beritabernas.com – Banyak usaha yang besar justru lahir dari hal-hal yang sederhana. Dari hal yang sangat sepele menjadi sesuatu yang menakjubkan. Hal ini bisa terjadi karena ada komitmen dan kepekaan sosial dari pihak yang terlibat merintis usaha tersebut. Itu pula yang dialami KSP Kopdit Pintu Air.
KSP Kopdit Pintu Air yang lahir dari sebuah desa kecil di Maumere, Kabupaten Sika, Flores, NTT itu kini menjadi koperasi besar beromset triliunan dengan anggota ratusan ribu orang dan puluhan kantor cabanng yang menyebar di seluruh pelosok Indonesia.
Apa rahasia KSP Kopdit Pintu Air yang lahir dari sebuah kelompok arisan keluarga dengan anggota 50 orang dan kini berkembang menjadi hampir 500 ribu anggota dengan omset Rp 2,5 triliun rupiah itu?
“Kami menjalankan semboyan yang menjadi filosofi usaha yakni Kau Susah Aku Bantu, Aku Susah Kau Bantu,” kata Yakobus Jano, Ketua Pengurus Pusat yang juga salah satu dari 50 pendiri KSP Kopdit Pintu Air dalam acara peresmian Kantor Cabang Yogyakarta KSP Kopdit Pintu Air di Jalan Tantular Pringwulung, Kalurahan Condongcatur, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, DIY, Rabu 8 Juli 2026.

Semboyan ini, menurut Yakobus Jano, bukan sekadar kata-kata, melainkan sebuah manifestasi solidaritas kemanusiaan. Filosofi ini menekankan prinsip resiprositas (timbal balik) yang adil, di mana kekuatan utama koperasi tidak hanya terletak pada modal uang, melainkan pada ikatan kepercayaan dan ekosistem ekonomi kasih untuk saling menjaga dan memandirikan antaranggota.
KSP Kopdit Pintu Air resmi berdiri pada 1 April 1995 di sebuah desar kecil di Maumere, Kabupaten Sikka, Flroes, NTT. Lembaga ini bermula dari sebuah kelompok arisan keluarga beranggotakan 50 orang. Gerakan ini diinisiasi oleh para perintis yang prihatin melihat perilaku konsumtif dan budaya pesta pora yang marak di tengah masyarakat pada umumnya. Kondisi ini terasa semakin berat bagi kelompok masyarakat bawah di wilayah NTTB (Nelayan, Petani, Peternak, Buruh).
Bagi kelompok masyarakat ini, menurut Yakobus Jano, menyisihkan uang untuk menabung sering kali dianggap sebagai sebuah beban yang sangat berat. Oleh karena itu, para perintis mulai bergerak memberikan edukasi dan menawarkan pola pikir baru untuk membudayakan kebiasaan menabung.
Untuk mengubah paradigma masyarakat tersebut, KSP Kopdit Pintu Air menggunakan pendekatan kekeluargaan dengan mengusung moto atau semboyan: Kau Susah Aku Bantu, Aku Susah Kau Bantu.
Dari embrio yang hanya beranggotakan 50 orang, koperasi ini telah bertransformasi menjadi salah satu raksasa koperasi di tingkat nasional. Berdasarkan data tahun buku 2025, perkembangan KSP Kopdit Pintu Air telah mencapai angka yang luar biasa dengan jumlah anggota mencapai 483.321 orang. Kepercayaan besar dari ratusan ribu anggota tersebut tecermin dari total aset yang dikelola, yang kini telah menembus angka Rp 2,5 triliun.
Baca juga:
- Aset dan Anggota Tumbuh Pesat, KSP Kopdit Pintu Air Resmikan Kantor Cabang Yogyakarta
- KSP CU Dharma Bakti Diapresiasi Pemerintah karena Pengelolaan yang Profesional dan Akuntabel
- KSP CU Dharma Prima Kita Ikut Berperan Membangun Ekonomi Lewat Jasa Simpan Pinjam
Sementara jaringan pelayanan menjangkau seluruh Indonesia melalui 78 kantor cabang dan Kantor Cabang Pembantu (KCP) yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Pencapaian ini mengukuhkan posisi KSP Kopdit Pintu Air sebagai salah satu koperasi terbesar, sehat dan paling terpercaya dalam mengangkat harkat hidup masyarakat kecil di Indonesia.
Kantor Cabang Yogyakarta
Sejarah lahirnya Kantor Cabang KSP Kopdit Pintu Air Yogyakarta hampir tak jauh berbeda dengan sejarah perjalanan KSP Kopdit Pintu Air itu sendiri. Langkah awal dibuka oleh Vincent Deo SH MH (Pengurus Pusat) dan Nela Binsasi (Ketua Komisi Cabang Surabaya).
Berawal dari kelompok kecil berjumlah 19 orang di kediaman Dionysius Seda, pergerakan ini domotori oleh Maria Beata dan Petrus Yutanto Sallo. Anggota awal melibatkan Hilarius Ngaji Mero SH MH, Prof Achmad Sudibyo, Juwono, dan Drs Hyginius Gomen. Namun, pada tahun pertama, pertumbuhan anggota dan tabungan masih cenderung stagnan.
Titik balik terjadi pada 1 April 2019. Momentum besar terjadi ketika Manajer Cabang Utama Christian Voda SE mengamanatkan pengelolaan di Yogyakarta kepada Guido Abong. Sebagai mantan Sekretaris Delsos Keuskupan Agung Ende dan inkubator Credit Union berpengalaman sejak tahun 1972, Guido Abong membawa angin segar.

Dengan menerapkan pendekatan person-to-person, dari rumah ke rumah, warung ke warung, untuk membangun kembali kepercayaan masyarakat. Ketika jumlah anggota mencapai 50 orang pada sebuah titik kumpul, pengurus pusat mengirimkan kasir pertama Katarina Lin Ina Getan. Pada masa ini, aktivitas kantor masih memanfaatkan teras rumah Guido Abong sebagai titik kumpul.
Selanjutnya akselerasi melalui Paguyuban PAMOR di Ketua Hilarius Ngaji Mero SH MH dengan memfasilitasi sosialisasi di forum-forum arisan paguyuban. Sejak itu, terjadi lonjakan anggota yang masif, hingga jangkauan wilayahnya meluas ke Kota Yogyakarta yang meliputi Klitren dan sekitarnya, Kabupaten Sleman meliputi Manukan, Condongcatur, Kalasan, Pakem, kawasan TVRI, Godean, Jatiningsih dan Tempel.
Kemudian, di Kabupaten Kulon Progo & Bantul meliput Wates, Dlingo, Nogosari, Wiloso, Panggang dan Kabupaten Gunung Kidul: Wonosari serta Jawa Tengah meliputi Klaten dan Kota Salatiga.
Sejak itu hingga sekarang, perkembangan KSP Kopdit Pintu Air di Yogyakarta sangat pesat. Hingga resmi menjadi Kantor Cabang Yogyakarta, jumlah anggota telah mencapai 1.654 orang dengan total omset mencapai Rp 19.157.344.373. (phj)
There is no ads to display, Please add some