 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Mangrove. Eduward juga menyebut Peraturan Menteri LH/BPLH Nomor 26 Tahun 2025 tentang inventarisasi mangrove, Keputusan Menteri LH/Kepala BPLH Nomor 3438 Tahun 2025 tentang Peta Mangrove Nasional 2025, dan Keputusan Nomor 1278 Tahun 2026 tentang kriteria lokasi program Desa Mandiri Peduli Mangrove (DMPM).
Program DMPM menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama perlindungan mangrove melalui penguatan aspek ekologi, sosial, kelembagaan, dan ekonomi. Eduward mendorong terbentuknya kelompok masyarakat yang memantau kondisi ekosistem dan bekerja sama dengan pemerintah desa.
Ia berharap peserta menjadi penggerak di lingkungannya, dan kegiatan ini menjadi langkah awal pulihnya fungsi mangrove serta menguatnya ekonomi warga pesisir Sayung. Hasil penilaian dan rekomendasi tindak lanjut akan dibagikan kepada pemerintah daerah, desa, dan kelompok masyarakat. (Yus Ade, Pusdal LH Jawa)
There is no ads to display, Please add some