beritabernas.com – Menteri Agama RI Prof Dr KH Nasaruddin Umar MA mengatakan, di negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, Indonesia, komunitas Katolik, lembaga pendidikan Jesuit dan umat beragama lainnya hidup berdampingan secara damai dan bahu-membahu membangun peradaban.
Sementara sekolah-sekolah dan universitas Jesuit seperti Universitas Sanata Dharma, Kolese De Britto dan Kolese Kanisius tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga berkomitmen membentuk men and women for and with others-manusia yang melayani sesama tanpa memandang latar belakang agama, suku maupun ras.
Hal itu disampaikan Menteri Agama Nasaruddin Umar saat tampil berbicara secara daring pada hari kedua Kongres XI Alumni Sekolah Jesuit se-Dunia atau World Union of Jesuit Alumni (WUJA) di Auditorium Driyarkara Kampus USD, Jumat 31 Juli 2026.
Menteri Agama RI pun menyambut kehadiran para delegasi dari berbagai negara dalam Kongres XI Alumni Sekolah Jesuit se-Dunia yang berlangsung di Yogyakarta. Mewakili pemerintah Indonesia, ia mengapresiasi seluruh peserta yang hadir dalam kongres empat tahunan tersebut.
“Pertemuan ini sebagai momentum penting untuk menjawab tantangan kemanusiaan global. Atas nama pemerintah Indonesia dan Kementerian Agama, saya menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta Kongres XI Alumni Sekola Jesuit se-Dunia,” kata Menteri Agama RI.
Menurut Menteri Agama, tema kongres tahun ini dinilai sangat relevan dengan isu yang sedang diperjuangkan dunia saat ini, yaitu kemanusiaan, keadilan sosial, perdamaian dan kelestarian lingkungan hidup. Pemerintah menyoroti peran Indonesia sebagai “laboratorium kerukunan umat beragama yang nyata”. Negara ini berdiri di atas fondasi Pancasila dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.
“Berbeda-beda tetapi tetap satu. Itu bukan sekadar slogan, tetapi doktrin kebudayaan dan kerangka berpikir praktis dalam membangun keharmonisan beragama di Indonesia,” jelasnya.
Merujuk ajaran Paus Fransiskus dan Deklarasi Istiqlal, pemerintah juga mengutip ajaran Paus Fransiskus dalam ensiklik Fratelli Tutti tentang persaudaraan insani. Komitmen yang sama tertuang dalam Dokumen Persaudaraan Manusia untuk Perdamaian Dunia dan Hidup Bersama yang ditandatangani di Abu Dhabi.
Menurut Nasaruddin Umar, saat berkunjung ke Indonesia, Paus Fransiskus bersama Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta menandatangani Deklarasi Istiqlal. Deklarasi itu menyoroti dua krisis serius dunia: dehumanisasi dan perubahan iklim.
“Deklarasi ini memerlukan peningkatan solidaritas persaudaraan, kerja sama antar para pemimpin agama, dialog antar umat beragama, dan kelestarian lingkungan,” tegasnya.

Dengan jaringan global yang kuat, kapasitas intelektual tinggi dan spiritualitas mendalam, Menteri Agama RI mendorong para alumni Jesuit untuk menjadi jembatan dialog dan agen perdamaian .”Mari kita jadikan kongres di Yogyakarta ini sebagai momentum untuk memperkuat sinergi. Mari kita suarakan keharmonisan lintas beragama, perangi ekstremisme dan kita jaga bersama bumi ini sebagai rumah bersama yang nyaman bagi anak cucu kita kelak,” ajaknya.
Para peserta juga diajak menikmati keramahan masyarakat Yogyakarta dan menyaksikan langsung bagaimana nilai-nilai harmoni dan luhur dihidupi dalam keseharian.
Ia berharap kongres dapat menghasilkan pemikiran konkret dan aksi nyata untuk melayani sesama demi kebaikan dan kemajuan kemanusiaan.
Kongres WUJA XI di Yogyakarta ini menjadi forum global alumni Jesuit untuk merumuskan peran mereka dalam menghadapi krisis multidimensi dunia, mulai dari perubahan iklim, ketimpangan ekonomi, hingga konflik geopolitik.
Sementara Romo Markus Solo Kewuta SVD yang tampil setelah Menteri Agama, mengatakan, ada benang merah yang sama, mulai dari dialog Paus Paulus VI dengan dunia, dialog untuk perdamaian oleh Paus Yohanes Paulus II, dialog kasih dalam kebenaran oleh Paus Benediktus XVI hingga dialog persahabatan dan persaudaraan yang dirumuskan oleh Paus Fransiskus di awal masa kepausannya, dan sekarang hingga perdamaian pelucutan senjata oleh Paus Leo XIV.
Baca juga:
- Sultan HB X: Pendidikan Jesuit Menanamkan Benih Ilmu dan Membesarkan Watak
- Indonesia sebagai Negara Pertama di Asia yang Menggelar Kongres Alumni Sekolah Jesuit se-Dunia
- Lebih dari 1.000 Peserta dari 30 Negara Ikuti Kongres XI Alumni Sekolah Jesuit se-Dunia
Menurut Romo Markus Solo, yang patut mendapat perhatian khusus, seperti yang telah disebutkan oleh Menteri Agama RI, adalah Dokumen Persaudaraan Kemanusiaan yang ditandatangani bersama oleh Paus Fransiskus dan Imam Besar Al-Azhar dari Mesir, Ahmad Al-Tayyeb, pada 4 Februari 2019. Dokumen ini mendapat perhatian besar dari dunia.
“Kita juga mengingat bahwa dokumen ini juga telah diakui oleh Indonesia, khususnya Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, yang telah menganugerahkan gelar Doctor Honoris Causa kepada Prefek Dikasteri kantor kami di Vatikan, pada tahun 2023 di sini di Yogyakarta, Doctor Honoris Causa untuk Persaudaraan Kemanusiaan,” kata Romo Markus.
Sementara warisan kedua tahun 2024 adalah kunjungan Paus Fransiskus ke Jakarta, dan menandatangani Deklarasi Istiqlal bersama Menteri Agama. Itu adalah warisan kedua. Yang pertama adalah dokumen Persaudaraan Kemanusiaan yang ditandatangani di Abu Dhabi, dan yang kedua di sini di Indonesia.
Romo Markus Solo mengatakan, dialog antaragama sebagai bagian dari misi Gereja. Dialog antaragama adalah jalan untuk mengejar dan mewujudkan visi, misi, tujuan dan nilai-nilai yang digariskan dalam Nostra Aetate. Dokumen resmi yang diterbitkan oleh kantor kami memberikan beberapa definisi tentang dialog antaragama.

Pertama, dialog antaragama adalah komunikasi timbal balik pada tingkat kemanusiaan murni, yang mengarah pada tujuan bersama, atau pada rasa saling menghormati dan saling memahami yang lebih dalam, serta pada komunikasi antarpribadi. Kedua, dialog antaragama adalah sikap hormat dan persahabatan dalam kehidupan sehari-hari kita dan dalam misi kita.
Ketiga, dialog antaragama mencakup semua hubungan antaragama yang positif dan konstruktif dengan individu dan komunitas dari agama lain, yang bertujuan untuk saling memahami dan saling memperkaya, dalam ketaatan pada kebenaran dan penghormatan terhadap kebebasan. Ini termasuk saling memberi kesaksian dan menemukan keyakinan agama masing-masing dalam keasliannya.
“Singkatnya, dialog antaragama adalah pertemuan antara umat beriman dari agama yang berbeda dalam suasana kebebasan dan keterbukaan untuk menumbuhkan, memupuk, memperdalam, dan mengembangkan hubungan baik dan persahabatan. Ini adalah upaya untuk saling mendengarkan dalam keunikan masing-masing, dan menerima serta memahami agama mereka dengan hormat dengan harapan menemukan peluang kerja sama yang konstruktif untuk kebaikan bersama,” kata Romo Markus Solo. (phj)
There is no ads to display, Please add some