Oleh: Andreas Chandra, Mahasiswa Fakultas Hukum Univesitas Atma Jaya Yogyalarta
beritabernas.com – Dalam perjalanan panjang sebuah bangsa untuk keluar dari lorong gelap menuju terang, terdapat cahaya harapan yang perlahan memijar membawa perubahan dari ketidaktahuan menuju kecerdasan dan kebijaksanaan. Cahaya itu tidak hadir dengan sendirinya, melainkan dihadirkan oleh sosok-sosok yang kerap disebut sebagai pahlawan tanpa jasa yakni guru.
Namun, bagi saya, mereka lebih dari sekadar itu. Mereka atau guru adalah pahlawan sejati. Pahlawan yang dengan penuh dedikasi menjadi tenaga pendidik, mencerdaskan anak bangsa dan membantu kita keluar dari belenggu kebodohan struktural yang telah lama menghantui.
Sayangnya, pengabdian yang tulus dan luhur itu sering kali berbuah nestapa. Dengan kerelaan hati, para pendidik menjalani kehidupan yang penuh keterbatasan. Ilmu pengetahuan yang mereka berikan kepada generasi muda semata-mata demi melihat mereka tumbuh menjadi manusia seutuhnya manusia yang merdeka, bukan sekadar slogan.
Ironi yang mereka hadapi begitu nyata. Banyak di antara mereka harus mengabdi di pelosok pedalaman dengan kondisi yang memprihatinkan. Infrastruktur yang tidak memadai, akses sinyal yang tidak stabil, hingga ketiadaan listrik di malam hari menjadi bagian dari keseharian.
Baca juga:
- Mahasiswa Menyoroti Kebijakan yang Timpang di Masyarakat
- Penjara dan Wajah Kegagalan Negara: Potret Masalah Sosial dan Krisis HAM di Papua
- Teror, Pendisiplinan dan Kekuasaan Modern
Dalam gelap, hanya cahaya pelita yang menerangi rumah dinas mereka, ditemani harapan yang tak pernah padam bahwa suatu hari nanti, anak-anak didik mereka akan tumbuh menjadi pribadi hebat yang mampu membawa perubahan bagi kampung halamannya.
Harapan itulah yang terus mereka jaga. Mereka berharap generasi penerus bangsa ini mampu mengambil peran strategis dalam struktur masyarakat, sehingga berbagai kebijakan yang timpang dan tidak adil dapat perlahan diperbaiki. Para pendidik tidak pernah menuntut balas atas pengorbanan yang telah mereka berikan kepada negara.
Sebagai mahasiswa Fakultas Hukum, saya menyoroti ketimpangan yang masih dialami para guru hingga hari ini. Mereka terus berjuang, tidak hanya untuk mendidik, tetapi juga untuk bertahan hidup. Perhatian pemerintah terhadap kesejahteraan guru di Indonesia, termasuk pemenuhan hak-hak mereka dan peningkatan prioritas terhadap profesi ini, sanga penting.
Dengan demikian, para guru dapat terus mengajar dengan semangat, mencetak generasi muda yang berdaya saing tinggi, tidak kalah dengan mereka yang hidup di perkotaan. Peran guru tidak boleh dipandang sebelah mata. Mereka adalah tonggak kekuatan sebuah negara. Jepang dapat dijadikan contoh: setelah peristiwa bom di Hiroshima dan Nagasaki, kaisar Jepang tidak pertama-tama menanyakan jumlah tentara yang tersisa, melainkan jumlah guru yang masih hidup.
Hal ini menunjukkan kesadaran bahwa untuk membangun kembali bangsa, dibutuhkan sumber daya manusia yang berkualitas melalui pendidikan. Itulah sebabnya Jepang mampu bangkit dan berdiri kokoh hingga hari ini.
Pada akhirnya, guru adalah laksana lilin kecil yang memberi cahaya di tengah kegelapan. Meski tampak sederhana, cahaya itu mampu menuntun banyak orang keluar dari gelap menuju masa depan yang lebih terang. (*)

