beritabernas.com – Presiden Mahasiswa Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) Diyan Dewana Jaya menggaungkan untuk menghidupkan kembali nilai-nilai perjuangan Tamansiswa dan ajaran Ki Hadjar Dewantara untuk membangkitkan ruh Tamansiswa.
Presiden Mahasiswa UST ini mengajak generasi muda Tamansiswa untuk tidak hanya mengenal Ki Hadjar Dewantara sebagai tokoh sejarah dan pendiri Tamansiswa, tetapi juga menjadikan pemikiran dan ajarannya sebagai pijakan dalam menjalani kehidupan sebagai mahasiswa.
Ajakan itu disampaikan Presiden Mahasiswa UST Diyan Dewana Jaya dalam rangkaian kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) UST di Auditorium UST. PKKMB yang diikuti 889 maahasiswa baru UST tersebut berlangsung dua hari, 23–24 September 2026.
Menurut Diyan Dewana Jaya, mahasiswa UST memiliki tanggung jawab historis yang tidak dapat dilepaskan dari perjuangan pendidikan Ki Hadjar Dewantara. Kampus bukan hanya tempat untuk memperoleh pengetahuan dan gelar akademik, tetapi juga ruang untuk membentuk manusia yang merdeka, berkarakter, kritis dan memiliki keberpihakan terhadap kehidupan masyarakat.
- Prof Pardimin: UST Memiliki Tanggungjawab Moral dan Akademik untuk Mengaktualisasikan Ajaran Ki Hadjar Dewantara
- Rektor UST Prof Pardimin PhD: Tamansiswa untuk Indonesia
- Satu Abad Tamansiswa, Rektor UST: Pemerintah Tidak Adil
- Workshop Bimbingan Tesis dan Capacity Building Digelar di Tamansiswa Cabang Jakarta
- Dies Natalis ke-70 UST, Ikasata Menyalurkan Bantuan Air Bersih ke Padukuhan yang Mengalami Kekeringan
“Kita jangan hanya menjadi mahasiswa yang kuliah, mengerjakan tugas, lalu mendapatkan ijazah. Sebagai bagian dari Tamansiswa, kita harus berani mengenalkan dan menghidupkan kembali sertamenjalankan ajaran Ki Hadjar Dewantara dalam kehidupan sehari-hari,” kata Diyan Dewana Jaya.
Ia juga mengajak mahasiswa baru untuk memahami kembali semangat Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani. Bagi Diyan, semboyan tersebut tidak seharusnya berhenti sebagai hafalan atau simbol pendidikan, melainkan harus diwujudkan melalui tindakan nyata mahasiswa di lingkungan kampus maupun masyarakat.
Mahasiswa, menurut Diyan, harus mampu menjadi manusia pembelajar yang memiliki keberanian untuk berpikir kritis, menyampaikan gagasan, membangun solidaritas dan mengambil peran dalam menjawab berbagai persoalan sosial dan pendidikan.
“Gerakan Tamansiswa jangan sampai hanya tinggal nama dan sejarah. Kita harus menghidupkan kembali ruhnya di dalam gerakan mahasiswa hari ini,” ujar Diyan.
Seruan tersebut sekaligus menjadi refleksi bagi mahasiswa baru bahwa memasuki dunia perguruan tinggi bukan sekadar memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi, tetapi juga memasuki ruang untuk membentuk karakter dan menemukan tanggung jawab sosial sebagai bagian dari masyarakat.
Diyan menegaskan bahwa mahasiswa UST perlu memiliki keberanian untuk menjadi bagian dari perubahan. Perubahan tersebut tetap harus berangkat dari nilai-nilai kebudayaan, pendidikan, kemanusiaan, dan kemerdekaan yang menjadi bagian penting dari pemikiran Ki Hadjar Dewantara.

Di tengah perkembangan zaman dan berbagai tantangan pendidikan nasional, Diyan mengajak mahasiswa baru untuk kembali menempatkan pendidikan sebagai jalan pembebasan manusia. “Jadilah mahasiswa yang berkarakter, kritis, dan berdampak. Jangan hanya bertanya apa yang bisa kita dapatkan dari kampus, tetapi tanyakan juga apa yang bisa kita berikan untuk masyarakat dan bangsa,” katanya.
Momentum PKKMB UST pada 23–24 September 2026 tersebut menjadi ruang untuk memperkenalkan kembali identitas dan nilai dasar Tamansiswa kepada generasi mahasiswa yang baru memasuki kehidupan perguruan tinggi.
Bagi Diyan, mahasiswa UST harus mampu menjadi generasi yang tidak tercerabut dari sejarahnya. Mahasiswa harus mampu membawa warisan pemikiran Ki Hadjar Dewantara ke dalam konteks zaman yang terus berubah.
Mahasiswa baru pun diajak untuk tidak hanya menjadi mahasiswa UST secara administratif, tetapi tumbuh sebagai Dewantara Muda yang mampu belajar, bergerak, dan mengabdi bagi masyarakat. Sebab, semangat Tamansiswa tidak berhenti pada masa lalu. Ia harus terus hidup melalui generasi yang berani meneruskan perjuangan pendidikan dan kemerdekaan manusia.
“Dari Tamansiswa kita belajar. Dari Ki Hadjar Dewantara kita meneladani. Dan melalui mahasiswa, semangat perjuangan itu harus terus dihidupkan,” kata Diyan. (*/phj)
There is no ads to display, Please add some