Jatinurcahyo Pamerkan Batik Tulis Yogyakarta di Gedung Museum Benteng Vredelburg

beritabernas.com – Batik karya R Jatinurcahyo ST MM, Penerima Dana Indonesiana 2025 kategori Penciptaan Karya Kreatif Inovatif, dipamerkan di Gedung D Museum Benteng Vredelburg selama 3 hari, mulai Jumat 22 Mei hingga Minggu 24 Mei 2026.

Pameran batik karya R Jatinurcahyo dengan tema Harmoni Tradisi dan Alam ini secara resmi dibuka di Ruang VIP Museum Benteng Vredeburg, Jalan Margomulyo Yogyakarta Sabtu, 22 Mei 2026. Pembukaan pameran ditandai dengan pengguntingan buntal oleh Wakil Rektor I Universitas Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Assc.Prof Dr Diah Puspitasari M.Kom bersama Kepala Museum Negeri Sonobudoyo Ery Sustiyadi ST MA dan diserahkan R Jatinurcahyo ST MM.

Tamu undangan foto bersama penyelenggara dan kurator. Foto: Istimewa

Acara pembukaan pameran yang diakhiri dengan peninjauan koleksi batik dan dipandu oleh Dr KRMT Hajar Pamadhi MA (Hons) ini dihadiri para budayawan, akademisi, pakar batik, di antaranya Dr Antun Susanto SE MTI (Kepala BLSDMP Komdigi DIY), Zya Labiba SSi MT (Kepala Balai Besar Kerajinan & Batik Yogyakarta), Ki R Bambang Widodo SPd MPd (Anggota Dewan Penasehat PWI DIY), RM Donny Surya Megananda SSi MBA (Sekretaris Dewan Kebudayaan Kota Yogyakarta, V Agus Sulistyo SPd MA (Kepala Museum Benteng Vredeburg) dan Hani Winotosastro (Pakar Batik Pewarna Alam).

Baca juga:

Menurut R Jatinurcahyo, pameran dikunjungi lebih dari 1.000 orang baik pengunjung wisatawan nusantara maupun wisatawan mancanegara.

Sementara istri Wakil Gubernur DIY GKBRAA Paku Alam dalam sambutan tertulis yang dibacakan Kurator Pameran Dr KRMT Hajar Pamadhi MA (Hons) menyebutkan bahwa batik bukan sekedar kain, melainkan manifestasi nilai, filosofi dan perjalanan panjang peradaban bangsa.

James Loudon (USA) menyebut pameran batik tulis ini Beautiful & Fantastic. Foto: Istimewa

Dikatakan, motif-motif larangan dari Keraton Yogyakarta mengandung ajaran tentang kepemimpinan, keseimbangan hidup dan kebijaksanaan dalam bertindak. Demikian pula motif-motif sakral dari Bali yang sarat makna spiritual, menggambarkan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

GKBRAA Paku Alam berharap, kegiatan pameran ini dapat terus dikembangkan, tidak hanya sebagai ruang apresiasi, tetapi juga sebagai media edukasi, dialog budaya, dan penguatan identitas bangsa. “Kolaborasi antara tradisi dan inovasi menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan budaya di tengah dinamika zaman” kata Gusti Putri. (*/phj)



There is no ads to display, Please add some

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *