144 Prodiakon Kalasan Ditempa Menjadi Pelayan yang Inspiratif dan Membahagiakan

beritabernas.com – Sebanyak 144 prodiakon dari berbagai wilayah dan stasi di Paroki Maria Marganingsih Kalasan, Sleman, mengikuti rekoleksi bertema Menjadi Pelayan yang Inspiratif, Bahagia, dan Menyejahterakan: Refleksi dari Altar ke Latar di Pusat Pastoral Sanjaya Muntilan (PPSM), 31 Mei–1 Juni 2026.

Kegiatan yang berlangsung selama dua hari satu malam itu menjadi sarana pembinaan spiritual sekaligus penguatan kapasitas pelayanan para prodiakon yang sehari-hari membantu pelayanan liturgi dan sakramental di tengah umat.

Ketua panitia Arsenius Danang Afriady K menjelaskan, rekoleksi ini memiliki tiga tujuan utama. Pertama, memperkuat spiritualitas para prodiakon agar hidup dan pelayanannya menjadi inspirasi bagi keluarga serta masyarakat. Kedua, membangun kolegialitas dan persaudaraan antarprodiakon sehingga pelayanan dijalankan dengan sukacita dan kekompakan. Ketiga, meningkatkan kualitas pelayanan agar umat memperoleh pelayanan sakramental yang membawa kesejahteraan rohani.

Prodiakon peserta rekoleksi tengah sharing pengalaman di lingkunganya masing-masing. Foto: Dok panitia

Selama rekoleksi, peserta mendapat pembekalan dari dua narasumber utama, yakni Romo Dwi Harsanto Pr dan Romo Antonius Dadang Hermawan Pr. Romo Harsanto membawakan materi tentang Menjaga Nyala Api Bersama, sementara Romo Dadang mengajak peserta berefleksi melalui materi Dari Altar ke Latar” dan “Pelayanan: Beban atau Berkat?

Dalam pemaparannya, Romo Dadang mengingatkan bahwa masa tugas seorang prodiakon tidak berlangsung selamanya. Karena itu, kesempatan melayani yang diberikan Gereja perlu dijalani dengan penuh syukur dan kesetiaan.

“Hidupkan semangat untuk menjadi pelayan yang menginspirasi dan menyejahterakan. Selama masih diberi kesempatan melayani, gunakanlah hidup sebaik-baiknya untuk Tuhan,” ujarnya.

Menurut Romo Dadang, pelayanan prodiakon memiliki makna istimewa karena mereka dipercaya untuk menghantarkan Tubuh Kristus kepada umat yang sakit, lanjut usia, maupun mereka yang tidak dapat mengikuti perayaan Ekaristi secara langsung.

Baca juga:

“Itu kesempatan yang luar biasa. Gunakanlah kepercayaan itu dengan setia, tulus hati, dan tetap bertahan dalam berbagai tantangan pelayanan,” katanya.

Ia juga mengingatkan para prodiakon agar tidak mudah larut dalam kritik yang kerap muncul dalam kehidupan menggereja. Kritik, menurutnya, dapat menjadi sarana refleksi jika disampaikan secara konstruktif dan disertai solusi.

“Kalau kritik itu benar, kita bersyukur dan memperbaiki diri. Kalau tidak, jangan dimasukkan ke hati. Pelayanan harus tetap berjalan dengan sukacita,” ujarnya.

Sementara itu, Romo Santo Pr menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara kehidupan rohani dan pelayanan. Menurutnya, seorang prodiakon tidak hanya dipanggil untuk melayani di altar, tetapi juga menjadi saksi iman dalam kehidupan sehari-hari.

Romo Dadang (kiri) saat menyampaikan materi rekoleksi, Sabtu 30 Mei 2026. Foto: Dok panitia

Selain sesi refleksi dan pendalaman materi, rekoleksi juga diisi dengan dinamika kelompok, permainan kebersamaan, doa rosario, ziarah ke makam Romo Sanjaya, serta Misa Perutusan dan pembaruan komitmen pelayanan.

Bagi para peserta, rekoleksi ini menjadi ruang untuk saling belajar dan berbagi pengalaman pelayanan di berbagai lingkungan dan stasi.

Setya Tri Nugraha, prodiakon dari Lingkungan Santo Yohanes Temanggalan-Tangkisan, Stasi Santo Yusuf Berbah, mengaku memperoleh banyak inspirasi dari kegiatan tersebut.

“Rekoleksi ini sangat memperkaya kami. Kami bisa belajar dari pengalaman teman-teman prodiakon yang menghadapi tantangan berbeda-beda di wilayahnya masing-masing. Dari para narasumber kami juga mendapatkan pemahaman baru tentang panggilan dan perutusan sebagai prodiakon,” ujarnya.

Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Sanata Dharma ini menilai tantangan pelayanan saat ini semakin kompleks, mulai dari pemahaman liturgi hingga dinamika kehidupan umat yang terus berkembang.

Prodiakon peserta rekoleksi sharing pengalaman. Foto: Dok panitia

“Tantangan itu justru mendorong kami untuk terus belajar dan bertumbuh. Yang penting, kami tetap siap diutus dan melayani umat dengan sepenuh hati,” katanya.

Ia berharap rekoleksi semacam ini dapat terus dilaksanakan secara berkala untuk memperkuat spiritualitas dan militansi pelayanan para prodiakon. “Saya berharap menjadi prodiakon yang sungguh militan, mampu melayani umat dalam berbagai situasi dan tetap teguh dalam karya pelayanan yang dipercayakan Gereja,” ujarnya.

Melalui rekoleksi ini, para prodiakon Paroki Maria Marganingsih Kalasan diharapkan kembali ke lingkungan dan stasi masing-masing dengan semangat baru: menjadi pelayan yang inspiratif, bahagia, dan membawa kesejahteraan rohani bagi umat, dari altar hingga ke latar kehidupan sehari-hari. (Yus Ade, kontributor beritabernas.com)


There is no ads to display, Please add some

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *