Indonesia vs Jepang, Skor 0-2

 Oleh: Dr KRMT Roy Suryo 

beritabernas.com- Oops, hati-hati, jangan asal baca (dan memforward) judul-nya saja sebagaimana banyak kebiasaan sebagian netizen yang tidak mau baca dan saring dulu sebelum sharing. Sebab, bisa salah dan dikira hasil 0-2 itu adalah ramalan skor akhir skuad Indonesia U-23 vs Jepang U-23. Bukan.

Karena pertemuan sepakbola tersebut sudah tidak mungkin terjadi setelah Indonesia kalah vs VAR, eh, Uzbekistan U-23 0-2 pada Senin 29 April 2024 malam. Setelah itu, Jepang U-23 menang 2-0 melawan Irak U-23 kebetulan dengan skor yang sama. Sehingga Garuda Muda besok harus menghadapi Irak U-23 untuk memperebutkan tempat ketiga jika ingin langsung lolos ke Olimpiade Paris 2024 (meski jika kalah masih ada kesempatan juga, namun harus memenangkan pertandingan vs Guinea U-23).

Jadi kalau skor 0-2 dengan Jepang jadinya apa? Ini adalah “skor” nilai investasi yang rencananya ditanam oleh Microsoft di Indonesia, yakni kita kalah berbanding dua kali, dimana di sini rencananya akan menanamkan investasi sebesar Rp 27,6 triliun sedangkan di Jepang sebesar Rp46,3 triliun.

Bagaimana pun ini harus disyukuri karena kalau dibandingkan dengan Vietnam, investasi Apple di sana senilai Rp 255 triliun, sedangkan di Indonesia cuma Rp 1,6 trilun. Kalau diibaratkan main bola juga, kita kalah 0-160, alias sama saja kebobolan tiap setengah menit sekali. Sungguh ironis. Baru ditaruh di tengah lapangan sudah gol lagi, gol lagi, demikian seterusnya.

Jadi kita beruntung CEO Microsoft Satya Nadella tidak “se-afgan” CEO Apple Tim Cook (ini istilah yang lazim dipakai di dunia online market, yang artinya ‘sangat tega/ sadis’), dimana kalau diperbandingkan dengan Vietnam yang akan membangun puluhan manufaktur di sana, sementara di sini Apple hanya akan membangun semacam kursus atau lembaga pendidikan training saja. Padahal pengguna ponsel di Indonesia mencapai 353,3 juta jiwa dari 278,7 juta penduduk, alias jauh lebih banyak ponselnya dan sebagian di antaranya adalah iPhone dan iPAD dari Apple.

KRMT Roy Suryo. Foto: tangkapan layar video

Dalam konferensi pers pasca diterima dengan karpet merah di Istana, Satya Nadella didampingi Menkominfo yang berlatarbelakang relawan ProJo, menyampaikan bahwa rencana investasinya di Indonesia akan difokuskan pada 2 hal utama yakni pengembangan AI (Artificial Intelligence) dan pembuatan Cloud-Server.

Ini menarik, karena AI memang sudah menjadi keniscayaan kehidupan bermasyarakat sekarang, terutama di era Society 5.0 pasca era Industry 4.0. Di era yang awalnya mulai diinisiasi di Jepang tersebut, kehidupan manusia tidak akan lepas dari AI, Robot & IoT (Internet of Thing). Era disrupsi teknologi sudah dimulai, siap tidak siap, Indonesia memang harus menjalaninya.

Dalam dunia penyiaran saat ini saja setidaknya masyarakat sudah terbiasa dengan nama-nama seperti Anya, Devano, Nadira, Sasya, Jhoni dan kawan-kawan) selaku “presenter AI dari salah satu TV swasta” yang sudah mulai menjadi “tayangan sehari-hari” masyarakat, meski sampai saat ini AI atau robot masih dikatakan “belum memiliki emosi”.

Namun sedikit banyak sudah muncul konsep Humanoid (gabungan manusia dan robot, dimulai dengan era Cyborg) yang sedikit demi sedikit bisa menggunakan Algoritma bernuansa emosional tersebut. Sehingga kalau dulu AI atau robot ini masih terlihat “letterlijk” alias kaku bahkan bulky sesuai dengan apa-apa program yang diisikan ke dalamnya, di masa mendatang mereka sudah akan benar-benar bisa belajar jauh lebih humanis dibandingkan dengan AI atau robot-robot zaman awal terdahulu. 

Secara praktis kini penggunaan ChatGPT sebagai alat bantu (yang utama, seperti Sirekap) sudah mulai banyak digunakan juga oleh berbagai kalangan termasuk wartawan dan dunia kampus, sehingga menimbulkan kekhawatiran akan orisinalitas karya tulis yang selama ini misalnya bisa dicek dengan “nilai turmitin”, kini harus lebih ketat lagi diperiksa agar tidak marak plagiarisme alias copas sana sini kalau di media-yang cukup meresahkan bagi kaum yang masih mengedepankan orisinalitas dan integritas.

BACA JUGA:

Memang ini termasuk konsekuensi dari mudahnya penggunaan teknologi, namun setidaknya manusia harus tetap memiliki hati nurani dan etika dalam implementasinya agar tidak disebut manusia nir etika.

Sedangkan rencana Microsoft untuk investasi Cloud-Server di Indonesia memang sangat penting, dimana saat Pemilu 2024 kita disajikan kebohongan yang sangat (maaf) telanjang oleh para komisioner KPU, apalagi ketuanya HA, yang berani menyampaikan secara terbuka dalam konferensi pers depan publik bahwa data-data Sirekap tidak disimpan di luar negeri, namun faktanya dalam sidang di KIP (Komisi Informasi Publik), mereka akhirnya mengakui setelah ditunjukkan bukti-bukti sahih bahwa data-data krusial pribadi milik rakyat tersebut telah disimpan di Cloud Aliyun Computing, Alibaba Singapore. Sungguh sebuah kebohongan publik yang sangat tidak malu dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab berkedok KPU.

Demikian juga saat mulai diramaikan di media, setelah sempat menolak mengaku meski bukti-bukti IP address yang menunjukkan lokasi Alibaba tersebu ditayangkan di berbagai media, KPU bagaikan maling di tengah malam buta diam-diam memindahkannya ke Indonesia untuk menghindari sanksi hukum akibat dilanggarnya UU Nomor 27/2022 tentang PDP (Perlindungan Data Pribadi) dan secara gercep berusaha menghapus semua jejak-jejak digitalnya.

Beruntung para pakar IT independen, termasuk dari APDI (Aliansi Penegak Demokrasi Indonesia), sudah menyimpan semua bukti ScreenShot dan Capturenya yang kelak akan bisa dipergunakan untuk kepentingan selanjutnya bila kondisi hukum Indonesia sudah sehat, tidak sakit parah seperti sekarang.

Oleh karena itu meski kita masih kalah 0-2 dibanding Jepang dalam investasi Microsoft, secara fair saya tetap mengapresiasi perusahaan yang awalnya didirikan oleh William Henry Gates III atau lebih dikenal dengan nama Bill Gates bersama Paul Allen, 49 tahun silam atau tepatnya 4 April 1975 tersebut.

Microsoft juga sudah sangat membantu mempercepat akselerasi pemanfaatan teknologi informasi bagi manusia di seantero dunia dengan PC berbasis MS-DOS (Microsoft Disk Operating System) IBM-PC, bersanding dengan Steve Jobs, Steve Wozniak dan Ronald Wayne pada April 1976 yg berbasis Apple Computer.

Meski masih banyak sistem operasi lain yang juga dikembangkan, namun de facto antara Microsoft dan Apple ini head-to-head persaingannya sangat menarik dan mencerdaskan, apalagi setelah Microsoft juga menggunakan GUI (Graphical User Interface) yang sangat memudahkan masyarakat menggunakannya.

At last but not least, sekali lagi pemanfaatan teknologi adalah cara masyarakat memahami dan mensyukuri nikmat dari Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT, termasuk bagaimana membagi pekerjaan serius di otak bagian kiri dan ketrampilan kreatif di otak bagian kanan asal tidak justru dimanfaatkan untuk kecurangan apalagi kejahatan sebagaimana jelas-jelas ditunjukkan dalam Pemilu 2024 namun hanya sayang belum bisa dibuktikan karena ke-5 Hakim MK masih ragu dan bimbang alias tertutup mata hatinya.

Apple, Microsoft dan investor-investor yang akan masuk Indonesia lainnya hanyalah alat alias perangkat, semua tergantung manusia yang akan bisa mengambil manfaat, asal tidak malah digunakan untuk berbuat jahat. (Dr KRMT Roy Suryo, Pemerhati Telematika, Multimedia, AI & OCB Independen)


There is no ads to display, Please add some

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *