Program Paroki Hijau Harus Menjadi Gerakan Nyata Lewat Berbagai Cara

beritabernas.com – Program paroki hijau sebagai pelaksanaan dari ensiklik atau seruan moral Paus Fransiskus tentang Laudato ‘Si (Terpujilah Engkau) yang dicanangkan tahun 2015 harus menjadi gerakan nyata. Gerakan ni melibatkan seluruh umat lewat komunitas-komunitas yang secara aktif di paroki yang menerapkan prinsip-prinsip keberlanjutan dan ekologi integral dalam kehidupan umat beriman.

Dalam konteks ini, gereja bukan hanya menjadi komunitas umat beriman, tetapi juga sebagai pelaku konservasi lingkungan, edukasi ekologis dan aksi sosial demi merawat kehidupan. Hal ini sejalan dengan ensiklik Laudato ‘Si yang berisi seruan moral global dari Paus Fransiskus untuk menjaga kelestarian lingkungan dan mengatasi perubahan iklim.

Hal itu disampaikan Drs P Kianto Atmodjo MSi, Dosen Universitas Atmajaya Yogyakarta (UAJY) yang juga pegiat lingkungan hidup, dalam talkshow Gerakan Paroki Hijau di Auditorium Lantai 4 Gedung Bonaventura Kampus UAJY Babarsari, Caturtunggal, Depok, Sleman, Sabtu 16 Mei 2026.

Baca juga:

Selain Kianto Atmodjo, juga tampil sebagai narasumber dalam talkshow yang mengangkat tema Bersama Merawat Bumi, Membangun Paroki yang Beriman, Berbelarasa dan Berkelanjutan yang diadakan oleh Kevikepan Jogja Timur dan Barat bekerjasama dengan Universitas Atmajaya Yogyakarta ini, adalah Drs Bernardus Wibowo Suliantoro M.Hum (Dosen UAJY) dan Fransisca Supriyani Wulandari SPd, aktivis lingkungan dari Paroki Marganingsih Kalasan, Sleman dengan moderator Romo Dr Martinus Joko Lelono Pr.

Menurut Kianto Atmodjo, ensiklik Laudato ‘Si Paus Fransiskus yang dirilis tahun 2015 tentang kepedulian umat manusia terhadap bumi sebagai rumah kita bersama menekankan pentingnya kesadaran umat manusia sekaligus aksi nyata dalam menjaga kelestarian lingkungan dan mengatasi perubahan iklim. Sebab, manusia dan alam merupakan satu kesatuan yang saling terhubung dan saling membutuhkan.

Kianto mengatakan makna paroki hijau dan konteks Kevikepan Yogyakarta, baik timur maupun barat, menyangkut dua hal yakni makan teologis dan kontekstual. Makna teologis sebagai wujud pertobatan ekologis. Artinya, iman tidak hanya berhenti pada altar tapi diwujudkan dalam relasi yang benar dengan alam. “Gereja menjadi rumah bersama yang merawat ciptaan sebagai bagian dari spiritualitas,” tegas Kianto.

Para peserta talkshow dengan serius menyimak materi yang disampaikan narasumber. Foto: Philipus Jehamun/ beritabernas.com

Sedangkan makna kontekstual menyangkut dua golongan yakni paroki pedesaan dan paroki urban perkotaan. Di paroki pedesaan, banyak umat yang hidup dari pertanian, peternakan atau kebun rakyat. Dalam hal ini, alam bukan konsep abstrak tapi sumber hidup langsung. Dalam konteks ini, paroki hijau menjadi sarana penguatan pertanian organik, konservasi air dan kearifan lokal.

Dalam gerakan paroki hijau, menurut Kianto, umat secara aktif memilah sampah organik dan anorganik, mengolah sampah organik menjadi pupuk tanaman yang ada di kompleks gereja maupun untuk pertanian milik petani sekitar.

Sementara makna kontekstual paroki urban perkotaan terkait adanya tantangan sampah, konsumsi tinggi dan hidup instan. Dalam hal ini, pelajar dan mahasiswa sebagai agen perubahan bisa dilibatkan dalam mengolah dan mengelola sampah. Dalam konteks ini, paroki hijau menjadi ruang edukasi, kampanye digital dan geraka sosial berbasis kaum muda.

Implementasi paroki hijau

Menurut Kianto, gerakan paroki hijau tidak berdiri terpisah dari kehidupan gereja, tetapi terintegrasi dalam 5 tugas pokok gereja, yakni liturgi (leitourgia), pewartawan (kerygma), pelayanan (diakonia), kesaksian (martyria) dan persekutuan (koinonia).

Fransisca Supriyani Wulandari SPd saat memaparkan materi dalam talkshow, Sabtu 16 Mei 2026. Foto: Philipus Jehamun/beritabernas.com

Dalam liturgi, perlu dilakukan homili ekologis secara berkala, misalnya minimal 6 kali dalam setahun mengangkat tema tanggungjawab umat menjaga ciptaan dalam terang Injil dan Laudato ‘Si. Selain itu, doa umat bertema ciptaan, perayaan bulan ciptaan dan dekorasi liturgi ramah lingkungan dengan menggunakan bunga lokal, menghindari plastik dekoratif dan mengurangi limbah perayaan. “Semua ini bertujuan agar umat memahami bahwa iman dan ekologi tidak terpisah,” kata Kianto.

Implementasi di paroki pedesaan bisa dalam bentuk katekese tentang iman dan pertanian organik, pelatihan kompos dan pupuk hayati. Selain itu, ada bank sampah berbasis dusun, sumur resapan dan konservasi mata air, kebun pangan umat dan sebagainya.

Sedangkan implementasi di paroki urban perkotaan bisa berupa weibar Laudato ‘Si, konten media sosial seperti instagram, TikTok Paroki Hijau, diskusi ekologis lintas iman di kampus. Selain itu, ada gerakan pilah sampah di kos mahasiswa, edukasi eco enzyme, kerja sama dengan komunitas lingkungan kota.

Drs Bernardus Wibowo Suliantoro M.Hum (Dosen UAJY), salah satu narasumber, saat memaparkan materi dalam talkshow di Auditorium Lantai 4 Gedung Bonaventura Kampus UAJY Babarsari, Sabtu 16 Mei 2026. Foto: Philipus Jehamun/ beritabernas.com

Kianto mengaku ada sejumlah tantangan yang dihadapi di paroki pedesaan, seperti adanya ketergantungan pada pupuk kimia sehingga masih sulit menerima pupuk organik, kebiasaan bakar sampah, dana terbatas, pola pikir “yang penting murah dan cepat”.

Sementara di paroki urban perkotaan, menurut Kianto, tantangan yang dihadapi antara lain budaya konsumtif mahasiswa, mobilitas tinggi (umat kos tidak menetap), minim lahan hijau dan distraksi digital.

Sementara Fransisca Supriyani Wulandari SPd mengatakan, keberadaan sampah menjadi masalah karena umat tidak tahu cara mengelola dan tidak mau mengelola/mengolah. Artinya, meskipun tahu cara mengelola namun tidak mau mengelolanya. Begitu pula sebaliknya, mau mengelola/mengolah tapi tidak tahu caranya.

Karena itu, edukasi dan pelatihan sangat penting. Selain untuk menambah pengetahuan juga untuk terus mendorong agar umat tahu dan mau mengelola/mengolah sampah dengan baik dan benar. (phj)


There is no ads to display, Please add some

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *