Kegelisahan Ananto Isworo yang Melahirkan Ide Sedekah Sampah (II)

Oleh: Yustinus Ade Stirman dan Danang Budi Santoso, Pusdal LH Jawa, KLH

beritabernas.com – Bagi Ananto Isworo-peraih Kalpataru Kategori Perintis Lingkungan Tahun 2026-setiap perubahan besar selalu berawal dari kegelisahan. Kegelisahan itu muncul ketika pada 2005 ia bersama keluarganya menetap di Dusun Brajan, Bantul. Alih-alih menemukan lingkungan yang nyaman, ia justru menjumpai kampung yang dipenuhi sampah, saluran air tidak terawat, ancaman demam berdarah dan kemiskinan yang membelit sebagian warganya.

Satu per satu warga datang mengetuk pintu rumahnya untuk meminta bantuan biaya sekolah, berobat atau sekadar memperoleh sembako. Padahal, saat itu Ananto masih bekerja sebagai pegawai honorer. “Jangankan membantu semua orang, memenuhi kebutuhan keluarga sendiri saja harus berhitung,” kenangnya.

Sebagai pendatang, ia juga merasakan adanya jarak dengan sebagian warga. Bahkan, ia pernah diperingatkan agar tidak terlalu ikut campur dalam urusan kampung. Tekanan itu sempat membuatnya dan sang istri ingin meninggalkan Brajan hanya dua minggu setelah pindah. Namun, sebuah percakapan sederhana mengubah keputusan tersebut.

“Kalau kita tidak mampu mengubah lingkungan ini, mungkin yang harus kita ubah lebih dulu adalah cara kita memandang lingkungan ini,” katanya.

Kalimat itu menjadi titik balik perjalanan hidupnya. Ananto memilih bertahan dan tidak terburu-buru menawarkan solusi. Selama hampir dua tahun ia lebih banyak mendengar daripada berbicara. Ia mengikuti rapat kampung, berbaur dalam kegiatan warga, berdiskusi dengan tokoh masyarakat, dan mengamati kebiasaan sehari-hari untuk memahami akar persoalan. “Saya tidak melakukan apa-apa. Saya hanya belajar memahami masyarakat,” ujarnya.

Baca juga:

Dari proses itu ia menyadari bahwa masalah utama bukan sekadar sampah, melainkan cara pandang terhadap sampah. Selama masyarakat menganggap sampah hanya sebagai barang kotor yang harus dibuang, berbagai program kebersihan hanya akan menjadi solusi sementara. Yang perlu diubah lebih dahulu adalah kesadaran bahwa sampah masih memiliki nilai-bukan hanya ekonomi, tetapi juga sosial dan spiritual.

Kesempatan menguji gagasan tersebut datang pada Ramadan 2013 ketika Ananto dipercaya menjadi Ketua Takmir Masjid Al-Muharram. Hampir setiap sore masjid mengadakan buka puasa bersama. Seusai berbuka, halaman masjid dipenuhi plastik, gelas minuman, kotak makanan dan berbagai sampah kemasan sekali pakai. Pemandangan itu terus berulang di tempat yang selama ini dipandang sebagai simbol kesucian.

“Selama Ramadan kita datang ke masjid untuk membersihkan hati. Tetapi setelah selesai, kita meninggalkan tumpukan sampah. Saya bertanya kepada diri sendiri, apakah ini bukan bentuk dosa ekologis?” tuturnya.

Dari kegelisahan itu lahirlah gagasan yang ketika itu terdengar nyaris mustahil: menjadikan sampah sebagai sedekah. “Orang bertanya, sedekah kok sampah? Nilai sedekahnya di mana?” kenangnya sambil tersenyum.

Ananto tidak membalas keraguan dengan perdebatan. Sebelum program diumumkan, ia diam-diam berkeliling menggunakan sepeda motor mengumpulkan sampah dari berbagai tempat. Dengan biaya pribadi, ia mengangkut dan menumpuknya di halaman Masjid Al-Muharram.Ketika Gerakan Sedekah Sampah diluncurkan, warga mengira sudah banyak orang berpartisipasi. “Itu bagian dari strategi dakwah. Kalau hanya bicara tanpa bukti, orang akan sulit percaya,” katanya.

Strategi sederhana itu berhasil. Sedikit demi sedikit warga mulai membawa sampah dari rumah. Pada awalnya sampah masih bercampur dengan sisa makanan, plastik kotor, dan berbagai limbah lain. Tidak ada relawan maupun petugas. Semua dikerjakan Ananto seorang diri.

Setelah salat Subuh dan sepulang mengisi ceramah, ia memilah sampah satu per satu. Sisa makanan dipisahkan untuk pakan ternak, botol plastik dibersihkan, kardus disusun, dan logam dikumpulkan. “Saya sendiri juga belum tahu cara memilah sampah yang benar. Yang penting saya mulai dulu,” katanya.

Ananto Isworo saat meenerima Anugerah Kalpataru kategori Perintis Lingkungan pada Pekan Lingkungan Hidup di JICC. Foto: Istimewa

Seminggu kemudian seluruh sampah dijual kepada pengepul. Hasilnya sekitar Rp 500 ribu. Nilainya memang kecil, tetapi cukup untuk membuktikan bahwa sampah memiliki manfaat. Dana itu kemudian digunakan membantu delapan anak yang terancam putus sekolah. Ketika para orang tua bertanya dari mana asal bantuan tersebut, Ananto menjawab singkat, “Ini berasal dari sampah yang Bapak dan Ibu sedekahkan.”

Jawaban itu perlahan mengubah cara pandang masyarakat. Para lansia yang selama ini merasa tidak mampu bersedekah mulai datang membawa botol bekas, bungkus sabun, panci rusak, hingga berbagai barang yang sebelumnya dianggap tidak bernilai. “Saya belum punya uang untuk bersedekah, Pak,” kata seorang nenek. Ananto menjawab lembut, “Saya tidak meminta uang. Saya hanya meminta sampahnya.”

Kalimat sederhana itu kemudian menjadi filosofi Gerakan Sedekah Sampah. Di hadapan sampah, tidak ada lagi perbedaan antara kaya dan miskin. Setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk berbagi, berbuat baik, dan ikut merawat bumi.

Bagi Ananto, yang sedang tumbuh bukan hanya kebiasaan memilah sampah, tetapi juga budaya saling menolong, rasa percaya, dan kesadaran bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian dari ibadah. Dari kegelisahan seorang pendatang di sebuah kampung kecil, lahirlah gerakan yang membuktikan bahwa perubahan besar selalu dimulai oleh seseorang yang berani mengambil langkah pertama. (Bersambung)


There is no ads to display, Please add some

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *