Belajar Tentang Gerakan Nasionalis Marhaenisme Tidak Cukup Hanya dengan Membaca Buku

beritabernas.com – Ada banyak cara dilakukan untuk belajar sejarah. Seperti belajar tentang gerakan nasionalis-marhaenis, tidak cukup hanya dengan membaca buku. Sebab, sejarah juga hidup dalam ingatan, pengalaman dan cerita para pelaku yang pernah mengalami langsung dinamika perjuangan di zamannya.

Hal itu disampaikan Antonius Fokki Ardiyanto yang mewakili DPP Gerakan Pemuda Marhaenis (GPM) menghadiri Pengukuhan DPP Gerakan Siswa Nasional Indonesia (GSNI) di Gedung Kagama UGM pada Sabtu 15 Agustus 2026.

Setelah menghadiri acara tersebut, Fokki melanjutkan perjalanan ke Kedai Kopi ANYOS di Boyong, Hargobinangun, Pakem, Sleman, yang berada di kawasan lereng Merapi. Kedai tersebut merupakan usaha milik Yos Sutiyoso, senior gerakan nasionalis-marhaenis di DIY yang akrab disapa Kakek. Di tempat yang sederhana dan berada di kawasan sejuk lereng Merapi itu, Fokki bertemu dengan sejumlah senior marhaenis lainnya, di antaranya Bambang Praswanto, yang menjabat sebagai Ketua DPD PDI Perjuangan DIY periode 2015–2020 dan Nanok, adik dari tokoh GPM DIY Djuwarto yang menjabat sebagai Ketua DPD PDI Perjuangan DIY periode 2004–2009.

Pertemuan tersebut kemudian berubah menjadi ruang dialog yang penuh cerita. Bukan sekadar perbincangan politik praktis, tetapi percakapan tentang perjalanan panjang gerakan nasionalis-marhaenis dalam menghadapi berbagai perubahan zaman. Ketiganya banyak bercerita tentang pengalaman membesarkan gerakan, bagaimana mengorganisir dan mengonsolidasikan kekuatan Soekarnois serta bagaimana para aktivis pada masa itu menghadapi dinamika, dialektika dan berbagai tantangan politik yang muncul dalam perjalanan sejarah Indonesia.

Cerita-cerita tersebut juga membawa Fokki pada pengalaman masa pemerintahan Soekarno maupun masa rezim Soeharto. Ada kisah tentang bagaimana kekuatan Soekarnois berusaha tetap menjaga api ideologi, membangun jaringan, mempertahankan solidaritas dan mencari ruang perjuangan di tengah perubahan politik yang tidak selalu mudah.

Baca juga:

Bagi Fokki, cerita para senior tersebut bukan sekadar romantika masa lalu. “Yang saya tangkap dari pertemuan ini adalah bahwa gerakan tidak pernah lahir dari ruang kosong. Ada pengalaman panjang, ada pengorbanan, ada dialektika, ada kegembiraan, ada kekecewaan, bahkan ada masa-masa sulit yang harus dilalui. Semua itu menjadi pelajaran penting bagi generasi sekarang,” ujar Fokki.

Menurut Fokki, pengalaman para senior marhaenis tersebut memiliki relevansi penting bagi upaya membesarkan kembali GPM di Indonesia. GPM, kata Fokki, tidak cukup hanya dibangun melalui struktur organisasi. Lebih dari itu, dibutuhkan kemampuan mengorganisir rakyat, membangun kader, memperluas jaringan, mengonsolidasikan kekuatan dan menerjemahkan ajaran Marhaenisme ke dalam persoalan konkret masyarakat hari ini.

“Kita tidak boleh terjebak pada romantisme masa lalu, tetapi juga tidak boleh kehilangan ingatan sejarah. Justru dari pengalaman para senior inilah kita bisa belajar bagaimana sebuah gerakan dibangun, dipertahankan dan dikembangkan,” katanya.

Fokki melihat salah satu kekuatan penting gerakan nasionalis-marhaenis pada masa lalu adalah kemampuan membangun persaudaraan ideologis sekaligus jaringan perjuangan. Perbedaan dinamika dan kondisi politik tidak selalu membuat gerakan kehilangan arah, karena ada nilai dan keyakinan yang menjadi titik temu bersama.

Dari percakapan di Kedai ANYOS tersebut, Fokki mendapatkan satu kesimpulan penting: membangkitkan kembali GPM bukan sekadar membangun organisasi, tetapi membangun kembali tradisi gerakan. Tradisi berdiskusi, tradisi turun ke masyarakat, tradisi mengorganisir kaum marhaen, tradisi melakukan kaderisasi, tradisi membaca perubahan zaman dan tradisi menjaga ideologi agar tetap hidup dalam tindakan nyata.

Menurut Fokki, tantangan generasi sekarang tentu berbeda dengan tantangan para seniornya. Jika dahulu perjuangan menghadapi situasi politik yang berbeda, maka hari ini gerakan nasionalis-marhaenis berhadapan dengan persoalan baru seperti ketimpangan ekonomi, ketidakpastian pekerjaan, dominasi kapital, perkembangan teknologi digital, perubahan karakter generasi muda serta semakin kompleksnya persoalan sosial masyarakat. Karena itu, pengalaman masa lalu harus dibaca secara dialektis.

“Kita tidak mungkin mengulang sejarah. Tetapi kita bisa mengambil hikmah dari sejarah. Apa yang berhasil kita pelajari, apa yang menjadi kekuatan mereka kita hidupkan kembali, sementara cara-cara perjuangan harus kita sesuaikan dengan zaman,” tegas Fokki.

Pertemuan di lereng Merapi itu pun menjadi semacam ruang transfer pengetahuan lintas generasi. Dari para senior yang pernah mengalami langsung dinamika gerakan nasionalis-marhaenis, kepada generasi yang kini mendapatkan tugas untuk melanjutkan dan memperbarui perjuangan tersebut. Bagi Fokki, momentum 15 Agustus 2026 menjadi pengalaman yang menarik: pagi dan siang menghadiri pengukuhan generasi pelajar melalui GSNI, kemudian sore dan malam menyerap pengalaman dari para senior gerakan nasionalis-marhaenis.

Dua momentum berbeda generasi tersebut justru bertemu pada satu kebutuhan yang sama: membangun generasi muda yang memiliki karakter kebangsaan, keberpihakan kepada rakyat dan keberanian untuk menjadi bagian dari perubahan. Dari Gedung Kagama hingga Kedai Kopi ANYOS di lereng Merapi, Fokki membawa pulang bukan hanya cerita, tetapi juga sebuah pekerjaan rumah: bagaimana menjadikan pengalaman sejarah sebagai energi baru untuk membesarkan dan membangkitkan kembali Gerakan Pemuda Marhaenis di seluruh Indonesia.

“Cerita mereka harus menjadi energi bagi kita. Kalau para senior dahulu mampu menjaga api perjuangan dalam situasi yang sangat sulit, maka generasi sekarang harus mampu membuat api itu kembali menyala lebih besar, lebih terbuka dan lebih relevan dengan persoalan rakyat hari ini,” kata Fokki. (phj)


There is no ads to display, Please add some

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *