Oleh Ben Senang Galus, Dosen, Esais, tinggal di Yogyakarta
beritabernas.com – Dalam kebudayaan Manggarai, Flores, NTT, tanah bukan sekadar hamparan geografis tempat manusia mendirikan rumah, bercocok tanam, dan mencari nafkah. Tanah adalah ruang kehidupan yang menyimpan ingatan leluhur, membentuk identitas dan menyediakan sumber penghidupan bagi generasi demi generasi.
Dalam konteks ini, konsep Nuca Lale menarik untuk direnungkan, bukan hanya sebagai sebutan wilayah yang dikenal dalam tradisi lisan sebelum nama Manggarai digunakan secara luas, melainkan juga sebagai pintu masuk untuk memahami hubungan manusia, sejarah, dan alam dalam pandangan hidup masyarakat Manggarai.
Secara kebahasaan, kata nuca merupakan bentuk penyebutan lokal dari kata nusa. Di beberapa wilayah Manggarai, terjadi variasi pengucapan yang memperlihatkan pertukaran bunyi /s/ dan /c/. Sebagai contoh, kata camat dapat diucapkan samat. Fenomena kebahasaan ini menunjukkan adanya kekhasan dalam pelafalan kata di lingkungan masyarakat Manggarai. Hingga saat ini, penyebutan nuca tetap digunakan secara luas dan telah menjadi bentuk yang lazim dalam bahasa setempat untuk merujuk pada nusa.
Dalam pengetahuan lokal, nuca atau nusa dimaknai sebagai pulau atau daratan. Sementara itu, kata lale merujuk pada sejenis pohon liar yang tumbuh di kawasan hutan. Keberadaan pohon ini dikenal melalui buahnya yang menjadi sumber makanan bagi sejumlah satwa, antara lain monyet dan kelelawar.
Secara botani, pohon yang disebut lale tersebut diduga berkaitan dengan Artocarpus camansi, salah satu spesies tumbuhan dari kelompok sukun yang menghasilkan buah dengan banyak biji. Namun, identifikasi ini masih memerlukan verifikasi lebih lanjut melalui pengamatan ciri-ciri morfologi tumbuhan atau kajian botani yang dapat memastikan kesesuaiannya dengan tumbuhan yang dikenal masyarakat setempat sebagai lale.
Bagi masyarakat Manggarai, keberadaan pohon lale dalam jumlah banyak dipercaya menjadi petunjuk bahwa suatu wilayah memiliki tanah yang subur dan kemampuan menyimpan air. Pengetahuan ini memperlihatkan cara masyarakat membaca alam melalui pengamatan yang diwariskan lintas generasi. Hutan tidak hanya dinilai berdasarkan kayu yang dapat dijual atau lahan yang dapat dibuka, tetapi juga melalui tanda-tanda ekologis yang berkaitan dengan kesuburan tanah dan keberlangsungan sumber air.
Baca juga:
- “Neka Lage Lege”: Filsafat Batas dan Etika Kecukupan dalam Kebudayaan Manggarai
- Ganggakrasi, Ketika Kekuasaan Menolak Kebenaran
- Politisi “Teke One Dongang”
Dari sini, Nuca Lale dapat dikembangkan sebagai gagasan filosofis yang menghubungkan tanah leluhur, ingatan sejarah, dan kebijaksanaan ekologis. Ketiganya tidak berdiri sendiri. Sejarah memberi manusia ingatan tentang asal-usulnya, tanah menyediakan ruang bagi keberlangsungan kehidupan, sedangkan alam mengajarkan batas-batas yang perlu dihormati agar kehidupan tetap terpelihara.
Kesadaran asal usul
Nuca Lale mempunyai arti penting dalam ingatan budaya masyarakat Manggarai. Nama ini dapat dipahami sebagai representasi tanah leluhur, yakni ruang tempat kehidupan sosial, adat istiadat, dan hubungan antarkomunitas berkembang.
Dalam perspektif antropologi, tanah tidak semata-mata merupakan objek geografis atau kepemilikan ekonomi. Tanah juga merupakan ruang kebudayaan yang menyimpan sejarah, identitas, dan ingatan kolektif. Hubungan manusia dengan tanah dibentuk oleh pengalaman hidup, sistem kekerabatan, praktik pertanian, tradisi adat, serta cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Karena itu, ketika masyarakat Manggarai mengingat Nuca Lale, yang diingat bukan hanya nama sebuah wilayah. Di dalamnya terdapat kesadaran tentang asal-usul, hubungan dengan lingkungan, dan keberadaan komunitas yang telah membangun kehidupan jauh sebelum batas-batas administratif modern terbentuk.
Penting untuk menegaskan bahwa keberadaan nama Nuca Lale sebagai sebutan lama dalam tradisi lokal tidak dengan sendirinya membuktikan seluruh rincian mengenai asal-usul nama Manggarai. Tradisi lisan, etimologi, dan sejarah tertulis merupakan sumber pengetahuan yang saling melengkapi, tetapi masing-masing perlu dibaca sesuai karakter dan kekuatan buktinya.
Dari Nuca Lale menjadi Manggarai
Salah satu kisah yang berkembang dalam tradisi lisan mengenai asal-usul nama Manggarai berkaitan dengan hubungan antara masyarakat Manggarai dan Kesultanan Bima. Sebelum nama Manggarai dikenal luas, wilayah ini disebut Nuca Lale, sebuah nama yang diwariskan dalam ingatan dan tradisi masyarakat setempat.
Dalam salah satu versi cerita, asal-usul nama Manggarai dikaitkan dengan seorang tokoh bernama Mangga Macing, putra Nunisa, yang disebut memiliki tiga saudara, yaitu Nanga Lere, Tulus Kuru, dan Jena Ili Woha. Kisah mengenai tokoh-tokoh tersebut dihubungkan dengan kedatangan orang-orang Bima serta ekspedisi dan perluasan pengaruh Bima di wilayah Nuca Lale. Cerita ini menjadi salah satu bagian dari penuturan tradisional mengenai hubungan historis antara kedua wilayah.
Selain itu, terdapat cerita populer yang menjelaskan asal-usul nama Manggarai melalui ungkapan dalam bahasa Mbojo (Bima), yakni manggar dan rai. Dalam penuturan tersebut, manggar diartikan sebagai jangkar atau sauh, sedangkan rai diartikan sebagai lari. Kisah ini kemudian dihubungkan dengan peristiwa hanyutnya jangkar atau sauh sebuah perahu ketika rombongan dari Bima hendak berlabuh di wilayah Nuca Lale. Peristiwa tersebut konon menjadi asal mula penggunaan nama Manggarai untuk menyebut wilayah itu.
Meskipun demikian, cerita tentang perubahan nama Nuca Lale menjadi Manggarai perlu ditempatkan secara hati-hati dalam kajian sejarah. Kisah mengenai Mangga Macing maupun penjelasan berdasarkan ungkapan manggar dan rai merupakan bagian dari tradisi penuturan yang berkembang di tengah masyarakat. Hubungan langsung antara kisah-kisah tersebut dan asal-usul nama Manggarai belum dapat dipastikan tanpa dukungan sumber sejarah dan kajian kebahasaan yang memadai.
Untuk memahami persoalan ini secara lebih mendalam, diperlukan penelusuran terhadap sumber-sumber sejarah Manggarai dan Bima, termasuk naskah tradisional, arsip kolonial, dokumen lama, serta penelitian linguistik mengenai perkembangan nama tempat. Karya Dami N. Toda tentang sejarah Manggarai juga dapat dijadikan salah satu rujukan untuk menelusuri sejarah lokal dan memahami hubungan antara tradisi lisan, identitas masyarakat, serta perkembangan sejarah kawasan tersebut. Namun, setiap versi cerita tetap perlu ditelaah berdasarkan sumber, konteks, dan bukti yang tersedia.
Hal penting yang perlu ditegaskan ialah bahwa hubungan historis dengan Bima tidak berarti masyarakat Manggarai baru terbentuk setelah kedatangan orang-orang dari luar. Jauh sebelum hubungan politik dan sosial dengan Bima berkembang, masyarakat setempat telah memiliki kehidupan, tradisi, tatanan sosial, serta hubungan dengan lingkungan alamnya sendiri. Karena itu, pengaruh Bima perlu dipahami sebagai salah satu bagian dari perjalanan sejarah Manggarai, bukan sebagai satu-satunya dasar keberadaan masyarakat Manggarai.
Dengan demikian, kisah perubahan nama Nuca Lale menjadi Manggarai dapat dipahami sebagai bagian dari warisan tradisi lisan yang merekam ingatan masyarakat tentang masa lalu dan hubungan antardaerah. Kedua nama tersebut memiliki tempat dalam pembacaan sejarah dan identitas lokal. Nama Manggarai yang dikenal kemudian tidak serta-merta menghapus arti penting Nuca Lale sebagai nama yang diwariskan dalam tradisi masyarakat.
Pada akhirnya, memahami asal-usul nama Manggarai bukan hanya persoalan mencari satu cerita yang dianggap paling benar, melainkan juga upaya menelusuri hubungan antara tradisi lisan, sumber sejarah, bahasa, dan pengalaman masyarakat setempat. Dengan pendekatan yang terbuka dan kritis, kisah Nuca Lale dan Manggarai dapat menjadi pintu masuk untuk memahami perjalanan sejarah serta pembentukan identitas masyarakat Manggarai secara lebih utuh.
Pohon Lale dan pengetahuan ekologis masyarakat Manggarai
Di luar persoalan asal-usul nama, konsep Nuca Lale memiliki dimensi ekologis yang penting. Pengetahuan masyarakat tentang pohon lale menunjukkan bahwa alam dapat dibaca melalui tanda-tanda yang diamati secara turun-temurun. Keberadaan suatu jenis tumbuhan, kondisi vegetasi, dan ketersediaan air dapat menjadi petunjuk bagi masyarakat dalam memahami karakter suatu wilayah.
Pengetahuan tersebut tidak boleh langsung dianggap sebagai bukti ilmiah bahwa pohon lale selalu menandakan tanah subur atau memiliki kemampuan menyimpan air yang lebih tinggi. Hubungan itu perlu diteliti dengan mengamati kondisi tanah, struktur vegetasi, curah hujan, topografi, dan karakter perakaran pohon. Namun, pengamatan masyarakat tetap memiliki nilai sebagai titik awal penelitian karena lahir dari interaksi panjang dengan lingkungan setempat.
Secara ekologis, vegetasi hutan memang berperan penting dalam menjaga fungsi tanah dan air. Akar tumbuhan dapat membantu mengikat tanah, sementara serasah daun dan bahan organik berkontribusi terhadap struktur tanah serta proses infiltrasi air. Tutupan vegetasi juga dapat mengurangi energi pukulan air hujan pada permukaan tanah dan membantu menekan risiko erosi. Besarnya pengaruh setiap jenis tumbuhan bergantung pada kondisi ekosistem dan karakter lokasi.
Dalam konteks ini, pohon lale dapat menjadi simbol penting dari pengetahuan ekologis masyarakat Manggarai. Nilainya bukan semata-mata terletak pada fungsi satu spesies, tetapi juga pada cara masyarakat memperhatikan hubungan antara tumbuhan, tanah, air, dan keberlangsungan hidup.
Perspektif antropologi membantu kita memahami bahwa kebudayaan mencakup lebih dari adat istiadat, bahasa, dan ritual. Kebudayaan juga meliputi pengetahuan praktis tentang lingkungan: kapan tanah layak diolah, bagaimana air dipertahankan, tumbuhan apa yang tumbuh pada suatu wilayah, serta bagaimana perubahan alam memengaruhi kehidupan masyarakat.
Karena itu, pengetahuan tentang pohon lale layak didokumentasikan dan diteliti bersama masyarakat pemilik pengetahuan tersebut. Penelitian ilmiah tidak perlu menggantikan pengetahuan lokal, melainkan dapat berdialog dengannya untuk memperoleh pemahaman yang lebih utuh tentang lingkungan Manggarai.
Filsafat Nuca Lale: tanah bukan sekadar komoditas
Dalam perspektif filosofis, Nuca Lale mengajak kita mempertanyakan cara manusia memandang tanah. Dalam sistem ekonomi modern, tanah sering dinilai berdasarkan harga jual, potensi investasi, dan keuntungan yang dapat dihasilkan. Hutan dapat dipandang sebagai cadangan kayu, sedangkan lahan dianggap sebagai ruang produksi yang nilainya meningkat ketika dapat dimanfaatkan secara komersial.
Pandangan ekonomi semacam ini tidak selalu keliru. Tanah memang mempunyai nilai ekonomi dan dapat menjadi sumber kesejahteraan. Persoalan muncul ketika nilai ekonomi menjadi satu-satunya ukuran, sementara fungsi ekologis, hubungan budaya, dan kepentingan generasi mendatang diabaikan.
Jika hutan dibuka tanpa mempertimbangkan kondisi lingkungan, keuntungan jangka pendek dapat dibayar dengan kerusakan jangka panjang. Berkurangnya tutupan vegetasi dapat meningkatkan risiko erosi, mengubah aliran air, dan mengganggu keseimbangan ekosistem. Dampaknya dapat dirasakan oleh petani, masyarakat yang bergantung pada mata air, serta generasi yang mewarisi lahan tersebut.
Nuca Lale, sebagai gagasan yang menghubungkan tanah dan kehidupan, dapat menjadi kritik terhadap cara pandang yang memisahkan manusia dari alam. Manusia bukan penguasa mutlak yang bebas mengambil seluruh sumber daya, melainkan bagian dari sistem kehidupan yang mempunyai batas ekologis.
Dari sudut pandang ini, tanah bukan hanya sesuatu yang dimiliki oleh generasi sekarang. Tanah juga merupakan penopang kehidupan generasi mendatang. Mengelola tanah secara bertanggung jawab berarti menjaga agar sumber penghidupan tetap tersedia, bukan menghabiskan daya dukung lingkungan demi keuntungan sesaat.
- Bukan Sekadar Panen, Mendorong Pertanian Padi Ketapang yang Lebih Produktif
- Inovasi Pangan Harus Dimulai dari Tanah dan Air
Filsafat Nuca Lale dengan demikian dapat dirumuskan sebagai etika tanggung jawab terhadap tanah: memanfaatkan alam tanpa menghancurkan kemampuan alam untuk menopang kehidupan. Kemajuan ekonomi tetap diperlukan, tetapi harus berjalan bersama perlindungan hutan, pemeliharaan sumber air, dan penghormatan terhadap hak masyarakat yang bergantung pada lingkungan tersebut.
Krisis lingkungan dan relevansi Nuca Lale
Dalam menghadapi krisis lingkungan, kebijaksanaan lokal seperti Nuca Lale mempunyai relevansi yang semakin besar. Kerusakan hutan, perubahan tata guna lahan, degradasi tanah, dan tekanan terhadap sumber air menunjukkan bahwa pembangunan tidak dapat hanya dinilai berdasarkan pertumbuhan ekonomi atau peningkatan pendapatan dalam jangka pendek.
Pertanyaan yang lebih mendasar ialah: apakah pembangunan tersebut memperkuat atau justru merusak fondasi ekologis kehidupan masyarakat?
Jika suatu kegiatan ekonomi menghasilkan keuntungan besar tetapi mengurangi kemampuan tanah menyimpan air, merusak habitat, atau mengancam sumber penghidupan warga, manfaatnya perlu dinilai kembali. Pembangunan yang mengabaikan kondisi ekologis berisiko memindahkan biaya kepada masyarakat dan generasi mendatang.
Di sinilah Nuca Lale dapat menjadi landasan etis bagi pengelolaan lingkungan di Manggarai. Pemerintah, masyarakat adat, lembaga pendidikan, dan pelaku usaha perlu bekerja sama menjaga tutupan hutan, melindungi mata air, memulihkan lahan yang rusak, serta mengembangkan praktik pertanian yang sesuai dengan daya dukung lingkungan.
Masyarakat adat juga perlu dilibatkan secara bermakna dalam pengambilan keputusan mengenai tanah dan sumber daya alam. Pelibatan tersebut bukan sekadar formalitas, melainkan pengakuan bahwa masyarakat memiliki pengalaman, kepentingan, dan pengetahuan yang relevan bagi pengelolaan lingkungan.
Pada saat yang sama, kebijaksanaan lokal perlu didokumentasikan secara sistematis. Penelitian mengenai pohon lale, misalnya, dapat mencakup pemastian identitas spesies, pemetaan persebaran, pengamatan kondisi tanah, serta pengukuran infiltrasi dan kelembapan tanah pada lokasi yang relevan. Hasilnya dapat membantu menjelaskan bagian mana dari pengetahuan lokal yang didukung temuan ilmiah dan bagian mana yang masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.
Dengan pendekatan seperti ini, kebudayaan tidak hanya menjadi warisan yang dikenang, tetapi juga sumber pengetahuan yang berkontribusi pada penyelesaian persoalan masa kini.
Nuca Lale mempertemukan dua dimensi penting dalam kehidupan masyarakat Manggarai: ingatan tentang tanah leluhur dan pengetahuan tentang alam yang menopang kehidupan. Sebagai sebutan wilayah dalam tradisi lisan, Nuca Lale mengingatkan masyarakat pada perjalanan sejarah dan pembentukan identitasnya. Sebagai konsep ekologis yang bertolak dari pengetahuan mengenai pohon lale, Nuca Lale mengajak manusia memperhatikan hubungan antara vegetasi, tanah, air, dan keberlanjutan kehidupan.
Kedua dimensi ini perlu dipahami secara cermat. Asal-usul nama Nuca Lale dan perubahan penggunaannya menjadi Manggarai masih perlu ditelusuri melalui perbandingan tradisi lisan dan sumber sejarah. Demikian pula, hubungan pohon lale dengan kesuburan tanah dan penyimpanan air perlu dipertemukan dengan penelitian ilmiah. Sikap kritis bukanlah penolakan terhadap kebudayaan, melainkan cara merawatnya agar pengetahuan yang diwariskan dapat dipahami dan dipertanggungjawabkan.
Pada akhirnya, Nuca Lale mengajarkan bahwa tanah tidak hanya memiliki nilai karena apa yang dapat diambil darinya, tetapi juga karena kehidupan yang ditopangnya. Hutan bukan sekadar kumpulan pohon, melainkan bagian dari sistem ekologis yang menjaga tanah, air, dan keberlangsungan masyarakat. Sejarah bukan sekadar cerita tentang nama yang berubah, melainkan ingatan yang membantu manusia memahami hubungannya dengan tempat asalnya.
Merawat Nuca Lale berarti merawat ingatan tentang tanah leluhur sekaligus menjaga daya hidup alam yang diwariskan kepada generasi berikutnya. Sebab, tanah yang benar-benar kaya bukan hanya tanah yang menghasilkan keuntungan hari ini, melainkan tanah yang tetap subur, mampu menopang kehidupan, dan memberikan harapan bagi mereka yang akan datang. (*)
There is no ads to display, Please add some