Oleh: Yoyok Sigit Haryotomo, Analis Kebijakan Madya pada Pusat Pengendalian LH Jawa
beritabernas.com – Pemanasan global adalah kenaikan suhu bumi akibat meningkatnya emisi gas rumah kaca di atmosfer, antara lain karbon dioksida (CO₂), metana (CH₄), dan nitrogen oksida (N₂O). Dampaknya adalah perubahan iklim: pergeseran pola cuaca, kenaikan muka air laut dan cuaca ekstrem yang makin sering dan intens. Perubahannya baru terlihat dalam hitungan dekade, tetapi pengaruhnya luas bagi manusia, ekosistem, dan keberlanjutan pembangunan.
Sebagai negara kepulauan tropis, Indonesia berisiko tinggi. Banjir bandang makin sering terjadi, sementara kebakaran hutan dan lahan yang berkepanjangan menandakan kemarau ekstrem. Suhu telah naik signifikan dalam beberapa dekade terakhir dan diperkirakan terus meningkat. Kenaikan muka laut hingga 2100 akan memperbesar risiko banjir di dataran rendah dan pesisir.
Dampaknya merambat ke ketahanan pangan. Pergeseran musim tanam membuat petani sulit menentukan waktu tanam, suhu yang naik mempercepat penguapan dan mengurangi air irigasi, sedangkan cuaca tidak stabil mempercepat siklus hidup hama tanaman. Produksi pertanian pun terancam menurun.
Kesehatan masyarakat ikut terdampak. Suhu dan curah hujan yang berubah mempercepat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti sehingga kasus demam berdarah, malaria, dan chikungunya berpotensi melonjak. Cuaca ekstrem dan polusi udara memicu ISPA dan asma, sedangkan banjir dan kekeringan mengurangi air bersih dan menaikkan risiko diare serta penyakit kulit.
Baca juga:
- Bengawan Solo di Tengah Perubahan Iklim, Menjaga Keberlanjutan Fungsi DAS dari Hulu hingga Hilir
- Karhutla Bukti Kegagalan Pemerintahan Prabowo – Gibran
- Hujan Datang, Banjir Berulang: Sudahkah Kita Membaca Pesannya?
- El Niño Tidak Membawa Korek Api
Keanekaragaman hayati juga terancam. Letak Indonesia di antara dua benua dan dua samudra membuatnya sangat dipengaruhi El Niño dan La Niña. Spesies bergeser ke dataran yang lebih tinggi, habitat menyempit, dan spesies endemik berdaya adaptasi rendah menghadapi risiko kepunahan lokal maupun global.
Menghadapi hal itu, lebih dari 100 negara menetapkan target Net Zero Emission (NZE), yaitu kondisi ketika emisi yang dilepas manusia seimbang dengan emisi yang diserap. Indonesia menargetkan NZE pada 2060 atau lebih cepat melalui Nationally Determined Contribution (NDC). Dalam Enhanced NDC, target penurunan emisi 2030 ditetapkan 31,89% (915 juta ton CO₂e) dengan upaya sendiri, dan 43,20% (1.240 juta ton CO₂e) dengan dukungan internasional.
Strategi utamanya adalah adaptasi dan mitigasi, yang saling melengkapi. Adaptasi menyesuaikan diri terhadap dampak untuk mengurangi risiko dan meningkatkan ketahanan, melalui peringatan dini bencana, pengelolaan air berkelanjutan, rehabilitasi hutan dan daerah aliran sungai, infrastruktur tangguh bencana, serta pertanian adaptif.
Mitigasi menekan emisi dan meningkatkan penyerapan karbon, melalui energi terbarukan, efisiensi energi, pengurangan bahan bakar fosil, pengelolaan sampah, pengendalian emisi industri dan transportasi, serta pemulihan hutan, mangrove, dan lahan gambut. Dengan begitu, pembangunan dapat diarahkan menuju ekonomi rendah karbon.
Upaya ini membutuhkan kolaborasi tiga pilar: pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat. Pemerintah menetapkan kebijakan, regulasi, dan program, serta memasukkan perlindungan lingkungan ke dalam perencanaan pembangunan nasional dan daerah. Langkah yang telah ditempuh meliputi komitmen NDC dan NZE, pajak karbon, perdagangan karbon, pembatasan emisi industri, moratorium hutan primer, dan perlindungan lahan gambut.
Dunia usaha perlu memandang pengendalian iklim bukan sebagai beban, melainkan peluang meningkatkan efisiensi, daya saing, dan inovasi. Kontribusinya mencakup efisiensi energi, energi terbarukan, teknologi rendah karbon, ekonomi sirkular, dan inventarisasi emisi sebagai dasar target penurunan yang terukur.
Penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG), investasi hijau, serta program rehabilitasi ekosistem dan pemberdayaan masyarakat akan memperkuat transparansi dan manfaat nyata, terlebih bila dikerjakan bersama pemerintah, akademisi, dan masyarakat.
Peran masyarakat sangat krusial, terutama di tingkat lokal. Dengan penduduk lebih dari 280 juta jiwa, kebiasaan sehari-hari berpengaruh besar. Mitigasi dapat dimulai dari menghemat energi, mengurangi kendaraan pribadi, menerapkan 3R (Reduce, Reuse, Recycle), mengurangi konsumsi beremisi tinggi, dan menanam pohon. Adaptasi dapat diwujudkan lewat perawatan drainase, sumur resapan, konservasi air, perlindungan kawasan resapan, dan kesiapsiagaan menghadapi bencana hidrometeorologi.
Akumulasi tindakan individu, keluarga, dan komunitas yang konsisten akan menurunkan emisi, memperbaiki kualitas lingkungan, dan memperkuat ketahanan wilayah. Pengendalian perubahan iklim pada akhirnya harus menjadi gerakan bersama. Perubahan besar dimulai dari tindakan kecil yang dilakukan konsisten dan kolektif demi Indonesia yang tangguh dan berkelanjutan. (*)
There is no ads to display, Please add some