Oleh: Prof Ir H Sarwidi MSCE PhD IP-U ASEAN Eng APEC Eng, Guru Besar UII dalam bidang Konstruksi dan Rekayasa Kegempaan/Kebencanaan, Anggota SPMKB UII dan Pengarah BNPB RI(2009–2025
beritabernas.com – Dari peristiwa berbagai macam bencana yang pernah dialami, Indonesia termasuk supermarket ancaman bencana alam. Fakta ini saya saksikan langsung selama 16 tahun mengabdi sebagai Pengarah BNPB RI (2009–2025).
Keselamatan bukanlah hasil kebetulan, melainkan buah dari sistem K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) yang kokoh, latihan rutin, dan budaya hidup yang dijalankan setiap hari. K3 adalah sabuk pengaman bangsa. Filosofinya sederhana: perlindungan jiwa adalah prioritas mutlak. Tanpa itu, regulasi hanyalah teks tanpa makna. Tanggap darurat membutuhkan sistem terintegrasi secara nasional, dengan tujuan akhir: resiliensi.
Baca juga:
- Prof Sarwidi: Gempa Sulawesi Utara jadi Momentum Penguatan Sistem Peringatan Dini dan Mitigasi Nasional
- Ini Pelajaran dari Peristiwa Gempabumi di Bandung dan Garut Menurut Prof Sarwidi
Gempa Yogyakarta 2006 menjadi pelajaran pahit tentang lemahnya penerapan konsep rumah aman gempa yang saat itu masih jarang diterapkan di berbagai wilayah, sehingga dampak bencana menimbulkan kerusakan masif dan korban jiwa yang tinggi.
Erupsi Merapi 2010 membuktikan keberhasilan relokasi berkat koordinasi K3 yang kuat dan sensitif terhadap budaya lokal. Banjir Jakarta 2020 menegaskan bahwa APD lengkap tidak berarti jika SOP evakuasi lemah. Semua ini menekankan pentingnya alarm peringatan dini, jalur evakuasi teruji, P3K cepat, dan komunikasi krisis yang solid.
Selama bertugas di BNPB, saya menyaksikan bahwa latihan rutin adalah penentu utama keselamatan. Tanpa simulasi berkelanjutan, APD hanya menjadi kostum tanpa makna. Pelatihan K3 ibarat prosedur keamanan di pesawat: kita berharap tidak pernah digunakan, tetapi harus selalu siap ketika darurat datang tiba-tiba.
Dalam konteks akademik, Universitas Islam Indonesia melalui SPMKB UII (Simpul Pemberdayaan Masyarakat untuk Ketangguhan Bencana) memiliki peran strategis. Kampus bukan hanya ruang belajar, tetapi miniatur kesiapsiagaan nasional. Integrasi budaya K3 di lingkungan pendidikan akan mencetak generasi yang tanggap, sigap, dan selamat.

Seminar Sosialisasi dan Pelatihan K3 dalam Tanggap Darurat Bencana yang digelar pada Rabu 29 April 2026 di Gedung Teatrikal Lantai 2 Gedung Kuliah Umum Dr Sardjito UII ini merupakan bagian dari partisipasi UII dalam memperingati Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) 2026. Kegiatan ini rutin dilakukan setiap tahun sebagai wujud komitmen agar tumbuh budaya sadar bencana di masyarakat akademik dan nasional.
Seminar ini menghadirkan empat narasumber Yusuf Toto Purwoko ST M.Ling, Kepala Bidang Kedaruratan BPBD Kabupaten Sleman; Prof Sarwidi, pakar dan praktisi senior dalam rekayasa kegempaan dan kebencanaan; Dr Arif Wismadi, Direktur Direktorat Simpul Tumbuh UII; serta Dr Dwi Handayani, Direktur SPMKB UII.
Masing-masing narasumber menyampaikan paparan yang relevan dengan tema seminar, menghadirkan informasi baru sekaligus memberikan motivasi yang memperkuat kesadaran dan kesiapsiagaan peserta.
Mari bersama membangun budaya K3 yang kokoh. Bencana tidak pernah menunggu kita siap, tetapi kita memiliki kekuatan untuk menyiapkan diri. Siap-Sigap-Selamat adalah komitmen, bukan slogan. (*)
There is no ads to display, Please add some