beritabernas.com – Gelora literasi benar-benar membuncah dalam Puncak Festival Literasi Nasional (FLN) 2026 yang digelar Komunitas Yuk Menulis (KYM) di Karanglo Sukoharjo Yapah, Sleman, Minggu 10 Mei 2026. Ratusan pegiat literasi dari berbagai daerah di Indonesia berkumpul dalam satu panggung kreativitas, melahirkan suasana meriah, haru, sekaligus penuh inspirasi melalui launching puluhan buku karya anak bangsa.
Sebanyak 39 penulis tampil dalam launching buku yang menjadi salah satu agenda paling menyita perhatian dalam festival tersebut. Mereka datang dari berbagai latar belakang profesi, mulai dari guru, kepala sekolah, motivator, pegiat budaya, atlet catur, orang tua atlet, hingga fotografer profesional. Seluruhnya dipersatukan oleh satu semangat: menulis dan berkarya untuk negeri.
Guru MTsN 3 Bantul, Sutanto, menjadi salah satu sosok yang mencuri perhatian. Dalam kesempatan itu ia melaunching dua buku sekaligus, yakni buku puisi solo Untaian Kata Hati yang mendapat pengantar dari motivator nasional asal Magelang, Fuzna Marzuqoh, serta buku antologi pantun Rima Penuntun Jiwa.
Baca juga:
Menariknya, buku Rima Penuntun Jiwa tidak hanya ditulis kalangan penulis biasa. Sejumlah tokoh penting dunia catur turut ambil bagian, mulai dari pengurus PB Percasi, Pengda Percasi DIY, hingga ketua Pengkab dan Pengkot Percasi dari berbagai daerah. Kehadiran para pecinta catur, atlet, orang tua atlet, dan guru membuat buku tersebut tampil unik dan penuh warna. “Rasanya puas dan bahagia bisa ikut launching buku bersama para penulis hebat se-Indonesia,” ujar Sutanto penuh semangat.
Atmosfer emosional juga terasa saat Guru SMKN 6 Sukoharjo, Santosa, melaunching buku Ibu dan Cahaya. Antologi puisi karya guru dan siswa itu mengangkat tema kasih ibu dengan gaya bahasa yang beragam, mulai dari metafora hingga ungkapan polos khas remaja. “Sebuah acara yang luar biasa. Para pegiat literasi dari berbagai daerah bisa bercengkrama dan saling menguatkan semangat berkarya,” ungkap Santosa.
Sementara itu, Kepala SD Negeri Krajan Bantul, Desi Kusumawati, melaunching buku Antologi Cerpen Anak-Anak Hebat. Buku tersebut memuat kisah-kisah teladan dengan tokoh anak yang jujur, tangguh, sederhana, dan pantang menyerah. “Event ini membuat rasa haru bercampur bangga. Api semangat literasi di dalam sanubari semakin menyala,” tutur Desi.
Dari Gresik, Kepala Madrasah Anisatul Ashfiiyah hadir dengan buku Aksara Cinta Ramadan. Buku itu menjadi refleksi spiritual tentang keindahan Ramadan melalui puisi dan dzikir yang menyentuh hati.
“Mengikuti program ini mampu membangkitkan siswa agar gemar menulis dan menghidupkan literasi madrasah,” katanya.

Nuansa haru semakin terasa ketika Susi Setyowati melaunching buku 84 Pesan Baikku. Buku berisi 84 quotes tersebut dipersembahkan khusus untuk sang ayah yang akan berulang tahun ke-84.
“Harapan saya, ayah segera sembuh dan bisa membaca lagi,” ucapnya lirih.
Tak kalah memikat, duet guru MTs YAPI Pakem, Hartutik Sulistyo Wati dan Rianti Agustini, melaunching buku Jejak Rasa di Tanah Sleman. Antologi itu menggambarkan keindahan alam, budaya, dan keteduhan Sleman melalui bahasa puitis yang sarat makna. “Kegiatan ini sangat berharga dan menginspirasi. Kami semakin termotivasi untuk terus berkarya,” ujar keduanya kompak.
Yang menarik, ajang launching buku ini juga diikuti fotografer profesional Yogyakarta, Taufiq S. Ia turut ambil bagian dalam antologi pantun Rima Penuntun Jiwa bersama para tokoh catur dan orang tua atlet.
“Pesertanya luar biasa banyak dari berbagai provinsi. Ini menunjukkan animo menulis masyarakat sangat tinggi,” katanya.
Festival Literasi Nasional KYM 2026 tak sekadar menjadi ajang launching buku. Lebih dari itu, acara ini menjadi panggung kebangkitan literasi nasional yang mempertemukan gagasan, semangat, dan mimpi para penulis dari seluruh penjuru Indonesia. Di tengah derasnya era digital, semangat menulis ternyata tetap menyala, bahkan semakin berkobar. (phj)
There is no ads to display, Please add some