Rektor UII Fathul Wahid: Kampus Bukan Hanya Tempat Mengasah Logika tapi Ruang Merawat Rasa

beritabernas.com – Rektor UII Prof Fathul Wahid ST MSc PhD mengatakan, Festival Seni Pertunjukan Islami yang diadakan rutin setiap tahun di UII sangat terkait dengan 3 hal penting. Pertama, tentang visi dan misi.

Dalam visi dan misi UII, menurut Prof Fathul Wahid, seni dan budaya bukan pelengkap namun sebagai bagian penting dari pembentukan manusia yang utuh. Meski harus diakui, frasa “seni dan budaya” kadang belum mendapatkan perhatian sebesar bidang-bidang lain.

“Festival ini menjadi pengingat bahwa kampus tidak hanya tempat mengasah logika, tetapi juga ruang merawat rasa, imajinasi dan ekspresi kemanusiaan,” kata Rektor UII Fathul Wahid saat membuka Festival Seni Pertunjukan Islami 2026 yang diadakan di Auditorium Prof KH Abdul Kahar Muzakkir Kampus Terpadu UII, Selasa 12 Mei 2026.

Festival Seni Pertunjukan Islami 2026 ini menampilkan 11 kelompok yakni dari Fakultas Teknologi Industri, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas Ilmu Agama Islam, Yayasan Badan Wakaf, Rektorat UII Fakultas Ilmu Sosial Budaya, Fakultas Psikologi, Fakultas Bisnis dan Ekonomika, Fakultas Kedokteran, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan dan Fakultas Hukum.

Rektor UII Prof Fathul Wahid saat menyampaikan sambutan sekaligus membuka Festival Seni Pertunjukan Islami 2026 yang diadakan di Auditorium Prof KH Abdul Kahar Muzakkir Kampus Terpadu UII, Selasa 12 Mei 2026. Foto: Philipus Jehamun/ beritabernas.com

Menurut Rektor UII Fathul Wahid, hal kedua yang terkait dengan festival ini adalah tentang kolaborasi. Dikatakan, festival ini menarik karena setiap tim penampil menghadirkan unsur pimpinan, dosen dan tenaga kependidikan.

Fathul Wahid mengatakan, hal ini bukan sekadar syarat teknis, tetapi ruang perjumpaan yang sehat. Seni mencairkan hubungan yang formal, mendekatkan jarak psikologis dan menghadirkan kebersamaan dalam suasana yang lebih hangat dan setara.

“Kampus yang sehat bukan hanya kuat secara akademik, tetapi juga kuat dalam relasi antarmanusianya,” tegas Fathul Wahid yang sebulan lagi akan mengakhiri jabatan Rektor UII pada awal Juni 2026 karena masa jabatan keduanya berakhir.

Sedangkan hal ketiga yang terkait dengan festival ini adalah tentang inovasi. Menurut Fathul Wahid, seni memiliki hubungan erat dengan kreativitas dan pembaruan. Ilmuwan atau peneliti yang memiliki kedekatan dengan dunia seni cenderung menghasilkan riset yang lebih berkualitas dan lebih kreatif. Karena seni melatih keberanian melihat kemungkinan baru, berpikir berbeda dan keluar dari pola yang seragam.

Baca juga:

“Kampus yang ingin melahirkan inovasi tidak boleh menjauh dari seni,” kata Fathul Wahid seraya menambahkan bahwa estival ini bukan sekadar hiburan tapi bagian dari ikhtiar membangun ekosistem kampus yang lebih humanis, kreatif, dan kolaboratif.

Rangkaian kegiatan Milad ke-83

Festival Seni Pertunjukan Islami 2026 merupakan bagian dari rangkaian kegiatan memperingati Milad ke-83 UII dengan tema Harmoni untuk Jejak Lestari. Festival yang terbuka untuk seluruh dosen, tenaga kependidikan dan mahasiswa ini mengusung tema Seni sebagai Ruang Merawat Peradaban dan Masa Depan.

Menurut Dr Rizqi Anfanni Fahmi SE.I MSI, Ketua Panitia Milad ke-83 UII, melalui Festival Seni Pertunjukan Islami 2026, UII ingin menghadirkan ruang ekspresi yang mempertemukan seni dengan kesadaran sosial, spiritual dan ekologis.

Berbagai penampilan seni dari unsur dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa dan unit-unit di lingkungan UII menampilkan karya yang merepresentasikan harmoni dalam keberagaman dan semangat menjaga kehidupan. Festival ini juga akan menghadirkan penampilan spesial dari seniman dan budayawan yang membawa pesan reflektif tentang kemanusiaan, kebudayaan, dan keberlanjutan.

Menurut Rizqi Anfanni, selain pertunjukan seni, kegiatan ini juga dirancang dengan semangat keberlanjutan dalam pelaksanaannya. Panitia mendorong penggunaan material yang lebih ramah lingkungan, pengurangan sampah plastik sekali pakai, efisiensi energi dan keterlibatan peserta dalam aksi simbolik yang merepresentasikan komitmen bersama untuk merawat masa depan.

Salah satu kelompok peserta yang tampil dalam Festival Seni Pertunjukan Islami 2026 yang diadakan di Auditorium Prof KH Abdul Kahar Muzakkir Kampus Terpadu UII, Selasa 12 Mei 2026. Foto: Philipus Jehamun/ beritabernas.com

“Festival ini diharapkan tidak hanya menjadi ruang apresiasi seni, tetapi juga gerakan budaya yang menumbuhkan kesadaran kolektif tentang pentingnya hidup yang lebih harmonis dan berkelanjutan,” kata Rizqi Anfanni.

Dikatakan, rangkaian pertunjukan menampilkan karya seni dari berbagai elemen sivitas UII dan special performance dari kelompok seni dan komunitas budaya, yaitu YKHC (YogyaKarta Hadroh Clan), Hadroh IKI UII dan Mahasiswa Internasional. Kehadiran para penampil ini diharapkan dapat menghadirkan suasana festival yang inklusif, kolaboratif, dan penuh semangat kebersamaan lintas budaya.

Dosen Program Studi Ekonomi Islam UII ini mengharapkan agar festival ini menjadi ruang bersama untuk merayakan kreativitas, memperkuat solidaritas sivitas akademika sekaligus meneguhkan komitmen UII dalam membangun peradaban yang berakar pada nilai keislaman, kebudayaan dan keberlanjutan.

“Tema Harmoni untuk Jejak Lestari merupakan pandangan etis dan visioner tentang cara manusia hadir di dunia, baik sebagai individu, komunitas maupun institusi. Harmoni melambangkan kesadaran akan keterhubungan: keselarasan antara manusia dengan sesama, antara ilmu pengetahuan dengan kebijaksanaan, antara kemajuan dengan keadilan, serta antara manusia dengan alam. Dalam konteks ini, seni dipahami bukan sekadar hiburan, melainkan medium dialog, refleksi, dan perawatan nilai-nilai kemanusiaan,” kata Rizqi. (phj)





There is no ads to display, Please add some

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *