beritabernas.com – Puluhan ribu warga bersama ratusan Abdi Dalem Keraton Yogyakarta mengikuti prosesi Lampah Budaya Mubeng Beteng atau Tapa Bisu, tradisi tahunan yang menjadi bagian penting dari peringatan malam 1 Suro, Senin 15 Juni 2026 malam. Keheningan menyelimuti kawasan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat pada malam pergantian Tahun Baru Jawa tersebut.
Sejak malam hari, kawasan Kamandungan Lor atau Keben Keraton telah dipenuhi masyarakat yang datang dari berbagai daerah. Mereka berkumpul untuk mengikuti ritual budaya yang telah diwariskan turun-temurun dan menjadi salah satu tradisi paling sakral di Yogyakarta.
Menjelang tengah malam, prosesi dimulai. Barisan Abdi Dalem mengenakan busana peranakan memimpin perjalanan mengelilingi Benteng Baluwerti Keraton sejauh sekitar lima kilometer. Di belakangnya, puluhan ribu peserta berjalan tertib dalam suasana hening.

Tidak ada percakapan, tidak ada suara riuh, bahkan peserta tidak diperkenankan makan, minum, maupun merokok sepanjang perjalanan. Keheningan itulah yang menjadi inti dari laku spiritual Tapa Bisu. Di antara para peserta yang mengikuti prosesi tersebut tampak Dr Raden Stevanus Christian Handoko S.Kom MM, Anggota DPRD DIY sekaligus Abdi Dalem Keraton Yogyakarta dengan Paringan Dalem Raden Wedono Manitrahadiwijaya.
Menurut Dr Raden Stevanus, tingginya antusiasme masyarakat menunjukkan bahwa tradisi budaya Yogyakarta tetap hidup dan relevan di tengah arus modernisasi.
“Mubeng Beteng bukan sekadar tradisi tahunan. Ini adalah warisan budaya yang mengajarkan manusia untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan, merenungkan perjalanan dirinya, serta memperkuat hubungan dengan Tuhan maupun sesama,” ujar Dr Raden Stevanus.
Baca juga:
- Ki Priyo Mustiko: Strategi Budaya Yogya Semesta Fokus Menjaga, Merawat dan Mengamalkan Keistimewaan DIY
- 20 Tahun Yogya Semesta Sebagai Gerakan Kebudayaan yang Hidup
Ia menjelaskan bahwa esensi Tapa Bisu terletak pada proses pengendalian diri dan introspeksi. Melalui keheningan, setiap peserta diajak mengevaluasi perjalanan hidup selama setahun terakhir sekaligus memanjatkan doa untuk kehidupan yang lebih baik pada tahun yang baru.
“Dalam keheningan itu kita belajar mendengar suara hati sendiri. Kita diajak merenungkan apa yang telah dilakukan, memperbaiki kekurangan, serta memohon keselamatan, kedamaian, dan keberkahan bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat, dan bangsa,” katanya.
Dr Raden Stevanus yang dikenal juga dengan nama Raden Wedono Manitrahadiwijaya menjelaskan bahwa Mubeng Beteng memiliki filosofi yang sangat mendalam. Perjalanan mengelilingi benteng Keraton melambangkan upaya manusia menjaga keseimbangan hubungan vertikal dengan Sang Pencipta sekaligus hubungan horizontal dengan sesama manusia dan alam semesta.

Menurut Raden Stevanus, tradisi ini juga menjadi simbol pembersihan diri dari berbagai sifat buruk, hawa nafsu, serta energi negatif yang dapat menghambat kehidupan. Melihat antusiasme masyarakat yang terus meningkat dari tahun ke tahun, Dr Raden Stevanus menilai Mubeng Beteng memiliki peran strategis dalam menjaga identitas budaya Yogyakarta sekaligus memperkuat daya tarik wisata budaya daerah.
“Kegiatan ini harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Mubeng Beteng bukan hanya ritual sakral, tetapi juga cerminan jati diri Yogyakarta yang mengajarkan nilai kesederhanaan, ketenangan, kebersamaan, dan kebijaksanaan hidup. Di saat dunia bergerak semakin cepat, tradisi seperti inilah yang mengingatkan kita untuk kembali mengenali diri sendiri,” tegasnya.
Prosesi berlangsung khidmat hingga dini hari sebelum seluruh peserta kembali ke kompleks Keraton. Ribuan langkah yang ditempuh dalam keheningan menjadi simbol dimulainya Tahun Baru Jawa dengan semangat introspeksi, pengendalian diri, serta harapan akan kehidupan yang lebih baik di masa mendatang. (*/phj)
There is no ads to display, Please add some