beritabernas.com – Untuk pertama kalinya, World Union of Jesuit Alumni (WUJA) Congress atau Kongres Alumni Sekolah Jesuit se-Dunia diadakan di Benua Asia. Momentum ini menjadi tonggak penting bagi Indonesia sebagai negara Asia pertama yang dipercaya menjadi tuan rumah World Union of Jesuit Alumni sejak organisasi itu berdiri 70 tahun lalu.
Kongres XI Alumni Sekolah Jesuit se-Dunia tahun 2026 ini digelar di Yogyakarta, terpatnya di Kampus Universitas Sanata Dharma (USD) yang dihadiri lebih dari 1.000 delegasi dari lebih dari 30 negara. Kongres XI WUJA ini mengangkat isu pentingnya dialog, rekonsiliasi dan kepemimpinan yang melayani. Kongres dibuka oleh Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X, Kamis 30 Juli 2026.
Kongres akan berlangsung hingga 2 Agustus 2026 dengan berbagai agenda yang mempertemukan para alumni Jesuit dari berbagai belahan dunia. Kehadiran ribuan alumni Jesuit dari berbagai belahan dunia ini mencerminkan semangat kolaborasi lintas negara dalam menjawab tantangan global melalui nilai-nilai pendidikan Jesuit yang mengedepankan kemanusiaan, kepemimpinan dan pelayanan.

“Penyelenggaraan Kongres XI Alumni Sekolah Jesuit tahun 2026 menjadi momentum bersejarah bagi Indonesia, karena untuk pertama kalinya kongres dunia ini diselenggarakan di Asia, dengan Indonesia mendapat kehormatan sebagai tuan rumah,” kata Inne Nathalia (Nath), Public Relations (PR) dan Media Relations WUJA 2026, dalam rilis yang dikirim kepada media, Kamis 30 Juli 2026.
Menurut Inne Nathalia yang biasa disapa Nath, Kongres WUJA merupakan pertemuan 4 tahunan alumni sekolah dan universitas pendidikan Jesuit dari berbagai negara. Dalam Kongres XI 2026 yang berlangsung selama 5 hari ini, para pemimpin, alumni dan institusi pendidikan Serikat Jesus dari berbagai belahan dunia berkumpul di Yogyakarta untuk berdialog tentang pendidikan, kepemimpinan, kolaborasi dan kontribusi bagi masyarakat.
Dengan mengusung tema United in Spirit, Leading with Purpose, kongres ini menjadi ruang perjumpaan alumni sekolah pendidikan Jesuit lintas negara, budaya, profesi dan generasi untuk mendiskusikan tantangan kepemimpinan di tengah perubahan dunia yang semakin kompleks.
Baca juga:
- Sultan HB X: Pendidikan Jesuit Menanamkan Benih Ilmu dan Membesarkan Watak
- Lebih dari 1.000 Peserta dari 30 Negara Ikuti Kongres XI Alumni Sekolah Jesuit se-Dunia
Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X (Sultan HB X) ketika membuka XI World Union of Jesuit Alumni (WUJA) Congress 2026 di Auditorium Driyarkara USD, Kamis 30 Juli 2026, mengajak para peserta melihat kembali makna kepemimpinan melalui refleksi diri. Menurut Sri Sultan, perubahan besar tidak pernah dimulai dari ambisi mengubah dunia, melainkan dari keberanian manusia memeriksa cara dirinya memandang dunia.
Mengutip falsafah Jawa Hamemayu Hayuning Bawana, Sri Sultan HB X menekankan bahwa seorang pemimpin tidak cukup hanya memiliki kemampuan intelektual atau kewenangan, tetapi juga kebijaksanaan untuk menjaga harmoni antara manusia, alam dan kehidupan bersama.
Di tengah derasnya arus informasi dan kebisingan dunia modern, keheningan menjadi ruang untuk menemukan kejernihan berpikir, mendengar suara hati dan mengambil keputusan yang berpihak pada kemanusiaan. “Sebelum memperbaiki dunia, manusia perlu berani memeriksa caranya memandang dunia,” ucap Sultan HB X.
Agen rekonsiliasi, keadilan dan harapan
Pesan Sultan HB X kemudian diperkuat oleh Pater Jenderal Serikat Jesus Arturo Sosa SJ. Dalam pidato utamanya, Pater Arturo Sosa SJ mengingatkan tentang panggilan para alumni Jesuit untuk menjadi agen rekonsiliasi, keadilan dan harapan di tengah berbagai tantangan global.

Menurut Pater Arturo, keberhasilan pendidikan tidak diukur dari gelar ataupun prestasi akademik, melainkan dari pribadi yang dibentuk setelah seseorang kembali ke tengah masyarakat. Mengutip mendiang Pater Peter-Hans Kolvenbach SJ dalam deklarasi tahun 2000, Pater Arturo menegaskan, ukuran sejati pendidikan Jesuit adalah bagaimana para alumni menggunakan pengetahuan, pengalaman dan kepemimpinan mereka untuk menjaga martabat manusia, membangun rekonsiliasi dan menghadirkan kehidupan yang lebih adil dan selaras bagi semua.
Pater Arturo juga mengingatkan bahwa dunia saat ini menghadapi berbagai tantangan yang saling berkaitan, mulai dari perang, perubahan iklim, perkembangan kecerdasan buatan, hingga meningkatnya polarisasi sosial. Tantangan tersebut tidak dapat dijawab hanya dengan kemajuan teknologi atau kekuatan ekonomi, tetapi membutuhkan pemimpin yang mampu membangun dialog, mempertemukan berbagai perbedaan dan mengutamakan martabat manusia dalam setiap pengambilan keputusan.
Kongres ini sangat penting karena diselenggarakan di tengah dunia yang menghadapi polarisasi, konflik berkepanjangan, disrupsi teknologi dan berbagai tantangan kemanusiaan. (phj)
There is no ads to display, Please add some