Oleh: Lorensius Septo, Mahasiswa Nim (242314001) Program Studi Ekonomi, Universitas Sanata Dharma
beritabernas.com – Musim panen selalu di Ketapang, Kalimantan Barat, membawa suasana meriah di sawah. Gabah dikumpulkan dalam karung, para tetangga turun membantu dan kabar baik cepat menyebar dari mulut ke mulut. Tetapi di balik kemeriahan itu, ada satu pertanyaan yang jarang muncul: dengan luas lahan, tenaga, dan modal yang sama, seberapa besar hasil yang sebenarnya bisa dicapai?
Pertanyaan tersebut menandai perbedaan antara panen biasa dan panen yang produktif. Di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, jawabannya masih menjadi tugas yang belum selesai. Budidaya padi di daerah ini masih terkendala dalam hal penerapan pengetahuan, teknologi, dan metode bertani yang lebih modern.
Modern belum tentu mahal
Istilah modernisasi pertanian kerap membuat orang teringat pada traktor besar, mesin pemanen, atau perangkat berteknologi tinggi. Bagi petani kecil di desa, semua itu terasa seperti hal yang sulit dijangkau.
Padahal, AT Mosher dalam bukunya tahun 1966 menegaskan bahwa kemajuan pertanian tidak lahir dari satu faktor tunggal. Menurutnya, ada syarat pokok berupa teknologi yang terus berkembang, pasar, insentif, sarana produksi, dan transportasi. Di samping itu ada syarat pelancar, antara lain pendidikan pembangunan, kredit, kerja sama antarpetani, dan penyuluhan.
Intinya jelas. Petani perlu didukung oleh lingkungan yang memampukan mereka mengubah cara bertani, dan perubahan itu bisa berawal dari hal-hal yang sudah ada di sekitar mereka.
Contoh nyata terlihat di Desa Pematang Gadung, Kuala Tolak, dan Tanjung Pura. Laporan Yayasan IAR Indonesia (YIARI) pada April 2023 mencatat bahwa kelompok tani di tiga desa tersebut mendapat pendampingan untuk membuat pupuk dan pestisida organik secara mandiri, kemudian memakainya di lahan garapan. Sebagian besar anggotanya pernah bekerja sebagai penambang emas ilegal dan penebang kayu liar, dan sekarang beralih menjadi petani.
Angka hasil panennya patut diperhatikan. Di Pematang Gadung, lahan satu hektar milik Pak Misrai menghasilkan 825 kilogram padi, padahal setahun sebelumnya hanya 216 kilogram. Lahan Ibu Nuraida, juga satu hektar, menghasilkan 972 kilogram dari sebelumnya 600 kilogram. Sementara itu di Kuala Tolak, kelompok tani Semangat Jaya Bersama memperoleh 563 kilogram dari lahan seluas 1.800 meter persegi, meningkat sekitar 43 persen dari hasil sebelumnya sebesar 394 kilogram.
Meski begitu, angka-angka ini sebaiknya dibaca dengan hati-hati. Data tersebut bersumber dari satu laporan lembaga pendamping di tiga lokasi, sehingga belum bisa dianggap mewakili seluruh Ketapang. Peningkatan hasil pun tidak dapat dikaitkan dengan satu penyebab saja, karena perawatan tanaman turut membaik selama masa pendampingan.
Namun satu kesimpulan tetap terang: hasil 825 dan 972 kilogram per hektar masih jauh di bawah kemampuan lahan padi pada umumnya. Ini berarti peluang untuk menaikkan produktivitas di Ketapang masih terbuka lebar.
Teknologi yang dibuat petani sendiri
Bagian paling menarik dari cerita ini terletak pada jenis teknologi yang dipakai. Perubahan tidak dimulai dari mesin mahal atau bahan yang harus dibeli dari luar daerah, melainkan dari pupuk dan pestisida organik yang bisa diracik sendiri oleh petani.
Jika dilihat dari kerangka Mosher, hal ini menjawab dua syarat sekaligus, yakni teknologi dan sarana produksi. Saat petani sanggup menyediakan sendiri kebutuhannya, ketergantungan pada pasokan luar pun menyusut. Hal ini sangat berarti bagi Ketapang, yang desa-desanya saling berjauhan dan akses terhadap sarana produksinya tidak selalu mudah.
Teknologi yang murah, gampang dipelajari, dan bisa segera dicoba juga mendorong petani lebih berani meninggalkan kebiasaan lama.
Baca juga:
- Pusham UII: Pemerintah Perlu Meninjau Ulang Mekanisme Perubahan Status Lahan Sawah Dilindungi
- UII Berkolaborasi dengan UNSIQ Wujudkan Pertanian Cerdas Iklim di Lereng Dieng
- Pertanian Terpadu jadi Solusi Mengatasi Tantangan di Sektor Pertanian
- Java Regional Economic Forum Bahas Strategi Hilirisasi Pertanian dan Ketahanan Pangan di Jawa
Pelatihan yang diberikan tidak hanya berlangsung di ruang pertemuan. Ilmunya langsung diterapkan di lahan milik warga. Saat panen di lahan Pak Misrai, 24 warga ikut terlibat, dan di lahan Ibu Nuraida ada 26 ibu dari komunitas The Power of Mama.
Pengaruhnya terasa pada kelompok. Pada 2021, Sejahtera Kite di Pematang Gadung baru beranggotakan tujuh orang, lalu setahun kemudian jumlahnya naik menjadi 22 orang. Ketika petani menyaksikan tetangganya berhasil, rasa percaya tumbuh dengan sendirinya. Ilmu yang dipraktikkan bersama lebih mudah diterima dibandingkan ilmu yang hanya diceramahkan.
Supaya kisah ini tidak berhenti sebagai keberhasilan setempat, ada beberapa langkah yang layak ditempuh. Pertama, pemerintah daerah dan penyuluh pertanian bisa memperluas pelatihan pupuk dan pestisida organik ke desa-desa lain, bekerja sama dengan lembaga pendamping dan mitra swasta.
Kedua, lahan kelompok tani yang berhasil dapat dijadikan tempat belajar bagi petani di sekitarnya, sehingga praktik yang baik menyebar dari petani ke petani. Ketiga, teknologi sederhana perlu dilengkapi dengan syarat lain menurut Mosher, seperti akses pasar, transportasi, dan kredit. Tanpa itu, kenaikan hasil panen belum tentu meningkatkan kesejahteraan petani. Keempat, produktivitas perlu dicatat dan dipantau secara rutin, agar keberhasilan dapat diukur dan dibandingkan, bukan sekadar dirasakan.
Kemajuan pertanian padi Ketapang tidak cukup dinilai dari jumlah karung yang dibawa pulang. Ukuran sebenarnya adalah seberapa baik lahan, pengetahuan, dan tenaga petani dimanfaatkan. Modernisasi tidak perlu menunggu mesin datang. Ia dapat dimulai dari ilmu yang dipraktikkan bersama dan teknologi sederhana yang berada dalam genggaman petani sendiri.
Dengan dukungan yang tepat, panen tidak lagi menjadi garis akhir kerja petani, melainkan bukti bahwa kerja mereka semakin produktif. (*)
There is no ads to display, Please add some