Sultan HB X: Pendidikan Jesuit Menanamkan Benih Ilmu dan Membesarkan Watak

beritabernas.com – Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X (Sultan HB X) mengatakan, Jogja telah lama menjadi pendhapa bagi jejak pendidikan Jesuit, mulai dari sekolah Kanisius, De Britto hingga Universitas Sanata Dharma (USD).

Jalan panjang pendidikan Jesuit tersebut, menurut Sultan HB X, telah menanam benih ilmu, membesarkan watak dan melepas generasi demi generasi ke berbagai palagan kehidupan. Karena itu, setiap kali berada di tengah keluarga besar Jesuit, ia merasa sedang kembali kepada percakapan lama. Percakapan tentang ilmu yang menemukan martabatnya ketika ia turun menjadi laku; tentang iman yang menjadi terang ketika menjelma pelayanan dan tentang persaudaraan yang tidak berhenti pada ingatan, tetapi bergerak menjadi perutusan.

Hal itu disampaikan Sri Sultan HB X dalam sambutan pada pembukaan Wirld Union of Jesuit Alumni Congress (WUJA) atau Kongres XI Alumni Sekolah Jesuit se-Dunia di Auditorium Driyarkara Kampus Universitas Sanata Dharma (USD), Kamis 30 Juli 2026.

Sultan HB X menyalami Arturo Sosa, Superior General of the Society of Jesus (baju putih) usai memukul gong tanda dibukanya Kongres XI Alumni Sekolah Jesuit di Auditorium Driyarkara USD, Kamis 30 Juli 2027. Foto: Philipus Jehamun/beritabernas.com

Menurut Sultan HB X, dalam ajaran Katolik terdapat telaga bening: di mana ada kasih dan cinta, di sanalah Tuhan hadir. Kalimat itu sederhana, namun kedalamannya seperti sumur tua: semakin lama ditimba, semakin jernih air yang diberikan.

“Semangat itulah yang saya rasakan dari kongres ini. Sebuah persekutuan yang telah berjalan 70 tahun sejak 1956 dan pada tahun ini mempercayakan Yogyakarta sebagai tuan rumah Kongres XI.
Bagi kami, menjadi tuan rumah bukan perkara menerima tamu semata. Dalam tata batin Jawa, tamu adalah titipan rasa. Ia datang membawa cerita, pengalaman, doa, dan harapan. Maka, menyambut tamu, berarti membuka ruang bagi persaudaraan untuk duduk, mendengar dan menemukan irama bersama,” kata Sultan HB X.

Mengenai tema Kongres XI Wuja, Bersatu dalam Semangat, Memimpin dengan Tujuan, seolah menggemakan falsafah itu. Bersatu dalam semangat adalah gendhing: sebuah kesediaan, untuk mendengar nada yang berlainan tanpa buru-buru menaklukkannya. Memimpin dengan tujuan adalah sastra: kejernihan arah, keteguhan nilai, dan keberanian menempatkan diri pada jalan pengabdian.

Menurut Sultan HB X, pertemuan ini pun mewakili ribuan makna. Dunia hari ini memiliki banyak suara, tetapi sering kehilangan irama. Di tengah kelimpahan informasi, manusia justru sering merindukan keheningan, yang mampu menuntun nurani. Para sufi, menyebut keheningan sebagai ruang tempat hati belajar mendengar. Rumi, mengibaratkan manusia, selayaknya seruling bambu yang merindukan asalnya. Semakin dalam rongga batinnya, semakin mungkin ia mengalunkan suara yang menyentuh.

Sultan HB X bersama Arturo Sosa, Superior General of the Society of Jesus (baju putih) dan Provinsial Serikat Jesus Indonesia Romo Albertus Bagus Laksana SJ serta jumlah pimpinan lembaga pendidikan Jesuit foto bersama pembukaan Kongres XI Alumni Sekolah Jesuit di Auditorium Driyarkara USD, Kamis 30 Juli 2027. Foto: Philipus Jehamun/beritabernas.com

Maka, kata Sultan, kepemimpinan tidak cukup diukur dari kuatnya suara. Ia juga tampak dari kesanggupan seseorang untuk mendengar yang lirih, menimbang yang samar, dan menjaga agar kuasa tidak kehilangan rasa. Di sini, seorang pemimpin memasuki jalan yang sunyi dengan merendahkan hati, agar tujuan bersama dapat berdiri lebih tinggi daripada kehendak pribadi.

Budaya Jawa telah lama menangkap kegelisahan itu. Serat Rama mengajarkan, bahwa laku manusia bergerak di antara tiga tingkatan: nistha yang harus dijauhi, madya yang perlu dimengerti, dan utama yang wajib dijalankan. Ajaran ini adalah cermin bagi setiap manusia, ketika berhadapan dengan pilihan hidupnya.

Di titik inilah keberanian memperoleh maknanya. Nelson Mandela pernah menunjukkan, bahwa keberanian bukan ketiadaan rasa takut, melainkan kesanggupan untuk menguasainya. Tetapi dalam tafsir batin, keberanian tidak berhenti pada kemenangan atas rasa takut. Keberanian sejati, lahir ketika seseorang tetap memilih jalan utama, meskipun jalan itu tidak selalu mudah. Tidak selalu populer, dan tidak selalu segera berbuah pujian.

Baca juga:

Mandela menuntun bangsanya keluar dari kepahitan, tanpa menyerahkan masa depan kepada dendam. Socrates menempatkan introspeksi sebagai awal kebijaksanaan. Dalam bahasa Jawa, itu adalah laku niti, nitik, napak, nanting laku: menelusuri jejak, membaca tanda, menimbang laku, lalu memilih jalan dengan tanggung jawab.

Sebelum memperbaiki dunia, manusia memang perlu berani memeriksa caranya memandang dunia. Dari situlah Hamemayu Hayuning Bawana memperoleh tenaga batinnya: memuliakan kehidupan, menjaga keindahan ciptaan, dan menghadirkan keselamatan bagi sesama makhluk.

Dalam tradisi Ignatian: membedakan mana dorongan yang berasal dari ambisi, dan mana panggilan yang tumbuh dari pengabdian. Ada saatnya, manusia harus berhenti sejenak. Bukan karena ia ragu pada jalan, tetapi karena ia ingin memastikan, bahwa langkahnya masih setia kepada suara terdalam nurani.

Sultan HB X pun berharap WUJA Congress XI hendaknya menjadi ruang batin bersama. Sebuah persinggahan untuk bertanya: setelah tujuh puluh tahun perjalanan, ke mana persaudaraan ini akan membawa ilmu, iman dan pengabdian?

Para bijak mengingatkan, bahwa cahaya, sering masuk melalui celah yang dahulu kita sangka sebagai luka. Maka, jika dunia hari ini tampak retak, tugas kita bukan memperlebar retakan itu. Tugas kita adalah menjadikannya ruang tempat kasih, akal budi, dan keberanian moral bekerja dengan lebih tekun.

Romo Albertus Bagus Laksana SJ, Provinsial Serikat Jesus Indonesia. Foto: Philipus Jehamun/ beritabernas.com

“Dengan semangat itu, saya berharap, perjumpaan di Yogyakarta ini tidak selesai ketika forum ditutup. Biarlah, dari kota ini lahir keberanian baru, untuk membawa persaudaraan ke tengah dunia, yang sedang diuji oleh kecurigaan, jarak sosial, luka ekologis, dan perpecahan nilai,” kata Sultan HB X.

Sementara Romo Albertus Bagus Laksana SJ, Provinsial Serikat Jesus Indonesia yang juga Rektor USD, mengatakan, Kongres XI Wuja ini dihadiri Arturo Sosa, Superior General of the Society of Jesus, para pemimpin lembaga pendidikan Jesuit, para pembicara dan delegasi dengan total lebih dari 1.000 peserta dari 30 negara ini mempunyai sasaran eksternal dan internal.

Sasaran eksternal adalah merespons tantangan-tantangan global sekarang, seperti tantangan ekologi, tantangan pendidikan, AI, teknologi, tetapi juga tantangan-tantangan politik dan kesatuan kemanusiaan. Sementara tantangan internal adalah bagaimana membuat organisasi ini lebih berdaya, lebih partisipatif, lebih memberdayakan di semua sektor di semua negara yang ada, dan kemudian bergerak bersama untuk menanggapi tantangan-tantangan eksternal itu.

Selain itu, bagaimana menyejahterakan kehidupan pribadi, spiritualitas, kerohanian, makna hidup dari para anggota. (phj)


There is no ads to display, Please add some

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *