Oleh: Yustinus Ade Stirman dan Danang Budi Santoso, Pusdal LH Jawa, KLH
beritabernas.com – Gagasan besar hampir selalu lahir bersama penolakan. Begitu pula ketika Ananto Isworo mengajak warga membawa sampah ke Masjid Al-Muharram pada Ramadan 2013. Bagi sebagian orang, gagasan itu terdengar bertentangan dengan akal sehat. Masjid adalah tempat suci, sedangkan sampah identik dengan sesuatu yang kotor. Keduanya dianggap tidak mungkin dipertemukan.
“Masjid itu tempat suci. Mengapa justru dijadikan tempat membawa sampah?” Pertanyaan itu berulang kali didengar Ananto Isworo dari sejumlah tokoh masyarakat.
Ananto Isworo memahami kegelisahan tersebut. Namun, ia melihat persoalan dari sudut pandang yang berbeda. Baginya, masalahnya bukan terletak pada sampah yang dibawa ke masjid, melainkan pada apa yang dilakukan terhadap sampah setelah tiba di sana. “Justru karena masjid adalah tempat penyucian, maka sampah juga harus disucikan,” ujarnya.
Kalimat itu bukan sekadar permainan kata, melainkan fondasi Gerakan Sedekah Sampah. Sebagai relawan kebencanaan, Ananto terbiasa berpikir dalam perspektif penyelamatan. Ia mengibaratkan masjid seperti water purifier yang mampu mengubah air keruh menjadi air layak minum. Menurutnya, logika yang sama berlaku terhadap sampah. Barang yang semula dipandang kotor dapat berubah menjadi sesuatu yang bernilai ketika dipilah, dikelola, dan dimanfaatkan untuk membantu sesama.
Di Masjid Al-Muharram, gagasan itu benar-benar diwujudkan. Botol plastik, kardus, logam, kertas, dan berbagai barang bekas dipilah, kemudian dijual kepada pengepul. Hasilnya tidak dibagikan kepada penyumbang, tetapi dikelola sebagai dana filantropi untuk membiayai berbagai kebutuhan masyarakat, mulai dari beasiswa bagi anak-anak kurang mampu, bantuan biaya pengobatan, paket sembako bagi para lansia, bantuan air bersih saat musim kemarau, hingga bantuan kemanusiaan bagi rakyat Palestina.
Baca juga:
- Ketika Sampah Menjadi Jalan Ibadah, Ananto Isworo Merintis Pertobatan Ekologis (I)
- Kegelisahan Ananto Isworo yang Melahirkan Ide Sedekah Sampah (II)
- Mesin Pirolisis, Mengolah Sampah Plastik Menjadi Bensin dan Solar
Bagi Ananto, yang berubah bukan sekadar sampah menjadi uang, melainkan cara manusia memandang nilai sebuah barang. “Selama ini orang berpikir barang bekas itu selesai. Padahal belum. Barang itu hanya berganti fungsi.”
Cara pandang tersebut perlahan mengubah perilaku masyarakat. Para lansia yang sebelumnya merasa tidak mampu bersedekah mulai datang membawa botol plastik. Anak-anak mengumpulkan bungkus makanan ringan. Para ibu rumah tangga menyisihkan kardus, kaleng, hingga peralatan dapur yang rusak. Bahkan, ada warga yang menyumbangkan lemari, kulkas, mesin cuci, komputer, hingga sepeda motor yang sudah tidak digunakan.
Bagi Ananto, semua itu bukan terutama soal nilai ekonomi, melainkan tumbuhnya kebiasaan berbagi. “Kalau orang sudah terbiasa bersedekah dari barang kecil, suatu hari dia akan mudah bersedekah dari hal-hal yang lebih besar,” kata Ananto.
Di situlah Sedekah Sampah menjadi lebih dari sekadar gerakan lingkungan. Gerakan ini melatih keikhlasan, kepedulian, dan tanggung jawab sosial melalui tindakan yang sangat sederhana.
Perjalanan tersebut tentu tidak selalu berjalan mulus. Pada masa-masa awal, setiap Ahad pagi halaman Masjid Al-Muharram dipenuhi tumpukan sampah sehingga sebagian warga mencibir, “Masjid kok seperti tempat pengepul sampah.”
Ananto tidak pernah membalas kritik dengan perdebatan. Ia memilih menjawab melalui kerja nyata. Setiap Minggu pagi relawan menerima setoran sampah, langsung memilahnya berdasarkan jenis, kemudian menimbang dan menyalurkannya ke gudang sementara atau pengepul. Menjelang azan Zuhur, seluruh proses selesai. Halaman masjid kembali bersih, tanpa bau menyengat, tanpa sampah yang menginap, dan siap digunakan kembali sebagai tempat ibadah.
Lambat laun, kritik berubah menjadi rasa ingin tahu, lalu berkembang menjadi dukungan. Masyarakat mulai memahami bahwa yang sedang dibangun bukanlah tempat pembuangan sampah, melainkan budaya baru yang menghubungkan kepedulian lingkungan dengan solidaritas sosial.
Dampaknya pun semakin nyata. Anak-anak yang hampir putus sekolah dapat melanjutkan pendidikan. Warga yang sakit memperoleh bantuan biaya berobat. Para janda lanjut usia menerima sembako secara berkala. Ketika kekeringan melanda Gunungkidul, Gerakan Sedekah Sampah berhasil menghimpun dana untuk mengirimkan 50 truk tangki air bersih. Pada 2024, gerakan yang sama kembali menunjukkan daya jangkaunya melalui penggalangan bantuan kemanusiaan bagi Palestina.

Semua pengalaman itu memperkuat keyakinan Ananto bahwa persoalan lingkungan tidak pernah semata-mata berkaitan dengan sampah. “Sampah tidak pernah salah. Cara manusialah yang menentukan apakah ia menjadi masalah atau menjadi berkah,” katanya.
Karena itu, ia tidak pernah mengajak masyarakat memulai dari konsep-konsep yang rumit seperti ekonomi sirkular atau pengurangan emisi karbon. Ia selalu memulai dari satu pertanyaan sederhana: kalau sampah bisa membantu orang lain, mengapa harus dibuang?
Pertanyaan tersebut perlahan mengubah budaya sebuah kampung. Warga tidak lagi terbiasa membuang sampah, tetapi membiasakan diri untuk berbagi. Mereka tidak lagi memandang sampah sebagai beban, melainkan sebagai amanah yang dapat menghadirkan manfaat bagi sesama.
Di Masjid Al-Muharram, yang disucikan pada akhirnya bukan hanya sampah, melainkan juga cara pandang manusia terhadap bumi. Ketika cara pandang berubah, perilaku ikut berubah. Dan ketika perilaku berubah, lahirlah budaya baru yang mempertemukan iman, kepedulian sosial, dan tanggung jawab ekologis.
Dari sebuah halaman masjid di sudut Bantul, Ananto Isworo membuktikan bahwa sesuatu yang semula dianggap tidak bernilai dapat menjadi jalan menghadirkan keberkahan bagi banyak orang.(Habis)
There is no ads to display, Please add some