Tiktokan, Cara Peserta MZ Gereja Puhsarang Mengubah Lelah Menjadi Sukacita

beritabernas.com – “Mengubah lelah menjadi sukacita.” Begitu caption sebuah video yang diunggah di whatsapp Antonia Budi Rahayu yang biasa disapa Nia atau Budi, salah seorang peserta mlampah ziarah (MZ) Gereja Puhsarang, Kediri, Minggu 11 Oktober 2026.

Dalam video itu, sejumlah peserta MZ Gereja Puhsarang bergoyang ria, tiktokan, dengan wajah ceria penuh sukacita. Dengan gaya mendayung ke kiri, ke kanan yang harmonis dan kompak sambil tersenyum bahagia, seolah mereka tidak merasakan lelah atau capai dalam kegiatan MZ Gereja Puhsarang dengan jarak hampir 22 kilometer itu.

Ya itulah salah satu cara mereka untuk menghilangkan rasa lelah setelah menempuh perjalanan yang begitu menantang: menanjak tajam di bawah terik panas matahari di Bukit Selo Gajah yang gersang namun indah itu.

Ketua Komunitas Mlampah Ziarah Rono Romel bersama peserta MZ Gereja Puhsarang lainnya berhenti sejenak foto-foto sekadar untuk melepas lelah, Minggu 11 Oktober 2026. Foto: Philipus Jehamun/beritabernas.com

Bagi saya pribadi, dari sekian puluh kali mengikuti mlampah ziarah (ziarah dengan berjalan kaki), baik yang berjarak belasan maupun puluhan kilometer, siang ataupun malam, rute MZ Gereja Puhsarang Kediri, paling menarik dan menantang.

Menarik karena pemandangan alam yang indah, terutama setelah keluar dari kota Kediri, sementara menantang karena ada tanjakan yang tajam di perbukitan yang gersang dan dilewati di bawah cuaca panas matahari yang mencapai 35 derajat Celcius.

Meski lebih panjang atau lebih jauh rute WMSS Special dari Muntilan ke Sendangsono yang mencapai 34 kilometer dan tanjakan lebih tajam, namun rute MZ Gereja Puhsarang tetap lebih menantang. Sebab, sepanjang rute yang dilalui sangat minim pohon pelindung. Kebanyakan gersang dan sinar matahari langsung “membakar” tubuh.

Baca juga:

Cuaca panas itulah yang membuat peserta mudah lelah. Namun, mereka tidak kehilangan akal untuk mengatasi rasa lelah itu. Selain berhenti sejenak untuk foto-foto di sudut yang indah, beristirahat sambil minum dan makan buah yang disediakan panitia atau yang dibawa sendiri, mereka juga melakukan tiktokan di hamparan bukit gersang di bawah sinar matahari yang panas. Suara gelak tawa dengan wajah ceria penuh sukacita mewarnai perjalanan peserta MZ Gereja Puhsarang. Peserta lain pun merasa terhibur melihat keceriaan peserta yang sedang tiktokan itu.

Suster Theresia Wiratni dari Biara CB Panti Rapih yang biasa disapa Suster Agustin pun tergoda untuk ikut bergoyangria d tengah hamparan bukit yang gersang. Tanjakan bukti Selo Gajah pun menjadi tidak terasa tajam karena mereka terhibur oleh peserta yang tiktokan di hamparan bukit berselimut hitam bekas kebakaran/terbakar atau dibakar itu. Mereka berhasil mengubah lelah menjadi sukacita dengan cara tiktokan.

Sebagian peserta MZ Gereja Puhsarang melintasi kebun jagung, Minggu 11 Oktober 2026. Foto: Philipus Jehamun/beritabernas.com

Perjalanan menuju Gereja Puhsarang yang sebenarnya masih jauh pun terasa makin dekat. Langkah kaki mereka semakin ringan di jalan setapak berbatu sehingga Gereja Puhsarang yang masih jauh di mata tetapi terasa dekat di kaki. Peserta yang sempat kram dan merasa lelah akhirnya segar kembali dan bisa berjalan normal hingga sampai finish, meski ada yang terpaksa naik motor trail yang disediakan panitia.

Begitulah cara peserta MZ Gereja Puhsarang menyiasati perjalanan panjang dengan tanjakan yang tajam di bawah terik panas matahari agar tetap bisa sampai finish tanpa dievakuasi. Apalagi kegiatan mlampah ziarah bukan lomba. Tidak ada uji cepat dan uji kuat. Yang tiba duluan atau lebih cepat sampai finish tidak mendapat hadiah, sementara yang tiba belakangan atau paling akhir tidak ada sanksi. Yang ada adalah menikmati perjalanan dengan segala suka dan dukanya, menikmati pemandangan alam yang indah dengan sesekali berhenti untuk foto-foto dan tiktokan. Maka tiktokan pun mampu mengubah lelah menjadi sukacita. (Philipus Jehamun)


There is no ads to display, Please add some

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *