beritabernas.com – Upaya meningkatkan kualitas pembelajaran terus dilakukan MTsN 3 Bantul. Salah satunya melalui Workshop Administrasi Pembelajaran bagi seluruh pendidik dengan menghadirkan Narasumber Nasional Pembelajaran Mendalam, Septy Andari Putri SPd M.Pd, Jumat 11 September 2026.
Workshop tersebut menjadi ruang bagi para guru untuk memperkuat kompetensi dalam mengelola administrasi pembelajaran sekaligus memperdalam pemahaman tentang Pembelajaran Mendalam (PM) dan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC).
Kepala MTsN 3 Bantul Surini SPd MPd mengatakan kegiatan tersebut diarahkan untuk meningkatkan mutu pendidikan sekaligus memastikan proses pembelajaran di kelas berlangsung lebih terarah, efektif, bermakna, dan memberikan dampak positif terhadap hasil belajar siswa.
Baca juga:
- Komunitas Yuk Menulis Serahkan Buku Antologi Puisi Pramuka di Muscab Bantul
- Workshop Puisi Pramuka, Sutanto Minta Hindari Plagiat
“Workshop ini bertujuan meningkatkan kompetensi guru, termasuk melatih guru agar mampu mengembangkan perangkat ajar secara mandiri sesuai dengan kurikulum yang berlaku,” jelas Surini.
Menurut Surini, seluruh guru MTsN 3 Bantul mengikuti kegiatan tersebut. Pelaksanaan workshop juga mendapatkan pendampingan langsung dari Pengawas Madrasah Drs Miftakhul Bakhri MPd.
“Semua guru ikut dalam workshop ini dan langsung didampingi Pengawas Madrasah,” ungkapnya.
Sementara itu, Septy Andari Putri menekankan bahwa Pembelajaran Mendalam dan Kurikulum Berbasis Cinta pada hakikatnya menempatkan peserta didik sebagai pribadi yang harus dimuliakan. Karena itu, guru perlu memastikan tidak ada murid yang merasa diabaikan dalam proses pembelajaran.
Menurut Septy, perhatian dan kepedulian guru justru menjadi bagian penting yang akan melekat dalam ingatan siswa. Bukan semata-mata bagaimana guru menyampaikan materi, melainkan bagaimana siswa merasa diperhatikan dan dihargai selama mengikuti pembelajaran.
“Esensi Pembelajaran Mendalam dan KBC adalah memuliakan anak. Pastikan tidak ada murid yang diabaikan. Sebab, yang diingat murid nantinya bukan bagaimana cara gurunya mengajar, tetapi perhatian yang diberikan,” tutur Septy.

Anggota Tim Pengembang Kurikulum Madrasah tersebut menambahkan, guru tidak cukup hanya berperan sebagai fasilitator dan pendamping. Guru juga dituntut mampu menggerakkan budaya belajar di lingkungan madrasah.
“Dalam KBC, yang penting adalah bagaimana guru menunjukkan cinta kepada murid melalui perhatian. Guru tidak cukup hanya menjadi fasilitator dan mendampingi murid, tetapi juga harus mampu menggerakkan budaya belajar,” tandasnya.
Septy juga mengajak para guru untuk membangun pribadi yang selalu dirindukan kehadirannya, baik oleh murid maupun teman sejawat. Menurutnya, kehadiran seorang guru semestinya memberikan manfaat nyata bagi perkembangan peserta didik sekaligus kemajuan madrasah.
Ia berharap guru dapat menikmati proses mengajar dan menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan bagi siswa. “Guru mesti merasa senang mengajar, demikian juga murid mesti merasa senang belajar,” kata Septy.
Workshop tersebut diharapkan tidak berhenti pada peningkatan pemahaman secara konseptual, tetapi dapat diimplementasikan dalam perangkat dan praktik pembelajaran sehari-hari. Dengan demikian, administrasi pembelajaran tidak sekadar menjadi kelengkapan dokumen, tetapi benar-benar menjadi instrumen untuk menghadirkan pembelajaran yang bermakna, berpihak pada murid, dan berdampak terhadap kemajuan belajar. (*/phj)
There is no ads to display, Please add some