Achmad Hariadi: Pengelolaan Sampah Jakarta Barat Harus Berubah dari “Kumpul-Angkut-Buang” Menjadi Ekonomi Sirkular

beritabernas.com – Persoalan sampah di Jakarta Barat tidak lagi bisa diselesaikan hanya dengan menambah armada pengangkut atau memperluas tempat pembuangan akhir. Kepadatan permukiman, keterbatasan lahan hingga rendahnya kesadaran memilah sampah dari rumah menjadi tantangan yang membutuhkan perubahan sistemik.

Kepala Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Barat Achmad Hariad menegaskan pengelolaan sampah saat ini harus bergerak menuju konsep ekonomi sirkular, yakni mengurangi, memilah, dan mengolah sampah sejak dari sumbernya. Menurutnya, perubahan perilaku masyarakat menjadi pekerjaan terbesar pemerintah daerah dalam beberapa tahun terakhir.

Dalam wawancara dengan Erirura Batubara di Kantor Sudin Lingkungan Hidup (LH) Jakarta Barat, Achmad Hariadi memaparkan tantangan, strategi hingga arah kebijakan pengelolaan sampah di wilayah Jakarta Barat. Berikut petikan wawancara dengan Achhmad Hariadi:

Bagaimana Anda melihat karakteristik persoalan sampah di Jakarta Barat dibanding wilayah lain di DKI Jakarta?

Jakarta Barat memiliki karakteristik yang cukup kompleks dalam pengelolaan sampah. Wilayah ini didominasi kawasan permukiman padat dengan aktivitas ekonomi dan perdagangan yang tinggi. Banyak lingkungan permukiman memiliki akses jalan sempit dan tingkat kepadatan penduduk yang tinggi, sehingga proses pengangkutan sampah tidak selalu mudah dilakukan secara optimal.

Selain itu, pertumbuhan kawasan permukiman dan aktivitas ekonomi juga berdampak pada peningkatan volume sampah rumah tangga setiap hari. Di beberapa kawasan, produksi sampah meningkat cukup signifikan, sementara ruang untuk pengelolaan sampah di tingkat lingkungan sangat terbatas.

Baca juga:

Karakteristik ini membuat pendekatan pengelolaan sampah di Jakarta Barat tidak bisa disamakan dengan wilayah lain. Karena itu, kami lebih menekankan pendekatan berbasis komunitas dan pengelolaan dari sumber. Pengelolaan sampah harus dimulai dari rumah tangga, RT/RW, dan komunitas lingkungan agar beban sampah yang dibuang ke tempat pengolahan akhir bisa dikurangi.

Apa tantangan terbesar yang saat ini dihadapi pemerintah dalam pengelolaan sampah?

Tantangan terbesar sebenarnya bukan hanya persoalan teknis, tetapi perubahan perilaku masyarakat. Selama lebih dari 30 tahun pola pengelolaan sampah kita masih didominasi paradigma lama, yaitu “kumpul-angkut-buang”. Sampah dianggap selesai ketika sudah diangkut petugas dan dibuang ke tempat pemrosesan akhir.

Padahal sekarang kondisinya sudah berbeda. Kapasitas tempat pengolahan sampah semakin terbatas, sementara volume sampah terus meningkat. Karena itu paradigma lama harus berubah menjadi “kurangi-pilah-olah”.

Perubahan ini membutuhkan waktu karena masyarakat harus dibiasakan memilah sampah sejak dari rumah. Banyak warga yang masih mencampur sampah organik, plastik, dan residu dalam satu wadah. Akibatnya, proses pengolahan menjadi lebih sulit dan potensi daur ulang tidak optimal.

Tantangan lain adalah bagaimana menjaga konsistensi masyarakat. Edukasi tidak bisa dilakukan sekali lalu selesai. Harus terus menerus, melibatkan komunitas, tokoh masyarakat, sekolah, hingga pelaku usaha agar perubahan perilaku benar-benar menjadi budaya baru.

Mengapa pemilahan sampah dari sumber menjadi sangat penting?

Pemilahan sampah dari sumber merupakan fondasi utama pengelolaan sampah modern. Kalau sampah sudah tercampur sejak dari rumah tangga, maka proses pengolahan berikutnya menjadi jauh lebih sulit dan mahal.

Padahal banyak jenis sampah yang sebenarnya masih memiliki nilai ekonomi, seperti plastik, kertas, logam, dan sampah organik yang bisa diolah menjadi kompos. Jika masyarakat memilah sejak awal, maka volume sampah residu yang dibuang ke tempat pengolahan akhir bisa ditekan secara signifikan.

Kami ingin masyarakat memahami bahwa sampah bukan hanya limbah, tetapi juga sumber daya yang masih bisa dimanfaatkan kembali. Inilah konsep ekonomi sirkular yang sekarang sedang kami dorong. Jadi orientasinya bukan lagi membuang sampah sebanyak mungkin, tetapi mengurangi sampah sejak dari sumber dan memaksimalkan pemanfaatannya kembali.

Strategi apa yang dilakukan Sudin LH Jakarta Barat untuk mendorong perubahan perilaku masyarakat?

Kami menggunakan pendekatan kolaboratif berbasis wilayah melalau strategi perubahan perilaku masyarakat dengan pilah sampah. Pengalaman kami menunjukkan bahwa pendekatan yang paling efektif adalah melibatkan masyarakat secara langsung melalui komunitas lingkungan, pengurus RT/RW, kader PKK, sekolah, hingga tokoh masyarakat setempat.

Kami membentuk dan memperkuat komunitas peduli lingkungan di berbagai wilayah. Mereka menjadi ujung tombak edukasi kepada warga mengenai pentingnya memilah sampah dan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.

Pendekatan komunitas jauh lebih efektif dibanding hanya mengandalkan sosialisasi formal. Masyarakat biasanya lebih mudah menerima ajakan dari lingkungan terdekatnya sendiri. Karena itu kami terus memperkuat jejaring komunitas agar gerakan pengurangan sampah menjadi gerakan sosial bersama, bukan hanya program pemerintah.

Sejauh mana peran teknologi dalam sistem pengelolaan sampah yang sedang dikembangkan?

Transformasi teknologi menjadi kebutuhan penting dalam pengelolaan sampah saat ini. Ke depan, pengelolaan sampah tidak bisa hanya mengandalkan sistem konvensional. Harus ada pemanfaatan teknologi agar sampah bisa diolah menjadi produk yang memiliki nilai tambah.

Dengan teknologi, sampah organik dapat diolah menjadi kompos atau energi, sedangkan sampah anorganik bisa masuk ke proses daur ulang yang lebih efisien. Tujuan akhirnya adalah mengurangi residu yang dibuang ke tempat pemrosesan akhir.

Namun teknologi saja tidak cukup. Teknologi harus dibarengi perubahan perilaku masyarakat. Kalau sampah masih tercampur sejak dari sumber, maka teknologi pengolahan juga akan menghadapi kendala. Karena itu kami selalu menekankan bahwa transformasi pengelolaan sampah harus berjalan bersamaan antara teknologi, regulasi, dan perubahan budaya masyarakat.

Bagaimana implementasi Program Kampung Iklim (ProKlim) di Jakarta Barat?

Program Kampung Iklim atau ProKlim menjadi salah satu pendekatan yang cukup efektif dalam membangun kesadaran lingkungan masyarakat. Program ini tidak hanya berbicara soal sampah, tetapi juga adaptasi dan mitigasi perubahan iklim di tingkat komunitas.

Kami melihat banyak inovasi lahir dari masyarakat. Misalnya di kawasan padat seperti Tambora yang memiliki keterbatasan lahan, warga justru mampu memanfaatkan barang bekas menjadi pot tanaman, tempat sampah, hingga sarana penghijauan lingkungan.

Hal seperti ini menunjukkan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk menciptakan inovasi lingkungan. Justru dari kampung-kampung padat itu muncul kreativitas dan gotong royong masyarakat yang sangat kuat.

Kami melihat ProKlim bukan sekadar program administratif, tetapi sarana membangun budaya peduli lingkungan di masyarakat secara berkelanjutan.

Bagaimana kondisi dan tantangan bank sampah di Jakarta Barat saat ini?

Bank sampah memiliki posisi strategis karena menjadi penghubung langsung antara masyarakat dan sistem daur ulang. Di Jakarta Barat kami terus mendorong penguatan bank sampah, baik dari sisi kelembagaan maupun operasional.

Namun memang masih ada sejumlah tantangan, terutama terkait sarana pendukung seperti kendaraan operasional, biaya pengangkutan, dan keberlanjutan pengelolaan. Banyak pengelola bank sampah bekerja secara swadaya dengan semangat sosial yang tinggi.

Karena itu pemerintah berupaya hadir melalui pembinaan, fasilitasi, dan penguatan jejaring. Kami juga memiliki bank sampah induk yang membantu mendukung aktivitas bank sampah di tingkat wilayah.

Yang paling penting sebenarnya adalah menjaga partisipasi masyarakat. Karena bank sampah tidak akan berjalan kalau warga tidak memilah sampah dari rumah. Jadi keberhasilan bank sampah sangat bergantung pada kesadaran kolektif masyarakat.

Apa target dan harapan Sudin LH Jakarta Barat dalam beberapa tahun ke depan?

Kami ingin membangun budaya baru dalam pengelolaan sampah di masyarakat. Target kami bukan hanya mengurangi volume sampah, tetapi menciptakan kesadaran bahwa pengelolaan sampah adalah tanggung jawab bersama.

Ke depan kami berharap semakin banyak masyarakat yang terbiasa memilah sampah dari rumah, aktif di bank sampah, dan terlibat dalam kegiatan lingkungan di wilayahnya masing-masing.

Kami juga berharap konsep ekonomi sirkular dapat berkembang lebih luas sehingga sampah tidak lagi dipandang sebagai beban, tetapi sebagai sumber daya yang memiliki nilai manfaat ekonomi maupun lingkungan.

Kalau perubahan perilaku masyarakat ini bisa berjalan konsisten, maka persoalan sampah di Jakarta Barat akan jauh lebih mudah ditangani secara berkelanjutan. (Yustinus Ade S, Staf Pusdal LH Jawa)


There is no ads to display, Please add some

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *