Oleh: Prof Ir H Sarwidi MSCE PhD IP-U ASEAN Eng APEC Eng, Guru Besar Rekayasa Kegempaan/ Kebencanaan UII, Pengarah BNPB RI periode 2009–2025 dan Inovator BARRATAGA (Bangunan Rumah Rakyat Tahan Gempa)
beritabernas.com – Peristiwa gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 5,6 dengan titik kedalaman sepuluh kilometer yang baru saja melanda kawasan Gayo Lues, Provinsi Aceh, kembali memberikan alarm keras perihal pentingnya kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana.
Hal ini mengingat posisi daerah tersebut yang berada di jalur patahan aktif, dinamika bumi tentu tidak bisa diprediksi waktu kedatangannya. Getaran yang tercatat pada skala V MMI ini dirasakan secara luas oleh warga, memicu kepanikan dan membuat sejumlah perabotan rumah tangga bergeser atau berjatuhan.
Apabila ditinjau dari aspek keteknikan dan mitigasi fisik, bencana gempa darat bukan disebabkan oleh gempa itu sendiri, melainkan akibat struktur bangunan yang rapuh. Standar keamanan bangunan sudah sepatutnya diperketat tanpa ada ruang kompromi.
Baca juga:
- Prof Sarwidi: Gempa Venezuela dan Jepang jadi Laboratorium Alam yang Menguji Komitmen Mitigasi
- Prof Sarwidi: Gempa Besar Filipina Menjadi Pengingat Penting bagi Kesiapsiagaan Indonesia
- Prof Sarwidi: Gempa Sulawesi Utara jadi Momentum Penguatan Sistem Peringatan Dini dan Mitigasi Nasional
Sebagai langkah preventif yang terbukti efektif, pemberdayaan tukang lokal melalui program pelatihan khusus konstruksi tahan gempa telah dirintis sejak dua dekade silam, tepatnya pada tahun 2004. Melalui wadah Paguyuban Mandor Bangunan Tahan Gempa (Paman Bataga) dan penerapan metode Bangunan Rumah Rakyat Tahan Gempa (BARRATAGA), para pekerja bangunan diberikan pembekalan teknis secara langsung di lapangan.
Efektivitas strategi pemberdayaan ini telah teruji secara nyata ketika bencana gempa besar melanda Yogyakarta pada tahun 2006. Di saat ribuan rumah konvensional di daerah Bantul dan sekitarnya mengalami kerusakan parah hingga rata dengan tanah, hunian warga yang dikerjakan oleh para mandor terlatih menggunakan standar BARRATAGA justru tetap kokoh berdiri tanpa mengalami keruntuhan berarti. Fakta empiris ini menunjukkan bahwa peningkatan kapasitas sumber daya manusia di tingkat akar rumput merupakan langkah mitigasi yang paling membumi dan berdampak besar.
Model mitigasi berbasis kompetensi mandor lokal ini sudah waktunya diadopsi secara konsisten di wilayah Aceh. Sinergi antara pemerintah daerah, akademisi, serta para praktisi konstruksi sangat dibutuhkan guna menjamin keamanan fasilitas umum serta permukiman penduduk.
Kombinasi antara ketahanan fisik bangunan yang dikerjakan oleh tenaga terlatih dan mental masyarakat yang siaga merupakan kunci utama untuk meminimalkan risiko jatuhnya korban. Kejadian ini hendaknya menjadi momentum bersama guna memperkuat budaya sadar bencana secara berkelanjutan di Serambi Mekkah. (*)
There is no ads to display, Please add some