beritabernas.com – Fakultas Psikologi UST (Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa) memiliki Pusat Kajian Tamansiswa School of Thought (TSoT) atau Maszab Pemikiran Tamansiswa. TSoT dirancang sebagai pusat pengembangan pemikiran, penelitian, pendidikan dan jejaring intelektual yang menjadikan warisan pemikiran Tamansiswa sebagai tradisi pengetahuan yang hidup (living intellectual tradition).
Sesuai SK Dekan Fakultas Psikologi UST Dra Titik Muti’ah PhD tertanggal 2 Juni 2026 yang diserahkan pada sarasehan bertajuk Ide Pemikian Nyi Hadjar Dewantara di Ruang Senat Kampus Pusat UST Jalan Batikan, Kota Yogyakarta, Rabu 19 Agustus 2026, pengurus/pengelola Pusat Studi Tamansiswa School of Thought terdiri dari Penanggungjawab Dekan Fakultas Psikologi, Pembina Prof (Em) Drs Koentjoro MBSc PhD Psikolog, Ketua Wurgan Rahardian S.Psi M.Psi Psikolog dengan anggota Sulistryo Budiarto S.Psi, MA, Dr Ryan Sugianto S.Psi MA, Dr (Cand) Titisa Balerina S.Psi M.Psi., Psikolog dan Andreas Yudha Fery Nugroho S.Psi MA.
Baca juga:
- Nyi Hadjar Dewantara sebagai Pribadi yang Lembut, Ramah dan Tidak Mudah Marah
- Fakultas Psikologi UST Gelar Sarasehan Ungkap Peran Penting Nyi Hadjar Dewantara
Kemudian Scolars atau semacam tim ahli adalah Ki Priyo Mustiko, Ki Setia Adi, Ki Hajar Pamadi, Ki Rama Prambudhi Dikimara, Nyi Sri Wahya dan Nyi Ganawati Aryo Mataram.
Ketua Pusat Studi Tamansiswa School of Thought Wurgan Rahardian S.Psi M.Psi Psikolog dalam penjelasan singkatnya mengatakan, Pusat Studi Tamansiswa School of Thought mempunyai 3 tugas utama. Pertama, mendokumentasikan ilmu-ilmu dalam Tamansiswa dan merekonstruksi ilmu-ilmu tersebut.
Rekonstruksi yang dimaksud adalah menyusun ulang bagannya seperti apa karena diyakini Tamansiswa tidak berdiri atas satu individu saja, tapi sebuah ide besar yang kemudian bergulir secara terus-menerus sehingga kemudian menjadi suatu bangunan pengetahuan yang sangat luas.

Oleh karena itu, rekonstruksi dimulai dari embrio-nya terlebih dahulu yaitu Paguyuban Selasa Kliwon. Mulai dari situ, kemudian terdapat salah satu artikel yang pernah dibaca membagi dua antara pedagogi dan andragogi, yang kemudian dibagi antara Ki Hajar Dewantara dan Ki Ageng Suryomentaram.
Kedua, menurut Wurgan, dilakukan penyusunan secara teoritis bagaimana bangunan teori saat ini dari Tamansiswa itu sendiri, baru kemudian harapannya di akhir atau ketiga menyusun panduan praktis tentang bagaimana ide-ide dalam Tamansiswa dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat kontemporer hari ini.
Tentu tidak terbatas terhadap isu-isu sosial. Isunya akan sangat masif dan berkembang seiring dengan perkembangan teknologi informasi seperti AI atau artificial intelligence. “Isunya akan sangat masif ketika kita berhadapan dengan masyarakat dunia kontemporer hari ini,” kata Wurgan.
Wurgan berharap ketiga hal ini bisa dicapai dalam jangka waktu tertentu atau sekitara tahun 2030 atau beberapa tahun kemudian dari sekarang. Tapi dalami 3 tahun awal diharapkan sudah dapat melakukan kajian yang cukup untuk memenuhi tahap pertama, yaitu mengumpulkan dan merekonstruksi pengetahuan dalam Tamansiswa. (phj)
There is no ads to display, Please add some