Oleh: Prof Ir H Sarwidi MSCE PhD IP-U ASEAN Eng APEC Eng, Guru Besar Rekayasa Kegempaan/Kebencanaan Universitas Islam Indonesia, Pengarah BNPB RI Periode 2009–2025,Inovator BARRATAGA (Bangunan Rumah Rakyat Tahan Gempa)
beritabernas.com – Gempa bumi dangkal M3,6 yang kembali mengguncang Bantul pada 20 Agustus 2026 harus dimaknai sebagai alarm alam yang terus mengingatkan pentingnya mitigasi. Getaran dari aktivitas Sesar Opak ini membawa ingatan saya pada dedikasi luar biasa dalam pembangunan BARRATAGA (Bangunan Rumah Rakyat Tahan Gempa) oleh para tukang dari PAMAN BATAGA (Paguyuban Mandor Bangunan Tahan Gempa) di Jejeran, Wonokromo, Plered, Bantul pada tahun 2004 hingga 2005 silam.
Saat gempa dahsyat 27 Mei 2006 meluluhlantakkan Bantul, BARRATAGA membuktikan keandalannya. Di tengah kepungan bangunan yang roboh dan rusak berat, BARRATAGA tetap kokoh dengan kerusakan sangat minor. Sebagai penghargaan atas keberhasilan tersebut, CEEDEDS UII bekerja sama dengan Pemerintah dan Masyarakat Jepang mendirikan rumah percontohan model BARRATAGA di perempatan Pasar Wonokromo pada tahun 2006.
Baca juga:
- Prof Sarwidi: Gempa Bumi Tektonik NTT jadi Pengingat Keras bagi Indonesia
- Prof Sarwidi: Gempa Venezuela dan Jepang jadi Laboratorium Alam yang Menguji Komitmen Mitigasi
- SIMUTAGA, Karya Inovasi yang Dikembangkan oleh Prof Sarwidi Selama Lebih dari 25 Tahun
Saya sangat berharap rumah percontohan yang sudah berumur 20 tahun tersebut dapat dimanfaatkan semaksimum mungkin untuk meningkatkan kewaspadaan bencana bagi masyarakat. Masyarakat yang mengunjunginya dapat mempelajarinya secara langsung, agar kesadaran dan pengetahuan masyarakat akan pentingnya konstruksi bangunan aman gempa yang terjangkau semakin meningkat.
Peristiwa gempa 20 Agustus 2026 tersebut menegaskan bahwa ancaman tektonik tidak pernah berhenti. Mari terus hidupkan kesiapsiagaan dan pastikan setiap rumah mengadopsi standar tahan gempa, agar senantiasa menjadi tempat berlindung yang aman bagi keluarga kita. (*)
There is no ads to display, Please add some