beritabernas.com – Gerakan untuk mewujudkan paroki hijau di Gereja Paroki Maria Marganingsih Kalasan berdampak positif, baik bagi umat lingkungan, secara ekonomi maupun sosial. Bagi umat lingkungan, gerakan itu berdampak pada pengurangan sampah kemasan dan pemanfaatan lahan kosong untuk area hijau.
Sementara dampak sosial dari gerakan ini adalah munculnya kader lingkungan, kesadaran umat meningkat dan kolaborasi komunitas terjalin. Sedangkan secara ekonomi, gerakan itu berdampak dengan adanya tambahan dana untuk tim pelayanan bidang pendidikan, penghematan pembelian barang sekali pakai, mendukung program pengembangan sosial ekonomi gereja dengan pengadaaan konsumsi kegiatan dari produk UMKM umat paroki.
Hal itu diungkapkan Fransisca Supriyani Wulandari SPd, Tim Pelayanan Keutuhan Ciptaan & Lingkungan Hidup (KCLH) Paroki Maria Marganingsih Kalasan pada acara talkshow Gerakan Paroki Hijau di Auditorium Lantai 4 Gedung Bonaventura Kampus UAJY Babarsari, Caturtunggal, Depok, Sleman, Sabtu 16 Mei 2026.

Menurut Fransisca Supriyani Wulandari yang akrab disapa Mbak Dani, pilar utama dari gerakan menuju paroki hijau di Paroki Maria Marganingsih Kalasan adalah edukasi lingkungan pengelolaan sampah, penghijauan dan ketahanan pangan serta energi dan air berkelanjutan, liturgi dan spiritualitas hijau serta kolaborasi komunitas dan kader lingkungan.
Untuk edukasi lingkungan, menurut Mbak Dani, dimasukkan ke dalam kurikulum pembelanjaran pendampingan PIA dan PIR. Sementara dalam pengelolaan sampah dilakukan praktek pemilahan sampah paska kegiatan di gereja paroki ataupun wilayah.
Sementara dalam hal penghijauan dan ketahanan pangan, gerakan menuju paroki hijau dengan melakukan penanaman pohon dan pemanfaatkan lahan kosong untuk tanaman pangan. Dalam konteks ini, pupuk organik dari hasil olahan sampah organik digunakan untuk memupuk tanaman sayur mayur atau tanaman pangan dan buah yang ditanam.
Sedangkan dalam hal pemanfaatan energi dan air berkelanjutan, dalam gerakan ini menerapkan prosedur penghematan sumber daya di lingkungan gereja dan rumah tinggal umat melalui penerapan SOP Hijau. Kemudian, dalam bidang liturgi dan spiritualitas hijau dilakukan dalam bentuk tata pot bunga altar dan teks doa Laudato ‘Si di teks misa mingguan.
Baca juga:
- Program Paroki Hijau Harus Menjadi Gerakan Nyata Lewat Berbagai Cara
- Bank Sampah Go Green Cupuwatu Berhasil Mengolah 787 Kg Sampah Plastik jadi 699 Liter BBM
- Sebuah Aksi Laudato ‘Si, Mengubah Krisis Sampah Plastik Menjadi Potensi Waste to Energy
- Kesadaran Masyarakat Menjadi Faktor Kunci dalam Pengurangan Sampah
Selain itu, menurut Mbak Dani, melakukan kolaborasi dengan komunitas atau bekerja sama dengan dengan mitra pengelola dan pengolah sampah. Yang tidak kalah penting adalah kader lingkungan (para local champion di masing-masing lingkungan) sebagai penggerak.
Dasar dari aksi kepedulian terhadap lingkungan tersebut, menurut Mbak Dani, adalah umat di Paroki Maria Marganingsih Kalasan yang dilandasi semangat menghidupi nilai Laudato ‘Si yang terus menerus diserukan di gereja.
Selain itu, adanya krisis lingkungan, dalam hal ini darurat sampah di Yogyakarta, yang berdampak pada kehidupan bermasyarakat. Menurut Mbak Dani, peran strategis gereja dalam edukasi dan aksi lingkungan untuk mewujudkan gereja yang bahagia, inspiratif dan sejahtera, sangat penting.
Lima dosa ekologis
Sementara Drs Bernardus Wibowo Suliantoro M.Hum, Dosen UAJY, yang juga menjadi narasumber dalam acara talkshow itu, mengatakan, ada lima dosa ekologis yang dilakukan manusia selama ini yakni keserakahan, ketidakpedulian, ketidakmauan bersusahpayah, konsumerisme dan ketidakdilan sosial.

Dalam hal ketidakmauan untuk bersusah payah, menurut Wibowo, orang lebih memilih membayar jasa tukang sampah tanpa mau berusaha mengelola dan mengolah sampah. “Cukup bayar Rp 50.000, misalnya, sampah sudah bisa diangkut tanpa harus repot untuk memilah dan mengolahnya. Ini merupakan dosa sosial,” kata Wibowo.
Padahal, menurut Wibowo, lingkungan sehat bukan hadiah tapi merupakan hasil kepedulian bersama. Karena itu, menurut Wibowo, edukasi tentang pengelolaan sampah sangat penting dan harus terus menerus dilakukan untuk menanamkan kesadaran masyarakat. Dengan memiliki kesadaran akan semakin banyak masyarakat yang mau mengelola dan mengolah sampah secara mandiri.
Edukasi atau pendidikan sebagai proses konsientisasi menumbuhkan perkembangan kesadaran moral secara bertahap mulai dari pra konvensional terus konvensional hingga pascakonvensional. Dalam konsep Ki Hadjar Dewantara disebut Niteni (mengamati), Nirokke (menirukan) dan Ngrembakake (menyebarluaskan). Hal ini dilakukan dengan strategi cognition, conscience, compassion, commitment dan celebration. (phj)
There is no ads to display, Please add some