Komunikasi di Era Simulakra: Antara Realitas dan Pencitraan

Oleh: Ben Senang Galus, Penulis/esais, tinggal di Yogyakarta

beritabernas.com – Di era digital saat ini, manusia hidup dalam arus informasi yang tidak pernah berhenti. Setiap detik, jutaan pesan diproduksi dan disebarkan melalui media sosial, portal berita, video pendek, hingga aplikasi percakapan. Informasi bergerak sangat cepat melampaui batas geografis dan waktu.

Dalam situasi seperti ini, dunia memasuki apa yang disebut sebagai “kebisingan informasi”, yakni keadaan ketika manusia terus-menerus dibanjiri pesan tanpa memiliki cukup ruang untuk mencerna dan memahaminya secara mendalam.

Hari Komunikasi Sedunia dengan tema Preserving Human Voices and Faces ditetapkan oleh Vatikan melalui Dikasteri (departemen resmi yang membantu Paus) untuk Komunikasi menyoroti pentingnya menjaga martabat manusia di tengah perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI). Tema tersebut memuat pesan menjaga komunikasi yang manusiawi, melawan manipulasi digital seperti Deepfake, mempertahankan empati dan kejujuran serta memastikan teknologi tetap melayani manusia, bukan menggantikan nilai kemanusiaan.

Hari Komunikasi Sedunia tidak hanya berbicara tentang perkembangan teknologi komunikasi, tetapi juga tentang bagaimana manusia menjaga nilai kemanusiaannya di tengah perubahan zaman. Komunikasi sejatinya bukan sekadar pertukaran informasi, melainkan sarana membangun pengertian, solidaritas, dan hubungan antarmanusia.

Namun kenyataan hari ini menunjukkan bahwa komunikasi sering kehilangan makna terdalamnya. Teknologi memang membuat manusia semakin mudah terhubung, tetapi tidak selalu membuat manusia semakin memahami satu sama lain. Di media sosial, percakapan sering berubah menjadi pertengkaran. Perbedaan pendapat mudah berkembang menjadi kebencian. Orang lebih cepat bereaksi daripada mendengarkan.

Kebisingan informasi membuat manusia kesulitan membedakan mana fakta dan mana manipulasi. Informasi yang sensasional lebih mudah menarik perhatian dibandingkan informasi yang benar. Dalam kondisi demikian, ruang publik digital dipenuhi emosi, provokasi, dan opini yang saling bertabrakan. 

Perkembangan Artificial Intelligence (AI) mempercepat perubahan tersebut. Teknologi kecerdasan buatan kini mampu menghasilkan teks, gambar, suara, dan video yang tampak sangat nyata. Salah satu bentuk yang paling mengkhawatirkan adalah Deepfake (manipulasi wajah dan suara berbasis AI).

Deepfake memungkinkan seseorang memalsukan wajah dan suara orang lain menggunakan teknologi digital. Video dapat dibuat seolah-olah seseorang mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah diucapkannya. Dalam konteks politik, teknologi ini dapat digunakan untuk propaganda dan manipulasi opini publik. Dalam kehidupan sosial, deepfake berpotensi merusak reputasi seseorang dan menciptakan ketidakpercayaan di masyarakat.

Krisis keaslian

Fenomena ini menunjukkan bahwa manusia sedang menghadapi krisis keaslian dalam komunikasi. Wajah dan suara manusia yang seharusnya menjadi simbol identitas pribadi kini dapat direkayasa oleh mesin. Karena itu, pesan menjaga suara dan wajah manusia menjadi sangat relevan.

Menjaga suara manusia berarti menjaga kejujuran, kebenaran, dan kebebasan berekspresi yang bertanggung jawab. Sementara menjaga wajah manusia berarti menjaga martabat dan identitas manusia agar tidak direduksi menjadi objek manipulasi digital.

Selain ancaman teknologi AI, kebisingan informasi juga diperparah oleh budaya media sosial yang mendorong kecepatan dibanding kedalaman. Orang berlomba menjadi yang pertama memberi komentar tanpa memeriksa kebenaran informasi. Akibatnya, hoaks berkembang sangat cepat dan memengaruhi opini publik.

Baca juga:

Hoaks bukan hanya persoalan informasi palsu, tetapi juga ancaman terhadap kehidupan sosial. Informasi yang salah dapat memicu konflik, memperkuat polarisasi, bahkan menghancurkan kepercayaan masyarakat terhadap institusi publik. Dalam situasi seperti ini, masyarakat membutuhkan kemampuan literasi digital yang kuat.

Literasi digital tidak hanya berarti mampu menggunakan teknologi, tetapi juga mampu berpikir kritis terhadap informasi yang diterima. Masyarakat perlu belajar memverifikasi berita, memahami sumber informasi, dan menyadari dampak penyebaran informasi palsu.

Sayangnya, budaya digital saat ini lebih sering mendorong orang untuk bereaksi cepat daripada berpikir mendalam. Algoritma media sosial bekerja berdasarkan perhatian pengguna. Konten yang memancing emosi biasanya lebih mudah viral dibandingkan konten edukatif. Akibatnya, ruang digital dipenuhi kemarahan, sensasi, dan konflik.

Kehilangan kemanusiaan

Dalam situasi tersebut, komunikasi kehilangan sisi kemanusiaannya. Orang tidak lagi melihat lawan bicara sebagai manusia utuh, melainkan sekadar akun atau komentar di layar telepon. Padahal setiap manusia memiliki martabat yang harus dihormati.

Karena itu, komunikasi membutuhkan empati. Empati membuat manusia mampu mendengar dan memahami orang lain, bukan sekadar menyerang atau menghakimi. Di tengah kebisingan informasi, kemampuan mendengar menjadi semakin penting.

Mendengar bukan berarti selalu setuju, tetapi memberi ruang bagi orang lain untuk berbicara secara manusiawi. Tanpa kemampuan mendengar, komunikasi hanya akan berubah menjadi perlombaan opini yang melelahkan.

Kebisingan informasi juga memengaruhi kehidupan pribadi manusia, terutama generasi muda. Banyak anak muda hidup dalam tekanan media sosial yang menuntut mereka tampil sempurna. Nilai diri sering diukur berdasarkan jumlah pengikut, tanda suka, dan popularitas digital.

Akibatnya, banyak orang kehilangan kebebasan untuk menjadi dirinya sendiri. Mereka membangun identitas virtual demi mendapat pengakuan sosial. Dalam budaya seperti ini, wajah manusia berubah menjadi citra digital yang terus dipoles dan dipertontonkan.

Padahal manusia tidak boleh direduksi hanya menjadi penampilan visual. Setiap manusia memiliki nilai yang lebih dalam daripada sekadar citra media sosial. Menjaga wajah manusia berarti menjaga martabat manusia dari budaya pencitraan yang berlebihan.

Selain itu, komunikasi digital juga memengaruhi hubungan dalam keluarga. Tidak sedikit keluarga yang hidup bersama tetapi sibuk dengan gawai masing-masing. Percakapan tatap muka semakin berkurang, sementara interaksi digital semakin mendominasi kehidupan sehari-hari.

Kondisi ini menunjukkan bahwa teknologi dapat mendekatkan manusia secara virtual tetapi menjauhkan manusia secara emosional. Padahal komunikasi sejatinya adalah perjumpaan antarmanusia, bukan hanya pertukaran pesan.

Tatapan mata, nada suara, dan ekspresi wajah memiliki makna emosional yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh teknologi. Karena itu, komunikasi langsung tetap penting untuk menjaga kualitas relasi manusia.

Memperkuat solidaritas

Di sisi lain, teknologi sebenarnya memiliki potensi besar untuk memperkuat solidaritas sosial. Media digital dapat digunakan untuk pendidikan, kampanye kemanusiaan, dan penyebaran informasi positif. Banyak komunitas sosial lahir dari ruang digital dan berhasil membantu masyarakat secara nyata.

Hal tersebut menunjukkan bahwa teknologi bukan musuh manusia. Yang menentukan adalah cara manusia menggunakannya. Karena itu, menjaga suara dan wajah manusia tidak berarti menolak teknologi, melainkan menggunakan teknologi secara bijaksana dan manusiawi.

Perusahaan teknologi juga memiliki tanggung jawab moral dalam menciptakan ruang digital yang sehat. Platform media sosial perlu memperkuat perlindungan terhadap privasi pengguna dan membatasi penyebaran hoaks serta ujaran kebencian.

Di tengah dunia yang semakin bising, manusia membutuhkan ruang hening untuk berpikir dan mendengar. Hening bukan berarti diam terhadap ketidakadilan, melainkan kemampuan untuk tidak larut dalam kebisingan emosi dan informasi yang menyesatkan.

Manusia perlu kembali belajar berbicara dengan jujur dan mendengar dengan empati. Komunikasi yang sehat lahir dari penghormatan terhadap martabat manusia, bukan dari hasrat untuk menang sendiri.

Masa depan komunikasi akan semakin dipengaruhi oleh perkembangan teknologi digital. AI, realitas virtual, dan otomatisasi informasi akan terus berkembang. Namun secanggih apa pun teknologi, nilai kemanusiaan harus tetap menjadi dasar utama.

Menjaga suara manusia berarti menjaga kejujuran, dialog, dan keberanian menyampaikan kebenaran. Menjaga wajah manusia berarti menjaga martabat dan identitas manusia di tengah budaya digital yang serba cepat.

Manusia modern hidup di tengah dunia yang dipenuhi tanda, simbol, dan citra. Apa yang dilihat di media sosial sering kali lebih dipercaya daripada kenyataan yang hadir di depan mata. Foto makanan lebih penting daripada pengalaman makan itu sendiri. Liburan terasa kurang bermakna jika tidak diunggah ke internet. Dalam situasi seperti ini, komunikasi tidak lagi sekadar menyampaikan realitas, tetapi justru membangun realitas baru yang kadang terlepas dari kenyataan sebenarnya.

Fenomena tersebut dapat dipahami melalui konsep simulakra yang diperkenalkan oleh Jean Baudrillard, dalam Simulacra and Simulation (Michigan: University of Michigan Press (1994, h. 1–7). Menurut Baudrillard, masyarakat modern hidup dalam dunia simulasi, yakni dunia yang dipenuhi citra dan representasi sehingga batas antara kenyataan dan kepalsuan menjadi kabur. Dalam dunia simulakra, manusia tidak lagi berhubungan langsung dengan realitas, melainkan dengan tanda-tanda yang mewakili realitas itu sendiri.

Perkembangan teknologi digital mempercepat lahirnya dunia simulakra. Media sosial memungkinkan setiap orang membangun identitas virtual yang belum tentu sesuai dengan kehidupan nyata. Orang dapat menampilkan dirinya lebih bahagia, lebih sukses, atau lebih sempurna daripada kenyataan yang sebenarnya. Komunikasi akhirnya berubah menjadi pertunjukan citra.

Marshall McLuhan, dalam Understanding Media: The Extensions of Man (New York: McGraw-Hill (1964, h, 7–21), menegaskan di media sosial, kehidupan manusia sering diukur berdasarkan jumlah pengikut, tanda suka, dan komentar. Nilai seseorang tidak lagi dilihat dari kedalaman karakter, tetapi dari seberapa menarik tampilannya di ruang digital. Dalam kondisi seperti ini, komunikasi kehilangan makna autentiknya karena lebih berorientasi pada pencitraan daripada kejujuran.

Dunia simulakra membuat manusia semakin sulit membedakan mana realitas dan mana representasi. Kehidupan digital dipenuhi foto yang telah diedit, video yang dipoles, dan narasi yang dirancang untuk membentuk persepsi publik. Bahkan pengalaman pribadi sering kali dikonstruksi agar tampak ideal di media sosial.

Fenomena ini terlihat jelas dalam budaya influencer digital. Banyak konten di media sosial menampilkan kehidupan mewah, kebahagiaan tanpa batas, dan kesempurnaan fisik. Padahal tidak sedikit dari konten tersebut merupakan hasil rekayasa visual maupun strategi pemasaran. Namun karena terus diulang dan dikonsumsi publik, citra tersebut perlahan dianggap sebagai realitas normal.

Akibatnya, masyarakat hidup dalam tekanan untuk menyesuaikan diri dengan standar virtual yang tidak realistis. Banyak orang merasa kurang berharga karena membandingkan kehidupan nyata mereka dengan citra digital orang lain. Komunikasi digital akhirnya melahirkan krisis identitas dan kecemasan sosial.

Perkembangan Artificial Intelligence semakin memperkuat dunia simulakra. Teknologi AI kini mampu menghasilkan gambar, suara, dan video yang tampak sangat nyata. Salah satu bentuk paling mengkhawatirkan adalah Deepfake, yakni teknologi manipulasi wajah dan suara berbasis AI yang menghasilkan representasi visual menyerupai kenyataan.

Deepfake memungkinkan seseorang memalsukan wajah dan suara orang lain sehingga tampak autentik. Dalam dunia simulakra, teknologi seperti ini membuat manusia semakin sulit membedakan antara kebenaran dan manipulasi digital.

Di tengah situasi tersebut, komunikasi menghadapi krisis keaslian. Informasi tidak lagi dinilai berdasarkan kebenarannya, tetapi berdasarkan kemampuannya menarik perhatian publik. Algoritma media sosial bekerja dengan memprioritaskan konten yang sensasional dan emosional. Akibatnya, hoaks dan provokasi lebih mudah viral dibandingkan informasi yang akurat.

Fenomena ini menunjukkan bahwa komunikasi digital sering kali lebih mengutamakan citra daripada substansi. Orang lebih sibuk membangun penampilan virtual daripada membangun relasi manusiawi yang nyata. Dalam dunia simulakra, citra menjadi lebih penting daripada kenyataan.

Padahal komunikasi sejatinya adalah sarana membangun pengertian antarmanusia. Komunikasi bukan hanya soal menyampaikan pesan, tetapi juga tentang kehadiran, empati, dan kejujuran. Ketika komunikasi berubah menjadi pertunjukan citra, manusia berisiko kehilangan hubungan yang autentik dengan sesamanya.

Krisis tersebut terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Banyak orang lebih fokus mendokumentasikan pengalaman daripada menikmati pengalaman itu sendiri. Konser musik direkam demi konten media sosial, bukan untuk dinikmati secara langsung. Pertemuan keluarga sering terganggu oleh kehadiran telepon genggam. Bahkan percakapan tatap muka kerap kalah penting dibanding notifikasi digital.

Dalam situasi seperti ini, manusia hidup dalam realitas yang dimediasi layar. Hubungan sosial menjadi semakin dangkal karena interaksi lebih banyak berlangsung melalui simbol digital daripada perjumpaan langsung.

Meski demikian, teknologi sebenarnya bukan musuh manusia. Dunia digital juga memberi ruang bagi kreativitas, solidaritas sosial, dan penyebaran pengetahuan. Media sosial dapat digunakan untuk pendidikan, kampanye kemanusiaan, dan gerakan sosial yang positif.

Masalah utama bukan terletak pada teknologinya, melainkan pada cara manusia menggunakannya. Dunia simulakra menjadi berbahaya ketika manusia kehilangan kesadaran kritis terhadap citra yang dikonsumsinya setiap hari.

Karena itu, masyarakat membutuhkan literasi digital yang kuat, yakni kemampuan memahami, mengevaluasi, dan menggunakan media digital secara kritis dan bertanggung jawab. Literasi digital bukan hanya kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga kemampuan memahami bagaimana media membentuk persepsi manusia. Masyarakat perlu menyadari bahwa tidak semua yang tampil di layar merupakan kenyataan.

Baca juga tulisan lainnya:

Selain itu, manusia perlu kembali membangun komunikasi yang autentik. Komunikasi autentik lahir dari keberanian untuk menjadi diri sendiri tanpa harus terus-menerus mengejar pengakuan digital. Dalam dunia yang dipenuhi pencitraan, kejujuran menjadi nilai yang semakin penting.

Kehadiran Hari Komunikasi Sedunia,  menjadi momentum refleksi penting bagi masyarakat modern. Hari Komunikasi Sedunia mengingatkan bahwa teknologi komunikasi harus tetap melayani manusia dan menjaga martabat kemanusiaan.

Manusia tidak boleh kehilangan wajah dan suaranya di tengah dominasi citra digital. Wajah manusia bukan sekadar tampilan visual, melainkan simbol identitas dan martabat pribadi. Sementara suara manusia bukan hanya bunyi, tetapi juga kebenaran, nurani, dan kebebasan berekspresi.

Tetap manusiawi

Pada akhirnya, dunia simulakra memperlihatkan bagaimana teknologi dapat mengubah cara manusia memahami realitas. Komunikasi modern tidak lagi hanya menyampaikan kenyataan, tetapi juga menciptakan kenyataan baru melalui citra dan simbol digital.

Tantangan terbesar manusia modern adalah menjaga agar komunikasi tetap manusiawi di tengah banjir simulasi digital. Manusia perlu kembali belajar membedakan antara realitas dan pencitraan, antara keaslian dan manipulasi.

Teknologi akan terus berkembang, tetapi nilai kemanusiaan tidak boleh hilang. Komunikasi harus tetap menjadi sarana membangun pengertian, empati, dan relasi yang autentik. Jika tidak, manusia akan semakin tenggelam dalam dunia citra yang tampak indah tetapi kehilangan kedalaman makna.

Di tengah dunia simulakra, manusia membutuhkan keberanian untuk kembali pada realitas. Sebab pada akhirnya, hubungan manusia yang nyata jauh lebih bermakna daripada citra digital yang hanya bertahan sesaat.

Pemerintah memiliki tanggung jawab melalui regulasi yang melindungi hak-hak digital masyarakat. Namun regulasi saja tidak cukup. Kesadaran moral masyarakat tetap menjadi faktor utama dalam membangun budaya komunikasi yang sehat.

Dalam kehidupan demokrasi, menjaga suara manusia berarti menjaga kebebasan berbicara yang bertanggung jawab. Demokrasi hanya dapat berjalan baik jika masyarakat memiliki akses terhadap informasi yang benar dan ruang dialog yang sehat.

Peran jurnalisme menjadi semakin penting di tengah kebisingan informasi. Media massa memiliki tanggung jawab menghadirkan fakta yang akurat dan terverifikasi. Dalam era banjir informasi digital, jurnalisme profesional menjadi salah satu penopang penting bagi kebenaran publik. (*)


There is no ads to display, Please add some

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *