BI, GIPI dan ISEI Cabang Yogyakarta Dorong Kunjungan Wisatawan Malaysia ke DIY

beritabernas.com – Kantor Bank Indonesia (BI) Perwakilan DIY telah menerapkan QR (Quick Response) Code dengan beberapa negara di ASEAN. Hal ini sebagai salah satu upaya BI untuk memudahkan sekaligus mendorong warga di negara-negara ASEAN berkunjung ke Indonesia, termasuk DIY, dan sebaliknya warga Indonesia datang ke negara-negara ASEAN.

Hal itu disampaikan Budiharto Setyawan, Kepala Kantor BI Perwakilan DIY, dalam diskusi terbatas yang diadakan Kantor BI Perwakilan DIY bekerjasama dengan Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) DIY dan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Yogyakarta, Senin 12 Juni 2023.

Dalam diskusi terbatas dengan tema Mendorong Kunjungan Wisatawan Malaysia ke Yogyakarta yang dipandu Dr Y Sri Susilo, Sekretaris ISEI Cabang Yogyakarta yang juga Dosen FBE UAJY itu, Budiharto Setyawan mengungkapkan bahwa setelah Thailand pada tahun 2022, mulai Mei 2023 warga Indonesia yang melancong ke Malaysia dapat memindai QR Cross Border atau DuitNow QR Code di toko yang berpartisipasi dalam skema QR. Begitu pula wisatawan Malaysia yang berkunjung ke Indonesia, termasuk Yogyakarta, dapat melakukan pembayaran di merchant QRIS (QR Code Indonesian Standard).

Menurut Budiharto Setyawan, kerja sama yang dilakukan antara BI dengan Bank Negara Malaysia (BNM) memungkinkan masyarakat di kedua negara untuk melakukan pembayaran ritel enggunakan QR Code pembayaran nasional di Indonesia yaitu QRIS maupun QR Code pembayaran Malaysia, yaitu DuitNow, baik pada merchant offline dan online.

“Saat ini penerbangan langsung (direct flight) Kuala Lumpur-Yogyakarta International Airport  (YIA) sebanyak 5 kali dalam sehari,” kata Budiharta Setyawan seperti dikutip Sekretaris ISEI Cabang Yogyakarta Y Sri Susilo dalam rilis yang dikirim kepada beritabernas.com, Selasa 13 Juni 2023.

Jonatan EW bersama anggota Tim Peneliti Mahasiswa FBE UAJY. Foto: Istimewa

Selain itu, menurut Budiharto Setyawan, terdapat penerbangan transit melalui Bandara Soekarta-Hatta sebanyak 10 kali sehari. Dengan adanya penerbangan langsung dan diberlakukan QR Cross Border antara Indonesia dengan Malaysia maka potensi dan peluang kunjungan wisatawan dari Malaysia ke Yogyakarta bisa ditingkatkan.

Dikatakan, dengan penerapan QR Cross Border dan adanya penerbangan langsung tersebut menjadi tantangan bagi Jonathan Ersten Herawan yang mewakili Tim Peneliti Mahasiswa FBE UAJY dan tim menyusun paper singkat yang dapat menjelaskan strategi dan upaya untuk meningkatkan kunjungan wisatawan Malaysia ke Yogyakarta atau DIY dan sekitarnya.

Penulisan paper tersebut dibimbing oleh Y Sri Susilo dan Budiharto Setyawan. “Dengan segala kelebihan dan kekurangan saya memberikan apresiasi kepada mas Jonatan dan tim yang telah menjawab tantangan dalam paper yang cukup baik,” ujar Budiharta Setyawan.

Menurut Y Sri Susilo, paper segera direvisi berdasarkan masukan peserta diskusi, baik dari GIPI DIY dan Kantor BI Perwakilan DIY.

Daya tarik wista DIY

Sementara Jonathan Ersten Herawan sebagai narasumber pemicu diskusi tersebut, mengatakan, daya tarik pariwisata DIY dapat ditingkatkan melalui berbagai paket program yang menarik bagi wisatawan dari Malaysia.

Menurut Jonatan, paket wisata yang dibuat harus mengakomodasi selera atau cita rasa serta daya beli wisatawan Malaysia. Berdasarkan beberapa hasil riset, wisatawan Malaysia tertarik pada bangunan cagar budaya (heritage) dan relatif sensitif terhadap perubahan harga.

BACA JUGA:

Selanjutnya destinasi wisata di Yogyakarta harus didukung dengan infrastruktur yang dapat menggunakan QR Cross Border dalam transaksi ritel. “Jika perlu diberikan insentif bagi wisatawan Malaysia yang bertransaksi menggunakan QR Cross Border,” usul Jonatan dalam paparan materi diskusi.

Sedangkan Bobby Ardyanto SA, Ketua GIPI DIY, selaku pembahas materi yang disampaikan Jonatan mengatakan, pket wisata memang harus disusun berdasarkan selera, preferensi dan daya beli (calon) wisatawan.

Menurut Bobby Ardyanto, wisatawan Malaysia kurang suka makanan yang manis, seperti bakpia dan gudeg. Mereka lebih menyukai makanan yang masih panas sebelum disantap. Di samping itu, mereka cenderung lebih memilih hotel bintang 3-4.

Selain itu, menurut Bobby, wisatawan Malaysia juga mengeluh soal tiket masuk Candi Borobudur dan Candi Prambanan yang mereka anggap mahal. “Intinya pelaku industri wisata harus mengetahui, memahami dan melayani keinginan wisatawan yang berkunjung ke DIY,” kata Bobby. (lip)


There is no ads to display, Please add some

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *