beritabernas.com – Demokrasi tidak akan utuh tanpa keterlibatan perempuan. Perempuan bukan hanya sebagai pemilih, tetapi juga sebagai pembuat kebijakan, pengawas dan agen perubahan. Dengan demikian, ketika perempuan duduk di parlemen, di pemerintahan, di partai politik dan di ruang-ruang pengambilan keputusan, maka suara keluarga, anak dan kelompok rentan akan lebih terdengar.
Hal itu disampaikan Dra Restituta Sri Widiastuti SE Ak.CA, Ketua Presidium WKRI DPD DIY, dalam acara sambung rasa WKRI DIY beserta pengurus cabang dengan Ketua DPRD DIY Nuryadi SPd di Dusun Juwangen, Desa Purwomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, DIY, Jumat 31 Juli 2026.
Selain dihadiri Ketua DPRD DIY yang juga Ketua DPD PDI Perjuangan DIY Nuryadi SPd, acara yang diadakan WKRI DPD DIY berkolaborasi dengan Ketua DPRD DIY itu juga dihadiri Anggota DPRD DIY Yan Kurnia Kustano, Sukapdi, Ruri serta Ketua DPRD Kabupaten Sleman Y Gustan Ganda ST dan Wakil Bupati Sleman serta sekitar 100 anggota/pengurus WKRI DPD DIY maupun cabang.

Menurut Restituta Sri Widiastuti, perempuan membawa 3 kekuatan besar yakni hati untuk mengayomi, nalar untuk berdiskusi dan keberanian untuk memperjuangkan keadilan. Karena itu, sangat tepat kalau sambung rasa dengan Ketua DPRD DIY kali ini mengangkat tema Peran Perempuan dalam Politik dan Demokrasi Indonesia.
Dikatakan, tantangan yang dihadapi perempuan memang masih ada yakni soal stigma, beban ganda dan ruang yang belum setara. Namun, sejarah sudah membuktikan, dari RA Kartini sampai hari ini, perempuan Indonesia tidak pernah berhenti bergerak.
Untuk itu, Restituta mendorong para perempuan, khususnya anggota/pengurus WKRI, agar lebih banyak maju berpolitik dengan integritas dan menjadikan demokrasi sebagai rumah bersama yang adil dan manusiawi.
Baca juga:
- Ketua DPD PDI Perjuangan DIY Nuryadi: PDIP Dukung Program MBG, Tapi Tolak Tata Kelola yang Tidak Benar
- Talkshow Tuntas Sampah di Dapur, WKRI Dipanggil untuk Menjadi Agen Perubahan
- Momen HUT ke-102, WKRI DIY Tegaskan Komitmen Berdayakan Perempuan dan Lindungi Anak
“Saya mengajak kita semua mendukung keterlibatan perempuan bukan karena kasihan, tetapi karena bangsa ini akan lebih kuat bila semua potensi, termasuk potensi perempuan, dikerahkan,” kata Restituta.
Sementara Y Gustan Ganda ST, Ketua DPRD Sleman, mengatakan, UU telah menjamin kuota 30 persen untuk calon anggota legislatif perempuan. Hal ini salah satu upaya pemberdayan sekaligus bentuk pengakuan atas kemampuan perempuan dalam berpolik. Namun, keberadaan perempuan dalam organisasi, termasuk partai, jangan diekspolitasi.
Bagi PDI Perjuangan, kata Gustan Ganda, perempuan tidak boleh dieksploitasi tapi harus diberdayakan. Sebagai contoh, dalam sebuah acara yang diadakan PDI Perjuangan hanya diikuti perempuan tanpa ada laki-laki. Hal ini dilakukan agar perempuan semakin berperan dan berdaya. “Kalau kemarin ada laki-laki, maka yang duduk di depan pasti lakukan, sedangkan perempuan duduk di belakang. Ini yang tidak benar,” tegas Gustan Ganda.

Menanggapi pertanyaan Yuliana, pengurus WKRI Bantul, yang menyebutkan biaya untuk menjadi caleg atau maju dalam Pemilu sangat mahal, Gustan Ganda mengatakan bahwa hal itu tidak sepenuhnya benar. Karena ada caleg bisa terpilih tanpa harus mengeluarkan biaya besar. Ia memberi contoh Ketua DPRD DIY yang juga Ketua DPD PDI Perjuangan DIY Nuryadi yang ditempatkan di Dapil (Daerah Pemilihan) mana pun tetap terpilih.
Kuncinya apa? Menurut Gustan Ganda adalah keaktifan dan keterlibatan atau paritisipasi aktif seseorang dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan. Mereka yang aktif terlibat dalam setiap kegiatan masyarakat akan mudah dikenal.
“Tentu perlu ada biaya tapi keterpilihan seseorang tidak sepenuhnya atau semata-mata karena uang tapi juga karena keterkenalannya karena aktif berkegiatan di masyarakat. Mereka yang aktif dalam masyarakat akan mudah dikenal sehingga ketika maju dalam pemilu tidak sulit lagi untuk memperkenalkan diri,” kata Gustan Ganda. (phj)
There is no ads to display, Please add some