Oleh: Edelbertus Jara, Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kota Yogyakarta
beritabernas.com – Indonesia memasuki babak baru pembangunan menuju Indonesia Emas 2045. Pembangunan tersebut tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi dan kemajuan teknologi, tetapi juga pada pembangunan manusia yang berkarakter, beriman, toleran, dan bermartabat.
Dalam konteks ini, Kementerian Agama Republik Indonesia menetapkan visi dalam Rencana Strategis (Renstra) 2025–2029, yaitu Terwujudnya Masyarakat yang Rukun, Maslahat, dan Cerdas Bersama Indonesia Maju Menuju Indonesia Emas 2045.
Visi tersebut bukan sekadar slogan birokrasi, melainkan panggilan bersama bagi seluruh elemen bangsa, termasuk para penyuluh agama dan komunitas keagamaan, untuk mengambil bagian aktif dalam membangun kehidupan masyarakat yang harmonis dan sejahtera.
Tiga kata kunci dalam visi tersebut memiliki makna yang sangat mendalam. Rukun berarti menghadirkan kehidupan yang damai, harmonis dan saling menghormati dalam keberagaman agama, budaya, dan suku bangsa. Maslahat menegaskan bahwa seluruh pelayanan keagamaan harus memberi manfaat nyata bagi masyarakat. Sementara cerdas mengandung harapan lahirnya masyarakat yang memiliki pemahaman agama yang moderat, karakter yang kuat, pendidikan yang baik, dan mampu menghadapi tantangan zaman.
Dalam kerangka tersebut, peran penyuluh agama menjadi semakin strategis. Penyuluh agama bukan hanya penyampai informasi keagamaan, tetapi juga pendidik masyarakat, agen moderasi beragama, penggerak harmoni sosial sekaligus pendamping umat dalam menghadapi berbagai dinamika kehidupan.
Perkembangan teknologi digital, arus informasi yang begitu cepat, serta perubahan pola hidup masyarakat menuntut penyuluh agama untuk terus beradaptasi. Adaptasi tersebut bukan berarti meninggalkan jati diri, melainkan menemukan cara-cara baru dalam mewartakan nilai-nilai keagamaan secara kreatif, relevan, dan membumi. Nilai-nilai agama perlu dihadirkan melalui pendekatan yang dekat dengan kehidupan masyarakat, menghargai budaya lokal, memperkuat kearifan lokal, dan mampu menjawab persoalan-persoalan aktual.
Baca juga:
- Kepala Kantor Kemenag Kota Jogja: Penyuluh Agama Harus Membangun Semangat Toleransi dan Keadilan
- Penyuluh Agama Katolik dan Budha Ikuti Diskusi Tragedi Kemanusiaan Perdagangan Orang di Institut DIAN/Interfidei
- Pembinaan Iman di Rutan, Penyuluh Katolik Berkolaborasi dengan Simpul Kerahiman Ilahi Paroki Babadan
Semangat yang sama juga tampak dalam Arah Dasar IX Keuskupan Agung Semarang (KAS) Tahun 2026–2030 yang mengusung tema Menjadi Gereja yang Bahagia, Menginspirasi, dan Menyejahterakan. Tema tersebut menunjukkan bahwa Gereja tidak hanya dipanggil untuk hidup bagi dirinya sendiri, melainkan hadir sebagai sahabat masyarakat yang membawa sukacita, harapan dan kesejahteraan bersama.
Arah Dasar IX KAS menegaskan bahwa umat Allah dipanggil menjadi paguyuban murid Kristus yang berjalan bersama dalam bimbingan Roh Kudus untuk melaksanakan perutusan Yesus Kristus mewartakan Kerajaan Allah dengan memperjuangkan kehidupan yang sejahtera dan bermartabat demi terwujudnya peradaban kasih.
Semangat ini memiliki titik temu yang sangat kuat dengan visi Kementerian Agama. Ketika negara mengajak masyarakat membangun kehidupan yang rukun, maslahat dan cerdas, Gereja mengajak umat menjadi pribadi-pribadi yang bahagia, mampu menginspirasi sesama dan menghadirkan kesejahteraan bagi semua. Kedua visi tersebut saling melengkapi dan menguatkan dalam membangun Indonesia yang lebih manusiawi.
Arah Dasar IX KAS merumuskan empat langkah strategis yang sangat relevan dengan tantangan bangsa saat ini. Pertama, memperkuat pembinaan iman yang fundamental, integral, misioner dan dialogis sehingga umat memiliki iman yang matang sekaligus terbuka terhadap kehidupan bersama. Kedua, membangun masyarakat yang semakin menghargai hak asasi manusia, mengembangkan budaya dialog, dan menjaga kelestarian lingkungan hidup sebagai rumah bersama.
Ketiga, mengembangkan semangat bela rasa melalui kerja sama lintas agama dan lintas sektor demi meningkatkan kualitas hidup masyarakat, terutama saudara-saudari yang kecil, lemah, miskin, tersingkir, dan difabel (KLMTD). Keempat, mengembangkan pelayanan pastoral yang efektif, adaptif, dan memanfaatkan kemajuan teknologi digital.
Keempat arah tersebut memperlihatkan bahwa Gereja dan negara memiliki perhatian yang sama terhadap pembangunan manusia seutuhnya. Pendidikan karakter, dialog lintas agama, kepedulian sosial, perlindungan lingkungan, serta transformasi digital menjadi agenda bersama yang harus diwujudkan secara nyata.
Di sinilah penyuluh agama Katolik memiliki ruang pengabdian yang luas. Penyuluh tidak hanya menjadi pelaksana program pemerintah, tetapi juga menjadi jembatan yang mempertemukan nilai-nilai kebangsaan dengan nilai-nilai Injil. Penyuluh hadir sebagai pembawa harapan, penumbuh semangat persaudaraan, penggerak moderasi beragama, sekaligus fasilitator kolaborasi lintas iman dalam membangun masyarakat.
Ke depan, tantangan bangsa tentu tidak semakin ringan. Polarisasi sosial, penyebaran informasi yang menyesatkan, degradasi moral, krisis lingkungan, hingga kesenjangan sosial membutuhkan kehadiran tokoh-tokoh agama yang mampu menjadi penyejuk dan inspirasi. Oleh karena itu, penyuluh agama dituntut memiliki kompetensi yang terus berkembang, menguasai teknologi informasi, memiliki kemampuan komunikasi yang baik, serta tetap berakar kuat pada spiritualitas dan integritas pribadi.
Kolaborasi antara pemerintah, Gereja, organisasi keagamaan, dunia pendidikan, komunitas masyarakat, dan seluruh elemen bangsa merupakan kunci untuk mewujudkan cita-cita bersama. Membangun Indonesia yang bermartabat tidak dapat dilakukan oleh satu institusi saja. Dibutuhkan sinergi, dialog, saling percaya, dan kerja sama yang berkelanjutan.
Renstra Kementerian Agama RI 2025–2029 dan Arah Dasar IX Keuskupan Agung Semarang sesungguhnya memperlihatkan arah yang sama: membangun manusia Indonesia yang semakin beriman, semakin peduli terhadap sesama, semakin menghargai keberagaman, serta semakin mampu menghadirkan kesejahteraan bersama.
Akhirnya, harapan besar menuju Indonesia Emas 2045 hanya akan menjadi kenyataan apabila pembangunan spiritual, moral, sosial, dan kebangsaan berjalan beriringan. Sebagaimana diyakini Gereja, Allah yang memulai pekerjaan baik di tengah umat-Nya akan menyelesaikannya (bdk. Flp. 1:6). Keyakinan iman ini sekaligus menjadi optimisme bahwa melalui kerja bersama, pelayanan yang tulus dan semangat persaudaraan, bangsa Indonesia akan semakin rukun, maslahat, cerdas, bahagia, menginspirasi, dan bermartabat. (*)
There is no ads to display, Please add some