beritabernas.com – Romo Yohanes Sunaryadi Pr, Vikaris Episkopal (Vikep) Jogja Barat, mengaku sangat mengagumi atas ketahanan atau ketangguhan anggota Komunitas Mlampah Ziarah (KMZ). Sebab, tidak hanya sekali dua kali, mereka melakukan mlampah ziarah atau ziarah dengan jalan kaki berkali-kali dengan jarak hingga puluhan kilometer.
Meski ada yang merasa capai, namun kegiatan mlampah ziarah yang sudah berjalan satu tahun yang diadakan oleh Komunitas Mlampah Ziarah ini justru peminatnya terus bertambah bahkan hingga ke beberapa daerah.
“Bapak ibu sekalian, satu hal yang saya kagumi dari Anda semua adalah ketahanan. Kalau ditanya cape enggak sih berjalan jauh berkilo-kilo, ada yang mungkin berlari, capek. Kalau ditanya panas enggak sih? Panas. Kalau ditanya kakinya itu agak kecut-kecut enggak sih kalau sudah jauh begitu? Ya kecutlah. Haus enggak sih? Haus. Tetapi mau lanjut enggak? Lanjut. Sampai finish enggak? Sampai. Besok kalau ada lagi, ikut lagi enggak? Ikut. Loh, piye toh iki? Ini aneh, Bapak Ibu. Ini aneh,” kata Romo Yohanes Sunaryadi Pr dalam kotbah pada Perayaan Ekaristi puncak peringatan ulang tahun pertama Komunitas Mlampah Ziarah di Gua Maria Sendangsono, Minggu 19 Juli 2026.

Meski berlangsung sederhana tanpa pesta, puncak peringatan ulang tahun pertama Komunitas Mlampah Ziarah (KMZ) di Gua Maria Lourdes Sendangsono, Kalibawang, Kulonprogo, DIY, Minggu 19 Juli 2026, tetap meriah. Usai perayaan Ekaristi yang dipimpin Romo Hari Suparwito SJ, Romo Moderator Komunitas Mlampah Ziarah, acara dilanjutkan dengan potong tumpeng dan pembagian kue ulang tahun kepada seluruh peserta mlampah ziarah edisi ulang tahun pertama KMZ.
Menurut Romo Sunaryadi, ketahanan atau ketangguhan dalam mengikuti kegiatan mlampah ziarah patut disyukuri. Seperti dikisahkan di dalam Injil hari ini, gandum hidup bersama dengan ilalang. Ketika pekerja menawarkan, bagaimana kalau ilalangnya dicabuth?” “Ah, enggak usah, biarkan saja. Nanti kalau dicabut, gandumnya ikut tercabut.” Lalu akhirnya gandum dan ilalang itu hidup bersama.
Baca juga:
- Mlampah Ziarah Menuju Puncak Ulang Tahun Pertama KMZ Menempuh Jarak 195 Kilometer dalam Waktu 7 Hari
- Kegiatan Mlampah Ziarah Kian Menyebar dan Makin Marak di Berbagai Kota di Indonesia
Ini bukan berarti sang pemilik ladang itu kejam. Bukan berarti sang pemilik ladang tidak memperhatikan atau menyayangi sang gandum. Tetapi, tidak mustahil sang pemilik ladang itu ingin membuat sang gandum, tanaman-tanaman gandum, itu memiliki ketahanan yang kokoh.
“Ketahanan yang kokoh itu hanya bisa dibangun bukan dengan hidup enak. Ketahanan itu hanya bisa dibangun ketika orang itu menghadapi tantangan. Ketika orang itu menghadapi kesulitan. Ketika orang itu menghadapi capek, menghadapi panas, menghadapi lelah, menghadapi badannya kecut-kecut.
Hanya sampai seperti itu, kita bisa melatih ketahanan kita. Kalau serba enak, serba mapan, apa-apa serba ada, dimanjakan, itu tidak melatih ketahanan,” kata Romo Sunaryadi.
Karena itu, menurut Romo Sunaryadi, anggota KMZ sudah sekian kali bergabung dalam komunitas patut bersyukur bahwa anugerah ketahanan yang Tuhan berikan itu tumbuh dan berkembang. “Kalau akhirnya Keuskupan Agung Semarang bercita-cita menjadi gereja yang bahagia, menginspirasi dan menyejahterakan, maka tiga-tiganya ada pada Anda semua. Karena meski capek, lelah, kepanasan tapi nyatanya pengin maneh. Itu artinya happy. Happy. Bagaimana bisa menginspirasi? Bisa.

“Coba apakah Mas Roni dulu pernah berpikir anggotanya akan sebanyak ini, sampai ribuan orang di berbagai kota akan ikut? Mungkin dulu tidak berpikir serumit itu. Awal-awal mengadakan total 30 orang, tidak sampai 50 orang. Ditata,, digarap, berani lelah, membangun ketahanan, entah dengan rute-rute yang akhirnya variasi itu dibangun.
Ketika akhirnya berani bergerak, berani membangun ketahanan, ternyata kemudian menggerakkan orang-orang lain. Itu artinya menginspirasi, yang membuat orang bahagia. Yang kemudian kita bergerak, akhirnya itu menggerakkan orang lain pula. “Obah, supaya ngobahke wong akeh. Maka ini suatu rahmat yang luar biasa,” kata Romo Sunaryadi.
Sementara Romo Hari Suparwito menambahkan, sejak bergabung setahun yang lalu hati peserta telah menyatu sebagai anggota komunitas. Hati kita menyatu bersama sebagai satu komunitas, tanpa janji-janji.

“Apakah Mas Roni selaku pendiri KMZ pernah menjanjikan bahwa setelah gabung komunitas dan ikut walking marathon akan jadi sugih? Tak pernah,” kata Romo Hari.
Sedangkan Roni Romel mengucapkan terima kasih semua anggota komunitas atas persahabatan, kebersamaan dan kehangatan yang telah diberikan kepada komunitas selama ini. Sehingga tak terasa satu tahun sudah dilalui dengan penuh sukacita.
“Ribuan langkah sudah kita lalui, ratusan-mungkin ribuan doa-yang kita haturkan kepada Tuhan melalui Bunda Maria dan banyak doa yang sudah dikabulkan. Terima kasih atas uluran tangan teman-teman, atas cinta yang teman-teman berikan kepada komunitas kita,” kata Roni Romel yang disambut tepuk tangan peserta WMSS#13 yang hadir seraya mengaku sangat tersentuh mendengar bagaimana perjalanan rohani tersebut membawa kebahagiaan dan menguatkan kebersamaan. (phj)
There is no ads to display, Please add some