beritabernas.com – Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) memperkuat kolaborasi dengan Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah untuk memperluas gerakan pemulihan lingkungan. Kerja sama ini diarahkan tidak hanya pada pengelolaan sampah, tetapi juga pada penguatan kesadaran dan perubahan perilaku masyarakat melalui gerakan tobat ekologis.
Komitmen tersebut mengemuka dalam kunjungan Menteri Lingkungan Hidup/Kepala BPLH, Mohammad Jumhur Hidayat, ke Kantor PP Muhammadiyah di Yogyakarta, Jumat 30 Oktober 2026. Menteri didampingi Sekretaris Utama KLH/BPLH Rosa Vivien Ratnawati dan jajaran pejabat eselon I KLH/BPLH. Turut hadir Kepala Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup (Pusdal LH) Jawa, Eduward Hutapea.
Rombongan diterima Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof Dr H. Haedar Nashir MSi didampingi Sekretaris PP Muhammadiyah M Sayuti MPd M.Ed PhD dan jajaran pengurus PP Muhammadiyah.
Dalam pertemuan tersebut, Jumhur menyampaikan bahwa sejumlah bentuk kerja sama KLH/BPLH dengan Muhammadiyah sebenarnya telah berjalan pada tingkat operasional. Di antaranya kolaborasi pengelolaan sampah dengan sejumlah perguruan tinggi Muhammadiyah serta kegiatan peningkatan kapasitas yang terus dikembangkan.

Menurut Jumhur, pertemuan ini sekaligus menjadi momentum untuk memperluas kolaborasi melalui gerakan pemulihan lingkungan yang salah satunya diwujudkan dalam gerakan tobat ekologis.
Ia menjelaskan, tobat ekologis memiliki dimensi yang luas. Selain berkaitan dengan perubahan perilaku dan kesadaran masyarakat, gerakan ini juga menyentuh aspek moral, agama, ilmu pengetahuan, serta penegakan hukum.
“Kita sedang mendorong satu gerakan yang memerlukan kebersamaan, yaitu gerakan pemulihan lingkungan atau yang kita sebut tobat ekologis. Ada langkah-langkah yang bisa dikolaborasikan, karena di dalam tobat ekologis terdapat aspek moral, religi, kesadaran, dan juga aspek penelitian serta hukum,” ujar Jumhur.
Ia menilai, jangkauan organisasi Muhammadiyah yang luas, ditopang jaringan pendidikan, sosial, dan keagamaan hingga berbagai daerah, dapat memperkuat efektivitas gerakan pemulihan lingkungan. Kolaborasi ke depan diharapkan berkembang di berbagai wilayah, termasuk Jakarta dan Bandung, sebelum diperluas secara nasional.
Sekretarsi PP Mumammadiah, Muhamammad Sayuti, menyambut baik penguatan kerja sama tersebut. Menurutnya, kolaborasi KLH/BPLH dan Muhammadiyah merupakan kelanjutan dari berbagai kegiatan yang telah berjalan bersama organisasi otonom ‘Aisyiyah, perguruan tinggi Muhammadiyah, serta komunitas di sejumlah daerah.
Baca juga:
- Pulihkan Pesisir Sayung, Pusdal LH Jawa Bekali Warga Teknik Budidaya Kepiting Bakau
- Kualitas Air Sungai Brantas Menurun, Rakernis Pusdal LH Jawa Bahas Penanganan Terpadu
Kepada awak media, Sayuti, menegaskan, Muhammadiyah memiliki komitmen untuk mengambil bagian dalam upaya menjaga alam dan menyelesaikan persoalan lingkungan. Menurutnya, persoalan sampah telah menjadi tantangan di berbagai wilayah Indonesia sehingga diperlukan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
Ia juga menyinggung praktik baik pengelolaan sampah berbasis masjid Muhammadiyah, termasuk kiprah pegiat lingkungan Ananto Isworo yang memperoleh pengakuan melalui Kalpataru 2026. Praktik tersebut menunjukkan bahwa masjid dapat menjadi pusat pembelajaran sekaligus penggerak perilaku ramah lingkungan.
“Menjaga alam merupakan bagian dari nilai yang sudah tertanam dalam ajaran Islam. Kebersihan juga menjadi bagian penting dari keimanan. Karena itu, kami ingin bersama-sama dengan KLH dan pemerintah menjadi bagian dari solusi atas persoalan sampah yang dihadapi Indonesia,” ungkap Sayuti.

Ia berharap komitmen bersama tersebut tidak berhenti pada pertemuan, tetapi diwujudkan melalui program konkret dan berkelanjutan. Muhammadiyah, dengan jaringan organisasi dan lembaga yang dimiliki, membuka ruang kolaborasi lebih luas untuk memperkuat gerakan lingkungan.
Memperluas gerakan hingga akar rumput
Kolaborasi KLH/BPLH dan Muhammadiyah memiliki peluang strategis karena mempertemukan kapasitas pemerintah dalam kebijakan dan pengendalian lingkungan dengan kekuatan masyarakat sipil melalui jaringan pendidikan, dakwah, masjid, dan pemberdayaan masyarakat.
Pengelolaan sampah di lingkungan kampus dan masjid dapat menjadi pintu masuk untuk membangun perubahan perilaku dari lingkup komunitas. Sementara itu, gerakan tobat ekologis diharapkan memperkuat kesadaran bahwa menjaga lingkungan bukan semata-mata kewajiban administratif, melainkan tanggung jawab moral dan keagamaan.
Pertemuan ini menjadi bagian dari upaya memperluas kemitraan pemerintah dan organisasi masyarakat dalam menghadapi persoalan lingkungan. Tantangannya adalah memastikan kesepakatan dan komitmen bersama diterjemahkan menjadi aksi nyata, terukur, serta berkelanjutan di tengah masyarakat. (Yus Ade/ Danang, Pusdal LH Jawa)
There is no ads to display, Please add some