Dua Guru Besar UII Sampaikan Pidato Pengukuhan

beritabernas.com – Dua Guru Besar UII, masing-masing Prof Dr-Ing Ir Ilya Fadjar Maharika MA IAI dan Prof Dra Sri Wartni SH M.Hum PhD, menyampaikan pidato pengukuhan sebagai Guru Besar/Profesor dalam Sidang Terbuka Senat UII di Auditorium KH Abdulkahar Mudzakkir Kampus Terpadu UII, Senin 4 Maret 2024.

Prof Ilya Fadjar Maharika merupakan Profesor bidang Ilmu Arstitektur FTSP UII, sedangkan Prof Sri Wartini merupakan Profesor bidang Ilmu Hukum FH UII.

Dalam pidato pengukuhan berjudul Analisis Hukum Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim untuk Mencapai Pembangunan Berkelanjutan di Indonesia Berdasarkan Paris Agreement, Prof Sri Wartini mengatakan, berbagai bencana terjadi akibat ulah tangan manusia.

Sidang Terbuka Senat UII untuk Pidato Pengukuhan dua Guru Besar Prof Dr-Ing Ir Ilya Fadjar Maharika MA IAI dan Prof Dra Sri Wartni SH M.Hum PhD, Senin 4 Maret 2024. Foto: Humas UII

Kerusakan di bumi dan di laut merupakan bukti keserakahan manusia dalam memenuhi keinginnanya. Pembamgunan yang tidak berwawasan lingkungan yang dilakukan di berbagai negara telah menyebabkan pencemaran dan kerusakan lingkungan.

Pola pembangunan yang berpusat pada kepentingan manusia  atau antropocentris (Samuel, 2019) telah menimbulkan berbagai masalah lingkungan dan menyebabkan terjadinya pemanasan global (global warming) yang memicu terjadinya perubahan iklim (Merlissa, 2021).  Dampak negatif perubahan iklim terjadi diberbagai negara baik negara maju maupun negara berkembang. Akan tetapi negara berkembang mengalami dampak yang lebih serius dibandingkan negara maju,  misalnya saja Indonesia.

BACA JUGA:

Perubahan iklim membawa kerentanan social -ekonomi baru ke dalam kehidupan dan mata pencaharian manusia, yang dirasakan dalam produksi pertanian, kesehatan manusia, akses terhadap air minum dan ancaman terhadap habitat masyarakat pesisir. Misalnya saja, di  bidang pertanian, pola curah hujan yang tidak dapat diprediksi mengganggu kestabilan musim tanam dan panen. Banjir dan kekeringan membatasi akses masyarakat terhadap air bersih yang layak dikonsumsi.

Naiknya permukkaan air laut  membahayakan masyarakat pesisir dan kepulauan.  Bahkan yang lebih tragis adalah orang-orang yang tinggal di kepulauan kecil seperti di Maldive, Marshall Island dan Tuvalu, karena naiknya permukaan air laut akibat perubahan iklim dapat menenggelamkan pulau-pulau kecil tersebut, sehingga mereka kehilangan tempat tinggalnya (Mariya, 2021).

Menurut Prof Sri Wartini, pemanasan global sangat dipengaruhi oleh meningkatnya emisi gas rumah kaca seperti karbon dioksida, metana, nitrogen oksida dan sejumlah gas industri. Pemanasan suhu bumi atau yang sering disebut efek gas rumah kaca dalam situasi yang normal bermanfaat untuk menjaga supaya suhu bumi tidak terlalu dingin pada waktu malam hari, tetapi akumulasi gas rumah kaca (GRK) yang melebihi kapasitas bumi untuk menetralisir menyebabkan kenaikan suhu bumi (Dwi Rustiono,, 2022).

Suasana Sidang Terbuka Senat UII untuk Pidato Pengukuhan dua Guru Besar Prof Dr-Ing Ir Ilya Fadjar Maharika MA IAI dan Prof Dra Sri Wartni SH M.Hum PhD, Senin 4 Maret 2024. Foto: Philipus Jehamun/ beritabernas.com

Sementara itu, perubahan iklim telah meningkatkan frekuensi kejadian La Nina dan El Nino. La Nina menimbulkan dampak berupa banjir akibat curah hujan yang tinggi, sedangkan El Nino menimbulkan dampak berupa kekeringan ekstrem akibat rendahnya curah hujan. (Bambang Irawan, 2006). Situasi dan kondisi tersebut berpengaruh terhadap produk pertanian, sehingga mengganggu persedian pangan dan akibatnya akses pangan masyarakat terganggu (Laughlin, 2022).

Selain itu, perubahan iklim juga berpengaruh terhadap sumber kekayaan hayati di laut, karena banyaknya karbon yang berada di udara yang akhirnya diserap oleh air laut, maka akan menyebabkan air laut menjadi lebih asam, sehingga berdampak negatif terhadap terumbu karang sebagai habitat ikan (Richard  & Annie, 2016).

Akibat asamnya air laut terjadilah pemutihan (bleaching)  terumbu karang,  dan dalam jangka panjang terumbu karang akan mati. Sebagai contoh, matinya sebagian besar terumbu karang di Great Barrier Reef Australia akibat keasaman air laut (Kurdis, 2016). Kerusakan terumbu karang dan keasaman air laut meningkat akan mengakibatkan menurunnya populasi ikan sebagai sumber nutrisi dan devisa negara. (lip)


There is no ads to display, Please add some

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *