Sarasehan Rerasan Rebo Wagen FT UST, Kepala LLDikti Prof Setyabudi: Pemikiran Ki Hadjar Dewantara Selaras dengan Pendidikan Kejogjaan

beritabernas.com – Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTi) Wilayah V DIY Prof Setyabudi Indartono MM PhD mengajak mahasiswa UST untuk terus membedah pemikiran Ki Hadjar Dewantara, Pendiri Perguruan Tamansiswa yang juga Bapak Pendidikan Nasional.

Sebab, menurut Kepala LLDIKTi Wilayah V DIY Prof Setyabudi, pemikiran Ki Hadjar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional, selaras dengan Pendidikan Kejogjaan untuk membangun kehidupan Yogyakarta yang lebih baik.

Baca juga:

“Mahasiswa adalah agen perubahan dan budaya, bukan sekedar penerima pengetahuan (knowledge receiver) melainkan agent of culture, mentransformasikan kearifan lokal, dapat membangun resiliensi moral dan akselerasi inovasi, mendedikasikan sains dan teknologi untuk kemajuan Yogyakarta,” kata Prof Setyabudi Indartono dalam sarasehan Rerasan Rebo Wagen dengan tema Pendidikan Khas Jogja yang diadakan Fakultas Teknik Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (FT UST) di Ruang Ki Sarino Mangunpranoto Gedung Fakultas Ekonomi UST, Jalan Kusumanegara 157 Yogyakarta, Rabu 14 Oktober 2026.

Dalam sarasehan yang dibuka oleh Wakil Rektor I UST Dr Yuli Prihatni MPd dan dipandu oleh Ki Zainul Faiszien Haza CoEc itu, Prof Setyabudi mengutip pendapat Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X yang mengatakan bahwa jarak antara ruang kuliah dan kampung itu secara fisik mungkin hanya beberapa ratus meter. Namun secara epistemologis jarak itu bisa jadi sangat jauh.

Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTi) Wilayah V DIY Prof Setyabudi Indartono MM PhD (kiri) saat menjadi narasumber dalam sarasehan Rerasan Rebo Wagen, Rabu 14 Oktober 2026. Foto: Ki R Bambang Widodo

Artinya, iIlmu yang dipelajari di kelas, seringkali tidak singgah dahulu di kampung yang dilewati. Ia berangkat dari buku teks menuju ujian, menuju ijazah dan kadang tidak pernah benar-benar pulang ke kehidupan yang menghadapinya. Sedangkan Pendidikan Khas Kejogjaan adalah ikhtiar untuk mempersingkat jarak itu, mengajak ilmu pengetahuan untuk pulang: singgah dahulu pada nilai, sebelum bekerja di dunia.

Menurut Prof Setyabudi, tantangan Gubernur DIY adalah Jogja harus berani menjadikan dirinya “laboratorium hidup”. Kampung, pasar, sanggar, kawasan cagar budaya, hingga wilayah rawan bencana dapat menjadi ruang riset tentang Kejogjaan. Di samping itu harus berani menjawab persoalan aktual: kemiskinan, keberlanjutan ekonomi lokal, lingkungan dan kualitas kehidupan masyarakat.

Selain Prof Setyabudi yang hadir sebagai narasumber, juga hadir dalam sarasehan itu adalah Dr Silvester Goridus Sukur SS MPd. (Wakil Rektor IV UST), Dr Ir Iskandar Yasin ST MT CIPM, IPM, ASEAN.Eng (Dekan Fak Teknik UST), Dr Ambar Lukitaningsih MM, para dosen serta 150 mahasiswa Fakultas Teknik UST. (*/phj)


There is no ads to display, Please add some

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *