beritabernas.com – Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) UII menggelar diskusi ilmiah Kajian Turats, Implementasi Epistemologi Ulil Albab dalam Bidang Ilmu Sains dan Rekayasa di Gedung KH A Wahid Hasyim FIAI Kampus Terpadu UII, Jumat 23 Oktober 2026.
Diskusi menghadirkan dua pembicara yakni Prof Fathul Wahid ST MSc PhD, mantan Rektor UII, dan Prof Ilya Fadjar Maharika (mantan Dekan FTSP yang kini menjadi FTDI) UII, dengan moderator Dr Kurniawan Dwi Saputra Lc M.Hum, Dosen Prodi Pendidikan Agama Islam UII.
Dekan FIAI Dr Asmuni yang membuka diskusi mengapresiasi panitia yang telah mempersiapkan diskusi hingga bisa terlaksana sesuai rencana. Menurut Asmuni, diskusi keilmuan yang bersifat fundamental seperti yang dilakukan saat ini sangat penting.
Baca juga:
- FIAI UII dan Universiti Teknologi Malaysia Gelar Seminar Internasional tentang Islam dan Kesejahteraan Sosial di Era Kontemporer
- FIAI UII Gelar Seminar Tentang Urgensi Kajian Fikih Keluarga Virtual
- FIAI UII Gelar Seminar Internasional Terkait Upaya Menjembatani Tradisi Islam Klasik dengan Isu-isu Kontemporer
Menurut Asmuni, kata Turats berarti membuka lembaran-lembaran lama yang ditulis pada abad ke-1 Hijriah. Sementara istilah Ulil Albab berarti orang-orang yang mempunyai akal murni, pikiran yang jernih dan pemahaman yang mendalam. Kata ini berasal dari gabungan kata ulu (pemilik) dan al-albab atau al-lubb (intisari dari sesuatu atau akal budi yang bersih dari kotoran hawa nafsu.
Asmuni mengaku diskusi-diskusi tentang keilmuan yang sangat fundamental saat ini mengalami kemunduran, meski di beberapa perguruan tinggi lain diskusi-diskusi tentang hal ini sangat marak, volumenya sangat intens.
Padahal diskusi tentang aspek-aspek yang sifatnya fundamental sangat penting dalam kerangka pengembangan ilmu pengetahuan. “Sayangnya, kita-walau tidak menyebut UII-tidak banyak tertarik untuk berbicara hal-hal yang sifatnya fundamental. Sedangkan aspek yang struktural, yang operasional mungkin lebih digandrungi,” kata Asmuni.

Dengan mengadakan diskusi tentang aspek fundamental seperti Kajian Turats, Implementasi Epistemologi Ulil Albab dalam Bidang Ilmu Sains dan Rekayasa seperti yang dilakukan kali ini, menurut Asmuni, diharapkan dapat melahirkan intelektual penjaga gawang.
“Mudah-mudahan dari diskusi ini, lahir intelektual-intelektual penjaga yang konsisten dalam pengembangan ilmu sekaligus juga menjaganya dalam bingkai Ulil Albab,” kata Asmuni.
Asmuni mengaku di UII sudah akrab dengan istilah Ulil Albab. Namun, tetap perlu didiskusikan lebih jauh tentang arsitektur intelektual Ulil Albab. Sebab meskipun istilah ini sudah lama didiskusikan, tapi nampaknya kita belum merumuskan apa sebetulnya Ulil Albab dalam ungkapan intelektual tersebut.
“Inilah salah satu alasan mengapa diskusi ini dilaksanakan tanpa melihat berapa jumlah peserta, sebab itu tidak penting. Yang penting adalah bobot materi dan ilmu yang didiskusikan,” kata Asmuni. (phj)
There is no ads to display, Please add some