Oleh: Andreas Chandra CPLA, Mahasiswa FH UAJY
beritabernas.com – Hari lahir Pancasila yang diperingati setiap tanggal 1 Juni seharusnya menjadi momen yang mendalam bagi kaum muda Indonesia untuk merenungkan makna nilai-nilai yang terkandung dalam sila-sila Pancasila. Selain itu, mereka juga perlu merefleksi sejauhmana nilai-nilai Pancasila dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari.
Namun ironisnya, peringatan Hari Lahir Pancasila seringkali hanya berhenti pada seremonial dan tidak menyentuh esensi perubahan yang sesungguhnya diperlukan oleh generasi muda.
Ketika kita berbicara tentang Hari Lahir Pancasila, tidak bisa dilepaskan dari sejarah pembentukan Piagam Jakarta yang kemudian diubah menjadi Pancasila pada tanggal 18 Agustus 1945. Kaum muda pada masa itu dengan segala keberanian dan idealismenya turut serta dalam pergerakan kemerdekaan. Mereka bukan hanya penonton, melainkan aktor utama yang mengisi spirit perjuangan.
Bagaimana dengan generasi muda saat ini? Banyak di antara kita yang justru tidak memahami makna di balik peringatan Hari Lahir Pancasila. Pendidikan yang cenderung hafalisasi tanpa pemahaman kritis membuat nilai-nilai Pancasila terasing dari konteks aktual.
Kaum muda hafal “Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan dan Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia” namun tidak mampu mengaitkannya dengan problema kontemporer.
Baca juga:
- Psikologi Gen Z Memaknai Nilai Pancasila di Era Digital
- Pancasila di Persimpangan Jalan Menuju Implementasi Nyata
- Pancasila Dihafal, Keadilan Dihilangkan
- Anggota DPR RI Aria Bima: Pembumian Pancasila Harus Kontekstual dan Relevan dengan Era Kekinian
- Intoleransi Sebagai Ancaman Terhadap Nilai-nilai Pancasila, Persatuan dan Kesatuan Bangsa
Saya berusaha untuk memberikan kritik terhadap implementasi sila-sila Pancasila dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Di sini letak kritik yang harus kita luruskan. Pancasilah sebenarnya bukan sekadar rumusan five principles yang bersifat statis, melainkan harus dibaca secara konteks. Kaum muda perlu menantang mengapa keadilan sosial belum juga terwujud? Mengapa kesenjangan sosial masih begitu tinggi? Mengapa nilai-nilai kemanusiaan sering dikorbankan atas nama kepentingan tertentu?
Tanggal 1 Juni ditetapkan sebagai Hari Lahir Pancasila dengan dasar keputusan MPR No XVIII/1998. Namun, tanpa refleksi kritis, peringatan ini akan menjadi ritual kosong. Kaum muda perlu bertanya: apa bedanya peringatan Hari Lahir Pancasila dengan sekadar hari libur? Apakah laum muda bisa sebagai subjek perubahan?
Yang menyedihkan, kaum muda seringkali diposisikan sebagai objek yang harus diberi pemahaman Pancasila, bukan sebagai subjek yang berhak menginterpretasikan dan menyesuaikan nilai-nilai tersebut dengan realitas kontemporer. Paradigma ini perlu dibalik.
Kaum muda memiliki hak untuk mengkritisi nilai-nilai Pancasila dan menerapkannya secara kreatif dalam konteks kehidupan masa kini. Isu-isu seperti hamparan digital, perubahan iklim, ketidaksetaraan ekonomi, dan kekerasan terhadap perempuan semuanya adalah arena di mana nilai-nilai Pancasila perlu diterjemahkan secara konkret.
Bukannya tidak mungkin, seorang remaja yang aktif dalam pergerakan iklim justice jujur menerapkan prinsip “Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia”. Seorang mahasiswa yang memperjuangkan kesetaraan gender menerapkan “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab”. Mereka yang menjaga pluralitas di tengah polarisasi menerapkan “Persatuan Indonesia”.
Hari Lahir Pancasila bukan hanya tentang mengenang, melainkan bagaimana nilai-nilai tersebut hidup dalam praktik sehari-hari. Kaum muda perlu menolak menjadi generasi yang hanya mampu menghafal tanpa mampu bertindak.
Refleksi kritis kita berani mempertanyakan: sudah seringkah kita menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan nyata? Atau justru kita lebih often menjadi bagian dari problema, bukan solusi?
Apabila peringatan Hari Lahir Pancasila hanya menjadi ceremony tanpa impact secara nyata maka sia-sia belaka. Kaum muda perlu mengalihkan paradigma menjadi aktif, dari penghapal menjadi pelaku, dari spectator menjadi agent of change.
Semoga peringatan Hari Lahir Pancasila kali ini menjadi momen untuk regenerasi idealism, bukan sekadar regenerasi ritual. Kaum muda Indonesia berhak mewarisi dan mengembangkan nilai-nilai Pancasila dengan cara mereka sendiri-secara kritis, kreatif dan kontekstual. (*)
There is no ads to display, Please add some