beritabernas.com –Diakteri untuk Dialog Interreligius Vatikan menyampaikan pesan kepada umat Buddha dan Kristen Katolik menyambut Hari Raya Waisak pada Minggu 31 Mei 2026. Pesan tersebut ditandatangani oleh George Jacob Kardinal Koovakad (Prefek) dan Mgr Indunil Kodithuwakku Janakaratne Kankanamalage (Sekretaris) diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Romo Aloys Budi Purnomo Pr, Sekretaris Eksekutif Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI).
Dalam pesan berjudul Umat Buddha dan Kristen Katolik untuk Perdamaian yang “Tanpa Senjata dan Melucuti Senjata” itu, Dikasteri untuk Dialog Interreligius, mengatakan, sseperti tahun-tahun sebelumnya, kami dengan senang hati menyampaikan salam dan harapan baik yang tulus pada perayaan Waisak yang penuh sukacita.
Perayaan penting ini-memperingati Trisuci momentum: kelahiran, pencerahan dan wafat Sang Buddha-menurut Dikassteri untuk Dialog Interreligius Vatikan, berfungsi sebagai undangan untuk memperbarui jalan kebijaksanaan, welas asih dan perdamaian. Perdamaian bukanlah sekadar ketiadaan perang, tetapi anugerah yang dicurahkan agar bersemayam di dalam hati manusia: kehadiran yang tenang namun kuat yang mencerahkan dan mengubah.
Baca juga:
- Keluarkan Ensiklik Magnifica Humanitas, Paus Leo XIV: AI Harus Melayani Kemanusiaan
- Ensiklik Magnifica Humanitas, Cara Paus Leo XIV Melawan Kebangkitan ‘Menara Babel’
Sesungguhnya, seperti yang dicatat Paus Leo XIV, perdamaian itu ada; ia ingin bersemayam di dalam diri kita. Ia memiliki kekuatan lembut untuk mencerahkan dan memperluas pemahaman kita; ia menolak dan mengatasi kekerasan. Perdamaian adalah hembusan keabadian: sementara kepada kejahatan kita berseru ‘Cukup,’ kepada perdamaian kita berbisik ‘Selamanya’” (Pesan untuk Hari Perdamaian Dunia ke-69, 1 Januari 2026).
Bahkan ketika tampak rapuh-seperti nyala api kecil yang terancam oleh badai kebencian dan ketakuta-perdamaian harus dilindungi dan dipelihara. Inilah perdamaian yang untuknya kita dipanggil: perdamaian tanpa senjata dan melucuti senjata yang tidak bergantung pada kekuatan, tetapi mengalir dari kebenaran, kasih sayang, dan saling percaya. Namun, di zaman kita, kita tidak dapat mengabaikan bayang-bayang yang membebani dunia. Perang, kekerasan, meningkatnya nasionalisme etno-religius, dan manipulasi agama terus melukai kemanusiaan kita bersama.
Di dunia yang tampak semakin rapuh dan kadang-kadang ditandai dengan rasa kemunduran yang mengkhawatirkan, seruan untuk perdamaian menjadi semakin mendesak. Di sinilah tradisi spiritual kita dapat menawarkan kontribusi yang vital. Kebaikan benar-benar melucuti senjata; ia memutus siklus kecurigaan dan membuka jalan yang sebelumnya tampaknya mustahil. Pada puncaknya, tradisi kita mengajak kita untuk membersihkan hati kita dari permusuhan, untuk melampaui sekat-sekat yang membatasi, dan untuk saling mengenali sebagai anggota dari satu keluarga manusia.
Dalam terang ini, ucapan-ucapan Buddha menawarkan jalan yang penuh wawasan. Sang Buddha mengajarkan: “Kebencian tidak pernah diredakan oleh kebencian; hanya dengan tidak membenci kebencianlah kebencian diredakan. Ini adalah hukum abadi” (Dhammapada 5). Dan lagi: “Janganlah ada yang menipu orang lain atau menghina makhluk apa pun… Janganlah ada yang karena amarah atau niat jahat menginginkan keburukan bagi orang lain” (Sutta Nipata 1.8 – Metta Sutta).
Bagi umat Kristen Katolik, Yesus mengajarkan kepada murid-murid-Nya untuk “kasihilah musuhmu dan doakanlah orang-orang yang menganiaya kamu,” (Matius 5:44) dan menyatakan, “Berbahagialah orang-orang yang menciptakan perdamaian” (Matius 5:9). Kedua tradisi tersebut bertemu dalam menunjukkan perdamaian yang dihayati-perdamaian yang melucuti hati sebelum melucuti tangan. Jalan seperti itu membutuhkan lebih dari sekadar kata-kata; itu membutuhkan perubahan sikap dan komitmen terhadap tindakan nyata.
Para pemimpin agama dipanggil untuk menjadi mitra sejati dalam dialog dan agen rekonsiliasi yang sejati. Bersama dengan semua umat beriman, kita diundang untuk menjadi pengrajin perdamaian-bukan pengamat pasif, tetapi saksi yang berani yang mampu memupuk perjumpaan, menyembuhkan luka, dan membangun kembali kepercayaan.
Sebagai warga negara dan umat beriman, kita memiliki tanggung jawab bersama untuk mempromosikan perdamaian, menentang ketidakadilan, dan mendesak mereka yang berwenang untuk tidak memperkeruh perpecahan tetapi untuk mengejar dialog daripada konfrontasi. Kita juga harus waspada agar tidak menjadi kaki tangan melalui keheningan atau ketakutan.
Setiap komunitas dipanggil untuk tumbuh sebagai tempat yang mengatasi permusuhan melalui perjumpaan, yang mewujudkan keadilan, yang mengutamakan dan menghargai pengampunan. Membina perdamaian tanpa senjata dan melucuti senjata juga berarti memelihara sumber-sumber terdalamnya: doa, kontemplasi, dan transformasi batin. Ini adalah perdamaian yang dijalani setiap hari dalam tindakan kebaikan, dalam kesabaran, dalam penolakan kebencian dan balas dendam, dan dalam keberanian untuk berharap.
Karena perdamaian bukanlah ilusi atau cita-cita yang jauh; itu adalah kemungkinan nyata yang sudah berada dalam jangkauan kita, menunggu untuk disambut dan dibagikan. Dalam semangat ini, kita memperbarui harapan kita bahwa, melalui komitmen bersama kita, Umat Buddha dan Kristen Katolik dapat semakin menjadi saksi perdamaian yang melucuti senjata ini perdamaian yang menyembuhkan luka, memulihkan hubungan, dan membuka cakrawala baru bagi umat manusia.
“Semoga perayaan Waisak dipenuhi dengan ketenangan dan sukacita, dan semoga menginspirasi kita semua untuk berjalan bersama di jalan ini. Kami mengucapkan selamat merayakan Waisak yang diberkati dan penuh berkah!” tulis George Jacob Kardinal Koovakad dan Mgr Indunil Kodithuwakku Janakaratne Kankanamalage. (*)
There is no ads to display, Please add some