beritabernas.com – Dalam rangka Hari Ulang Tahun ke-6 Paroki Tyas Dalem Gusti Yesus Macanan, Bidang Kemasyarakatan Dewan Pastoral Paroki (DPP) menggelar sarasehan dengan mengangkat tema tentang Pencegahan Radikalisasi dan Kekerasan Anak di Gereja Santo Lukas Prambanan, pada Minggu 17 Mei 2026. Kegiatan ini diikuti perwakilan dari setiap lingkungan yakni ketua lingkungan dan minimal 2 orang OMK.
Sarasehan menghadirkan dua narasumber utama yang menyoroti kenaikan kasus kekerasan anak di DIY dan modus baru radikalisasi yang menyasar remaja melalui dunia digital.
Ketua Bidang Kemasyarakatan Dewan Pastoral Paroki AKP Ignatius Dwi Daryanto memaparkan data Polda DIY menunjukkan kenaikan kasus kekerasan pada anak usia SMP dan SMA selama kurun waktu tahun 2020-2024. Situasi ini disebutnya cukup memprihatinkan.

“Fenomena yang terjadi ada kejahatan jalanan, terkontaminasi minuman keras, dan terkontaminasi obat-obatan terlarang,” ujar Ignatius Dwi aryanto.
Menurut Dwi Daryanto, anak yang terpapar nilai-nilai kekerasan berpotensi menjadi pelaku atau korban. Kondisi ini bisa menjadi pemicu awal munculnya pola pikir radikal dengan keinginan melakukan perubahan secara keliru.
Dwi Daryanto juga menyoroti lemahnya komunikasi orangtua sebagai faktor utama. “Fenomena lain, kekerasan pada anak muncul karena kurang perhatian orangtua. Biasanya kurang komunikasi. Ini ada kaitan erat,” kata Dwi Daryanto seraya mengingatkan agar anak yang keluar malam jangan dibiarkan tanpa pengawasan.
Selain kekerasan fisik, ia menyinggung maraknya bullying non-fisik. Pelaku biasanya merasa lebih kuat secara fisik, materi maupun sosial. Ia mencontohkan kasus anak yang diejek hingga membalas dengan membawa pisau. “Efek bullying tidak seketika muncul dari diri sendiri tapi dari faktor luar, ketika anak-anak kurang pengawasan dalam bermedia sosial,” jelasnya.
Baca juga:
- Gus Miftah Ajak Pelajar Perkuat Toleransi dan Perangi Radikalisme
- KWI dan PP Muhammadiyah Sepakat Agama sebagai Kanopi Suci
- Pemuda Lintas Agama Kota Tangerang Melakukan Silaturahmi Kebangsaan
Ia berharap orangtua membangun komunikasi yang baik dengan anak. “Jangan sampai orangtua kalah dengan anak,” ujarnya.
Ia mengaku bersyukur karena selama dulu bertugas sebagai Kapolsek Berbah belum pernah mengamankan remaja dari OMK, yang menurutnya menandakan komunikasi keluarga di wilayah tersebut masih berjalan baik.
Sementara Satgas Wilayah Jateng Densus 88 Antiteror Polri Ipda Feri Pardamean Manikraja memaparkan, modus radikalisasi yang menyasar anak-anak bisa melalui lingkungan keluarga, sekolah, dan dunia digital. Ia mencontohkan tragedi di salah satu SMA di Jakarta, pelaku yang meledakkan masjid di area sekolah menunjukkan kombinasi berbahaya antara bullying dan akses digital tanpa kontrol.
Ada tiga faktor penyebab anak terpapar radikalisme. Pertama, lingkungan keluarga seperti rasa tidak berharga, broken home, kurang kasih sayang, ingin membuktikan diri, dan mudah dipengaruhi komunitas baru. Kedua, lingkungan sekolah, terutama terhadap siswa yang terisolasi akibat bullying.

Ketiga, dunia digital. Game seperti Free Fire, Mobile Legends, dan Roblox menjadi celah masuk karena memiliki fitur chat global, squad/group, invite room, voice chat, dan roleplay. “Modus yang sering ditemukan adalah pendekatan lewat pertemanan. Pelaku memberi diamond atau skin, membantu push rank, menjadi ‘abang’ senior di game, lalu membentuk kedekatan emosional,” kata Feri.
Setelah dekat, pelaku mengajak korban pindah ke grup WhatsApp, Facebook, Discord, dan Telegram. Di sana terjadi penyisipan konten ekstrem secara bertahap, mulai dari meme kekerasan, narasi kebencian, glorifikasi kekerasan, hingga ajakan “menjadi berani”. Feri menegaskan Facebook, WhatsApp, dan TikTok juga menjadi media yang kerap digunakan untuk menyebarkan konten radikal.
Sarasehan ini diharapkan menjadi langkah awal memperkuat peran orang tua dan lingkungan dalam mendeteksi dini serta mencegah anak terpapar kekerasan dan paham radikal, baik di dunia nyata maupun ruang digital. (Clementine Roesiani)
There is no ads to display, Please add some