beritabernas.com – Relawan pendukung capres-cawapres nomor urut 03 Ganjar Mahfud yang tergabung dalam Patembayan Nusantara dan Teras Ganjar Yogyakarta menggelar festival budaya di Jalan Tamansiswa Yogyakarta, Minggu 14 Januari 2024.
Festival yang diisi dengan berbagai seni budaya, seperti kirab budaya, barongan tirta wijaya original, gejog lesung, orgen tunggal, flashmob, barongan tirta wijaya hingga mengadakan sablon gratis itu disambut antusias warga.
Selain ikut serta dalam berbagai seni budaya tersebut, warga kampung sekitar Jalan Tamansiswa pun menjual aneka jenis makanan dan minuman ringan di tepi jalan sepanjang Jalan Tamansiswa yang dilalui kirab maupun festival.
Pedro Indarto, Koordinator Patembayan Nusantara, yang ditemui beritabernas.com di Jalan Tamansiswa Yogyakarta, Minggu pagi, mengatakan, festival budaya Ganjar Mahfud dilakukan untuk mengubah image kampanye yang selama ini identik dengan suara motor brong. Pihaknya ingin berkampanye yang bersifat menghibur dan melibatkan seluruh komponen masyarakat, siapa pun pilihannya, agar bersama-sama menikmati suasana kampanye dengan penuh kedamaian dan persaudaraan.
Cara ini cukup berhasil ini. Hal ini terbukti banyak warga yang terlibat dalam festival, termasuk warga kampung di sepanjang Jalan Tamansiswa dengan menggelar dagangan di tepi jalan.
BACA JUGA:
- Dukungan Warga Akar Rumput untuk Ganjar Pranowo dan Mahfud MD Terus Mengalir
- Canvasing Repdem DIY Tembus Kampung Nitikan Yogyakarta
Menurut Pedro Indarto, Festival Budaya Ganjar Mahfud merupakan salah satu cara kelompok relawan yang tergabung dalam Patembayan Nusantara dan Teras Ganjar Yogyakarta untuk mengajak masyarakat memenangkan pasangan Capres-Cawapres Nomor urut 03 Ganjar Pranowo dan Mahfud MD dalam Pilpres 14 Pebruari 2024.
“Melalui gerakan kebudayaan sesuai Tri Sakti Bung Karno yakni berkepribadian dalam kebudayaan, kami melakukan festival ini untuk memenangkan Ganjar-Mahfud,” kata Pedro Indarto.
Rangkaian kegiatan diawali dengan kirab budaya yang diikuti prajurit Nyutra bersama relawan Ganjar di Nyutran, kemudian diadakan flashmod, gejog lesung, barongan semacam jathilan. Kegiatan dilakukan sampai sore hari.
“Kami tidak menggunakan war wer wor suara motor. Kami mengubah itu semua dengan festival budaya untuk menghibur dan melibatkan seluruh komponen masyarakat,” kata Pedro Indarto.
Dari pengamatan beritabernas.com, masyarakat tampak sangat antusias mengikuti festival budaya dengan ikut dalam flashmod, menyaksikan gejog lesung, mengikuti proses kirab budaya. Semenar warga kampung sekitar Jalan Tamansiswa menggelar dagangan di sepanjang tepi Jalan Tamansiswa selama festival budaya berlangsung. (lip)
There is no ads to display, Please add some