beritabernas.com – AM Putut Prabantoro, Konsultan Komunikasi Strategis, menegaskan bahwa kepercayaan masyarakat terhadap Polri hanya datang bila Tri Brata dan Catur Prasetya dilaksanakan tanpa tawar menawar. Dalam Tri Brata, center of gravity (pusat kekuatan) sekaligus sumber kepercayaan masyaraka terhadap Polri ada pada nomor 2 dan dalam Catur Prasetya ada pada nomor 3.
Dalam acara Penyamaan Persepsi Dewan Penguji dan Pembimbing Tugas Akhir Manuskrip Pasis Akpol 57/Batalyon Adhi Wiratama di Auditorium Paramartha Akpol, Semarang, Senin 20 Oktober 2025, yang juga dihadiri Gubernur Akademi Kepolisian RI (Akpol) Irjen Pol Midi Siswoko SIK ini, AM Putut Prabantoro yang membawakan materi tentang Redefining dan Manajemen Media membuka paparannya dengan menggunakan kata-kata bijak tentang kebenaran yang diibaratkan seperti singa yang tidak perlu dibela.
- Kapolda Kaltara Irjen Pol Hary Sudwijanto Mengukir Banyak Prestasi di Tengah Tantangan Perbatasan
- Kapolda Kaltara Irjen Pol Hary Sudwijanto Menyelamatkan Generasi dari Ancaman Narkoba
- Disertasi Mengkaji Masalah “Klitih” di DIY, Kapolsek Medan Raih Gelar Doktor di FH UII
- Perlu Model Penanganan Terpadu Kejahatan Jalanan Klitih di DIY yang Berbasis Kolaborasi Multisektoral
Dikatakan, kebenaran akan membela dirinya sendiri. Dalam konteks tersebut, kebenaran akan mewujudkan kepercayaan, kepercayaan akan menghasilkan citra dan berujung pada apresiasi masyarakat terhadap polisi. “Dan itu semua, perlu dikomunikasikan,” kata pensiunan wartawan Harian Kompas ini.
Menurut Putut, seragam, asesories, simbol kepolisian, perilaku aparat, wewenang & kekuasaan, kepastian & penegakan hukum, kinerja polisi serta komitmen dan slogan merupakan faktor penentu darimana kepercayaan itu berasal. “Namun hati-hati seragam, perilaku aparat dan lain-lainnya itu merupakan kekuatan tetapi sekaligus sumber masalah,” katanya.

Putut mengatakan, kebenaran yang menjadi center of gravity (pusat kekuatan) Polri terdapat dalam Tri Brata nomor 2 dan dalam Catur Prasetya nomer 3 perlu diketahui masyarakat. Yakni, “Menjunjung tinggi kebenaran, keadilan dan kemanusiaan dalam menegakkan hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945“ dan ’Menjamin kepastian berdasarkan hukum“.
Melihat dinamika kepercayaan masyarakat terhadap Polri, menurut Putut Prabantoro, intitusi penegak hukum ini perlu melakukan redefining dalam manajemen media mengingat pada saat ini komunikasi tidaklah mudah karena begitu banyak kanal yang digunakan. Selain itu, kesulitan komunikasi bertambah karena masing-masing kanal memiliki generasi sendiri dan memerlukan cara komunikasi, konten dan konteks yang berbeda dalam penyajiannya.
”Yang paling penting apapun bentuknya, sebuah media memerlukan reader, follower, subscriber. Sebaik apapun sebuah tulisan ataupun video jika tidak dibaca atau dilihat dan tidak memiliki dampak, tidak ada gunanya. Reader, follower dan subscriber adalah netizen cerdas yang mampu menghadirkan informasi sesuai kebutuhannya. Netizen ini yang menentukan bahwa sebuah informasi adalah sampah atau tidak berdasarkan persepsi, interpretasi dan perspektifnya,” ujar pendiri dan Ketua PWKI (Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia) ini.

Dijelaskan, seberapa banyak follower atau subscriber ditentukan oleh konten yang dibungkus dalam isu. Yang tidak boleh dilupakan, kehebatan & kekuatan konten, isu dan opini publik membutuhkan teknologi untuk men-delivery pesan kepada netizen. Persepsi dan perspektif netizen dapat menjadikan komen sebuah konten terlepas dari konteks. Sehingga jangan heran jika sebuah komen terlepas dari konten dan konteks sebuah informasi. Pada akhirnya yang terjadi adalah, jempol ( komen netizen) lebih tajam daripada guillotine.
Terkait bagaimana sebuah berita menjadi trending topic, Putut melihat hal itu dipengaruhi oleh isu yang diangkat. Berita boleh sama, yang membedakan adalah isu dan bentuk penyajian yang oleh Putut disebut dengan istilah bahasa. Sedangkan isu akan dikemas dengan judul yang memancing persepsi dan interpretasi dari perspektif orang yang melihat atau membacanya.
“Polri memiliki semuanya, SDM, jaringan, teknologi, hingga finansial. Itu semua modal untuk membuat konten sesuai konteks, dan terakhir dikomunikasikan lewat medsos yang ada seperti Youtube, Facebook, Instagram, TikTok, Podcast, dan sebagainya, semuanya untuk menciptakan tone positif Polri,” kata Putut Prabantoro. (phj)

