Prodi PBI UII dan JETA Gelar ICOLTEC dan JETA Conference 2026

beritabernas.com – Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (Prodi PBI) UII bersama JETA (Jogja English Teacher Association) menggelar The 4″ International Conference on Language Teaching, Technology and Culture (ICOLTEC) dan The 20″ Jogja English Teacher Association (JETA) di Ruang Teatrikal Lantai 2 Gedung Kuliah Terpadu Prof Dr Sardjito, Kampus Terpadu UII, Kamis 5 November 2026.

Konferensi ke-4 ICOLTEC dan ke-20 JETA yang dibuka oleh Ir Winda Nur Cahyo ST MT PhD A, Wakil Rektor IV bidang Kemitraan dan Komunikasi Strategis UII, selain dihadiri ratusan guru Bahasa Inggris dari berbagai sekolah di Indonesia dan menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai perguruan tinggi di luar negeri antara lain Willy Ardian Renandya dari Nanyang Technological University dan UII, Fei Victor Lim dari Nanyang Technological University, Dat Bao dari Monash University, Australia dan Anggara Jatu Kusumawati dari UII.

Andandayu Suri Ardini SS MA, Ketua Prodi Pendidikan Bahasa Inggris UII, mengatakan, konferensi yang ke-4 dengan ICOLTEC merupakan yang pertama kali digelar bekerja sama dengan Jogja English Teachers Association (JETA). JETA sendiri menggelar konferensi yang ke-20 dan merupakan salah satu asosiasi guru bahasa Inggris di Yogyakarta yang terbesar.

Wakil Rektor IV UII Winda Nur Cahyo saat membuka The 4″ International Conference on Language Teaching, Technology and Culture (ICOLTEC) dan The 20″ Jogja English Teacher Association (JETA) di Ruang Teatrikal Lantai 2 Gedung Kuliah Terpadu Prof Dr Sardjito, Kampus Terpadu UII, Kamis 5 November 2026. Foto: Philipus Jehamun/beritabernas.com

“Ini merupakan suatu kehormatan bagi kami untuk dapat bekerja sama dengan mereka. Kami ingin mengucapkan terima kasih, khusus kepada Ibu Dr Laily Amin Fajariyah sebagai ketua JETA.

Ia mengatakan kerja sama ini sudah ada dalam benaknya sejak beberapa tahun lalu karena percaya bahwa kolaborasi yang baik tidak hanya terjadi dalam jangka pendek, tapi harus mampu berkolaborasi dan tumbuh bersama dengan para guru dalam jangka panjang. Hal ini penting dilakukan jika ingin memberikan dampak yang lebih baik dan lebih besar pada pendidikan di Indonesia, atau setidaknya mulai dari Yogyakarta.

Karena, menurut Andandayu Suri Ardini, apa gunanya pengajaran inovatif jika kita menyimpannya hanya di universitas, jika laboratorium kecil tidak benar-benar belajar dari para ahli, dari para praktisi di sana, yaitu para guru? “​Jadi, ini adalah sebuah kehormatan besar bahwa JETA bersedia berkolaborasi dengan kami,” kata Andandayu Suri Ardini.

Andandayu Suri Ardini mengaku selalu ingin memiliki sinergi antara teknologi dan budaya. Karena itu, tema tahun ini adalah penggunaan integrasi AI dalam pendidikan tanpa kehilangan identitas keterlibatan manusia.

Baca juga:

​​Tema konferensi ICOLTEC 2026 ini, menurut Andandayu Suri Ardini, terinspirasi oleh beberapa pertanyaan, yakni apa seharusnya peran guru dalam lingkungan pendidikan yang didorong oleh AI? Bagaimana kita bisa membuat teknologi benar-benar mendukung pembelajaran? Bagaimana kita memastikan bahwa pendidikan tetap inklusif, bermakna dan berpusat pada manusia?

Dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut, Andandayu Suri Ardini berharap dapat membagikannya kepada seluruh peserta, akademisi, sarjana, siswa dalam acara ini, bukan untuk mendapatkan jawaban yang pasti di akhir konferensi, melainkan untuk mendapatkan lebih banyak wawasan dan membuka pintu lebih lebar untuk penelitian dan diskusi lanjutan.

Ia juga memperkenalkan nama baru program studinya, yakni bukan lagi PB UEE, tapi PB Digital Innovatif. “Menjadi digital berarti beralih dari analog ke digital, tetapi kita tidak ingin berhenti di situ. Kita juga ingin menjadi inovatif. Inovatif melampaui kata sifat, ini tentang memiliki diri sendiri, mendorong diri sendiri untuk beradaptasi, untuk bertahan, tidak hanya untuk menolak dan menentang arus AI di dunia ini, tetapi juga untuk merangkulnya, memimpinnya dan memanfaatkannya serta menguasai dunia dengannya,” kata Andandayu Suri Ardini.

Andandayu Suri Ardini SS MA, Ketua Prodi Pendidikan Bahasa Inggris UII, saat menyampaikan laporan pada acara The 4″ International Conference on Language Teaching, Technology and Culture (ICOLTEC) dan The 20″ Jogja English Teacher Association (JETA) di Ruang Teatrikal Lantai 2 Gedung Kuliah Terpadu Prof Dr Sardjito, Kampus Terpadu UII, Kamis 5 November 2026. Foto: Philipus Jehamun/beritabernas.com

Sementara Ir Winda Nur Cahyo ST MT PhD A, Wakil Rektor IV bidang Kemitraan dan Komunikasi Strategis UII, mengatakan, kemitraan didefinisikan sebagai hubungan yang terjalin erat antara institusi (seperti universitas dan asosiasi pengajar Bahasa Inggris seperti JETA) yang ditandatangani melalui dokumen resmi. Kemitraan terjadi ketika dua institusi memutuskan untuk mencapai sesuatu bersama demi kebaikan bersama, kemudian mewujudkannya melalui tindakan nyata.

Winda Nur Cahyo mengatakan, isu mengenai kecerdasan buatan (artificial intelligence), komunikasi multimodal dan humanisme dalam pembelajaran bahasa sangat menuntut perhatian. ​Ia mengatakan bahwa banyak orang merasa takut bahwa AI akan menggantikan peran manusia, padaha AI tidak memiliki keinginan atau perasaan seperti manusia, sehingga AI tidak akan menggantikan peran manusia.

“​AI tidak akan menggantikan peran manusia, tetapi orang yang menggunakan AI dapat menggantikan orang yang tidak menggunakannya. Oleh karena itu, para dosen, guru, dan profesor dihimbau untuk merangkul dan beradaptasi dengan AI,” kata Winda Nur Cahyo. (phj)


There is no ads to display, Please add some

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *