beritabernas.com – Untuk meningkatkan keterampilan praktis wartawan dalam memanfaatkan alat berbasis AI (Artificial Intelligence) guna mendukung proses riset, penulisan, penyuntingan dan verifikasi berita, sejumlah wartawan mengikuti workshop tentang Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam Proses Kerja Jurnalistik di Ruang ITC FTI UII, Selasa 7 Juli 2026.
Workshop tentang pemanfaatan AI dalam kerja jurnalistik yang diikuti belasan wartawan yang biasa meliput kegiatan di UII termasuk di Fakultas Teknologi Industri (FTI) UII itu menghadirkan narasumber Dr Ir R Teduh Dirgahayu dari Centre for Enterprise Information Systems (CEIS) yang juga Dosen Informatika FTI UII.
Selain untuk mmembangun kesadaran kritis peserta terhadap batasan, risiko,dan aspek etika dalam penggunaan AI di ruang redaksi, workshop ini juga bertujuan untuk mendorong peningkatan efisiensi dan kualitas produk jurnalistik melalui adopsi teknologi secara bertanggung jawab.

Dalam workshop itu, Dr Teduh Dirgahayu menyampaikan materi tentang pengenalan AI untuk jurnalistik, iInstalasi Goole Gemini, transkripsi wawancara/sumber, penulisan prompt, penggunaan gaya selingkung, brita dari berbagai sumber dan etika AI dalam jurnalistik.
Menurut Dr Teduh Dirgahatu, AI merupakan aplikasi algoritma yang dilatih dengan jutaan data, sehingga bisa mengenali pola, memahami bahasa dan menghasilkan sesuatu yang baru tanpa diprogram satu per satu.
Baca juga:
- Prof Fahul Wahid: AI Tidak Menghapus Profesi, Tapi Mengubah Cara Kerja
- Kecerdasan Buatan dan Otomatisasi Telah Mengubah Kebutuhan Kompetensi di Dunia Kerja
Dikatakan, meski AI bisa melakukan apa saja yang diminta namun wartawan tetap memegang kendali di tiap titik keputusan. Beberapa hal yang bisa dilakukan AI adalah merapikan dan merangkum teks panjang, mengubah rekaman suara menjadi teks, membuat draft pertama dari bahan mentah, menghasilkan ilustrasi visual dari deskripsi dan menyesuaikan satu naskah ke berbagai format.
Namun, menurut Teduh, AI tidak bisa melakukan hal-hal seperti memverifikasi fakta secara mandiri, menggantikan penilaian editorial dan etika jurnalistik, memahami konteks lokal, bertanggung jawab atas kesalahan, menghasilkan eksklusivitas: sumber, hubungan dan kepercayaan tetap milik wartawan.

“AI adalah alat yang sangat canggih, seperti kamera yang canggih, namun ia tidak membuat foto menjadi jurnalistik. Wartawanlah yang melakukannya,” kata Teduh Dirgahayu.
Menurut Dr Teduh, wartawan tetap memiliki peran untuk memutuskan apa yang layak diliput dan mengapa, melakukan verifikasi yakni mengecek kebenaran sebelum konten tayang dan memberi makna pada fakta.
Para peserta workshop yang sebagian belum melek teknologi merasa mendapatkan ilmu dan ketrampilan yang sanga bermanfaat dan membantu kelancaran tugas jurnalistik. Dengan mengikuti workshop ini, sebagaian peserta mendapatkan ilmu dan ketrampilan baru yang mudah diterapkan guna mendukung kelancaran tugas jurnalistik dan meningkatkan produktifitas penulisan berita. (phj)
There is no ads to display, Please add some