Ini Cara MI Muhammadiyah Botoputih Mengajarkan Toleransi kepada Siswa Sejak Dini

beritabernas.com – Hari Senin 26 Juni 2023 merupakan hari yang istimewa bagi siswa kelas 4 MI Muhammadiyah Botoputih. Betapa tidak, pada hari itu mereka mengunjungi rumah-rumah ibadah berbagai agama sebagai salah satu bentuk mengajarkan toleransi sejak dini.

Kegiatan yang disebut Wisata Rumah Ibadah itu untuk mengenalkan Kelas 4 MI Muhammadiyah Botoputih tentang keberagaman. Kegiatan ini berlangsung di 5 rumah ibadah yakni di Masjid An-Nur Gendon, Kleneteng Konglibio Cahaya Sakti, Gereja St Petrus & Paulus, Gereja Pantekosta dan Vihara Dharma Surya Kaloran. Kunjungan ke rumah-rumah ibadah berbagai ini juga menghadirkan Clarisa Cindy dan Maura Griselda, perwakilan dari Komunitas Srawung Lintas Agama.

Muhammad Khoiril Azmi, selaku wali kelas 4 MI Muhammadiyah Botoputih mengatakan kegiatan ini bertujuan untuk mengenalkan makna moderasi dan toleransi dalam beragama sejak dini. “Kegiatan ini bertujuan untuk saling mengenal dan memahami perbedaan serta mempererat makna moderasi dan toleransi beragama,” kata Muhammad Khoiril Azmi dalam rilis yang diterima beritabernas.com, Selasa 27 Juni 2023.

Siswa/i Kelas 4 MI Muhammadiyah Botoputih saat berkunjung ke Gereja St Petrus & Paulus. Foto: Istimewa

Ia berharap dari kegiatan ini siswa bisa menjadi lebih produktif. “Tentu harapan saya selaku wali kelas 4 agar ke depan siswa siswi bisa menjadi lebih produktif serta menjadi agen dalam perdamaian,” harap Azmi.

Dengan penuh semangat, 20 anak berjalan beriringan menuju Masjid An-Nur Gendon yang letaknya tidak jauh dari MI Muhammadiyah Botoputih. Kegiatan dimulai dengan shalat duha berjamaah. Seusai shalat, Raida Velayati selaku pendamping kegiatan wisata rumah religi ini menjelaskan nilai-nilai masjid sebagai tempat ibadah bagi umat Islam. Sekitar20-30 menit bincang-bincang dan tanya jawab seputar masjid dengan Raida selesai.

Kunjungan pun dilanjutkan ke 4 tempat ibadah yaitu Klenteng, Gereja Katolik, Gereja Kristen Pantekosta dan Vihara. Karena letak 4 tempat ibadah tersebut cukup jauh, sehingga anak-anak menggunakan mobil untuk menuju ke sana. Tujuan pertama yaitu mengunjungi Klenteng. Kurang lebih perjalanan 30 menit sampail di Klenteng Konglibio Cahaya Sakti yang terletak di Jampiroso Temanggung.

Siswa/i Kelas 4 MI Muhammadiyah Botoputih saat berkunjung ke Gereja Kristen Pantekosta. Foto: Istimewa

Mereka disambut langsung oleh Ketua Klenteng. Sekitar 30 menit mereka diajak berkeliling di area Klenteng. Di sana anak-anak mendapat penjelasan tentang nama bangunan yang ada di Klenteng dan istilah-istilah dalam Klenteng.

“Anak-anak mendapatkan penjelasan seputar sejarah berdirinya Klenteng, peribadatan yang ada di Klenteng. Dijelaskan juga bahwa Klenteng tersebut menganut aliran Tridharma, yang mencakup tiga agama yaitu Budha, Konghuchu dan agama Tao. Anak-anak sangat antusias mengikuti penjelasan dari Ketua Klenteng. Ini menjadi pengalaman pertama anak-anak  belajar langsung di Klenteng,” kata Azmi.

Kemudian dilanjutkan kunjungan ke Gereja Katolik St Petrus & Paulus. Maura Griselda dan Clarissa Cindy menyambut kedatangan para siswa. Di dalam gereja, Maura menjelaskan tatacara beribadat di dalam gereja, seperti misalnya dimulai dengan mencelupkan air suci yang berada di samping pintu gereja.

BACA JUGA:

“Itu simbol baptis dicurahi air. Maknanya orang diingatkan memasuki rumah ibadah penyucian diri. Kalau muslim kan wudhu, temen-temen Hindhu juga diperciki air (maknanya) kurang lebih sama,” jelas Maura.

Ibu Maya, Sekretaris Paroki Gereja St Petrus & Paulus, menjelaskan tatacara ibadat umat Katolik. Ia juga menjelaskan mengenai alat musik dan desain bangunan gereja. Ibu Maya juga berbagi cerita mengenai sejarah Gereja St Petrus & Paulus. Salah satu peserta, Keyla yang mengaku senang dengan kegiatan wisata ini, kagum saat melihat bagian interior Gereja St. Petrus & Paulus.

Kegiatan dilanjutkan ke Gereja Kristen Pantekosta. Saat berada di Gereja Kristen Pantekosta, para siswa disambut pendeta dan beberapa pengurus gereja. Para siswa diberitahu tatacara beribadah umat Kristen dan sejarah Gereja Pantekosta yang juga bangunan bersejarah. Berkeliling sekitar gereja, dengan penjelesan-penjelasan mengenai ruang-ruang yang ada di Gereja tersebut.

Usai berkunjung di Gereja Pantekosta, para siswa kemudian diajak mengunjungi Vihara Dharma Surya yang berada di Janggleng, Tlogowungu, Kaloran, Temanggung. Di Vihara, mereka disambut oleh Yamno, Ketua Vihara dan mempersilakan anak-anak untuk masuk ke area Vihara.

Siswa/i Kelas 4 MI Muhammadiyah Botoputih foto bersama saat melakukan kunjungan ke tempat-tempat ibadah. Foto: Istimewa

Dimulai dengan memperkenalkan agama Budha, anak-anak pun melakukan tanya jawab seputar tradisi dan sejarah Vihara. Kurang lebih 45 menit anak-anak melakukan tanya jawab dan diakhir sesi anak-anak mendapat penguatan dari Ketua Wihara Dharma Surya Yamno sebelum kembali ke sekolah.

Pesan dari Yamno bahwa kita sebagai warga Indonesia harus selalu menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan, tidak menonjolkan agama satu dengan lainnya. “Kita semua sama, hidup saling berdampingan dan harus saling membantu tanpa membedakan agama. Junjung tinggi-tinggi nilai toleransi,” kata Yamno seraya berpesan kepada anak-anak agar selalu rajin belajar, hormati guru dan hormati orangtua.

Menurut Muhammad Khoiril Azmi, di kelas 4, dalam kurikuluma ada tentang keberagaman. Tapi itu text book. “Kami ingin mereka mengalami pembelajaran secara aktif melalui pengalaman. Toleransi itu memang harus diajarkan sedari dini,” tandas Azmi sebagai closing statement. (lip)


There is no ads to display, Please add some

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *