beritabernas.com – Sejak digelar pada 27 Juli 2025, jumlah anggota Komunitas Mlampah Ziarah (KMZ) terus bertambah. Bahkan belum setahun komunitas ini terbentuk sampai saat ini jumlah anggota terus bertambah mencapai 2.400 orang yang berasal dari berbagai kota di Indonesia.
Selain menjadi anggota Komunitas Mlampah Ziarah (KMZ), sebagian dari mereka juga aktif mengikuti kegiatan Walking Marathon de Sendang Sono (WMSS) yang rutin digelar setiap bulan. Setiap ada kegiatan WMSS, baik yang reguler maupun yang spesial, mereka selalu bersemangat dan antusias mendaftar. Bahkan tidak jarang, dalam hitungan jam kuota peserta WMSS terpenuhi, seperti yang terjadi pada WMSS#9 yang akan diadakan pada 15 Maret 2026. Hanya dalam waktu sekitar 6 jam, kuota 250 perserta langsung terpenuhi, sehingga sebagian merasa kecewa tidak bisa ikut WMSS#9 pada 15 Maret 2026.
Baca juga:
- WMSS#9 Catat Rekor Baru, Kuota Terpenuhi Hanya dalam Waktu Kurang dari 7 Jam
- Umat Katolik Sangat Antusias Mengikuti Mlampah Ziarah Gereja Babadan-Cangkringan
- Gua Maria Bunda Gereja Jurang Metes, Salah Satu Tujuan Favorit Komunitas Mlampah Ziarah
Lalu, apa alasan peserta selalu antusias dan bersemengat untuk ikut WMSS? Alasan dan motivasi mereka memang sangat beragam.
Frans Toegimin, salah satu anggota KMZ yang sering mengikuti WMSS maupun mlampah ziarah di tempat-tempat terdekat di DIY, menyebut anggota KMZ pada dasarnya memang para sedulur yang punya hobby jalan kaki sehingga dengan adanya kegiatan mlampah ziarah maka hobby-nya tersalurkan. Selain itu, anggota KMZ adalah para sedulur yang mempunyai kerinduan untuk berdevosi kepada Bunda Maria.

“Tidak bisa dipungkiri, KMZ yang guyup rukun memang merupakan lkomunitas yengan dengan mudah untuk membangun kekerabatan. Hubungan dengan semua sedulur yabg egaliter (guyon, canda, nyek-nyekan) bisa membuat hubungan seperti saudara sendiri. Selain itu, berjalan sendirian sowan Bunda Maria mungkin bisa cepat tetapi akan membosankan. Namun, dengan berjalan bersama sambil ngobrol akan membuat perjalanan terasa lebih pendek,” kata Frans Toegimin yang merupakan salah satu anggota KMZ yang sudah sangat senior alias lansia (lanjut usia).
Sementara Veri Bili, anggota KMZ lainnya, mengaku, para anggota KMZ begitu antusias dan bersemangat mengikuti WMSS atau mlampah ziarah karena yang dicari bukan kenyamanan tapi keheningan. Ada proses yang ditemani kawan dan alam serta masyarakat yang menyapa.
“Ada solidaritas. Ada Rosario dan Ekaristi sebagai puncak berserah dalam lelah. Ada rasa terima kasih pada relawan yang menyediakan diri. Ah mengapa harus mengungkapkan ini? Masih terlalu banyak alasan,” kata Veri Bili.
Sedangkan Aji, anggota KMZ lainnya, mengaku alasan mengikuti mlampah ziarah ke Sendang Sono sejak bulan Agustus hingga Desember 2025 karena merupakan tahun yubelium. Ia ingin mensyukuri berkat rahmat yang Tuhan berikan setiap hari, selalu ada kerinduan berdoa bersama Bunda Maria, karena Bunda Maria membawa pengharapan menyampaikan doa-doa kita kepada PutraNya.

“Sudah jelas dalam peristiwa Terang Muzijat Tuhan yang pertama kali mengubah air menjadi anggur waktu pesta di kana. Itu permintaan Bunda Maria. Ziarah jalan kaki bisa olah rohani, menguatkan iman dalam menjalani hidup ini. Selain itu, menambah saudara dari berbagai Paroki, bisa menyehatkan badan dan biaya terjangkau. Dan yang pasti terus menerus berusaha meneladan Bunda Maria tentang ketaatan imanNya, kesederhanaanNya, keibuanNya. Kami juga sadar manusia banyak dosa dan kesalahan yang sangat membutuhkan belas kasih Tuhan lewat perantaraan Bunda Maria. Itu alasan kami ikut mlampah ziarah de Sendang sono selama bulan Agustus-Desember,” kata Aji.
Dalam sharing pada mlamah ziarah di Gua Maria Bunda Gereja Jurang Metes Sedayu, Bantul, pada Minggu 22 Pebruari 2026 lalu, Lies Ratnawati, salah seorang peserta yang aktif mengikuti kegiatan mlampah ziarah, mengaku mendapatkan kebahagiaan yang luar biasa setiap mengikuti kegiatan mlampaz ziarah, termasuk WMSS.
Dalam mlampah ziarah dan Walking Marathon de Sendangsono ia benar-benar menikmati perjalanan. Di sepanjang perjalanan suara gelak tawa selalu terdengar. Tak jarang berhenti hanya sekadar berfoto dan video setiap ada view yang indah dan menarik.
“Di sinilah letak kebahagiaan kami. Ada kebersamaan, ada gelak tawa, ada foto bersama dan saling berbagi makanan. Ini sesuatu yang tidak ditemukan di komunitas-komunitas lain yang pernah kami ikuti,” kata Lies Ratnawati.

Hal itu disampaikan Budhe Lies, begitu ia sering disapa oleh anggota KMZ lainnya, menjawab pertanya Roni Romel, Ketua KMZ, dalam sharing itu. Dalam sesi sharing pengalaman usai doa Rosario, Roni Romel bertanya: kalian mendapat apa setiap mengikuti kegiatan mlampah ziarah?
Pertanyaan itu disampaikan Roni Romel karena hampir setiap kali ada kegiatan mlampah ziarah dengan tempat-tempat yang berbeda-beda dan jarak yang cukup jauh selalu diminati banyak peserta, sampai-sampai panitia terpaksa membatasi jumlah peserta (menetapkan kuota maksimal). Jangankan jarak yang relatif dekat untuk ukuran anggota Komunitas Mlampah Ziarah antara 17-20 kilometer, jarak yang jauh pun seperti Tugu Jogja-Sendangsono sejauh 29 kilometer atau WMSS Special Muntilan-Sendangsono sejauh 33 kilometer, tetap banyak peserta yang berminat.
Jawaban-jawaban sebagian peserta tersebut di atas boleh jadi mewakili jawaban peserta mlampah ziarah dan WMSS lainnya. (phj)
There is no ads to display, Please add some