Ekologi Integral, Alternatif Mencegah Eksploitasi Alam

Oleh: Bernardus Hudu Sandidiko Hati

beritabernas.com – Kata ”eksploitasi” secara etimologis berasal dari bahasa Inggris exploitation yang artinya politik sewenang-wenang, tindakan terhadap alam yang berlebihan atau menggunakan alam sebagai subjek. Menurut KBBI, eksploitasi adalah pendayagunaan, pemanfaatan untuk keuntungan sendiri dan pemerasan terhadap alam.

Dalam kaintannya dengan alam, eksploitasi adalah pendayagunaan yang berlebihan atau memperalat sumber daya alam untuk kepentingan sendiri hingga menimbulkan eksisitensi alam yang semakin tergerus. Sehingga dapat disimpulkan bahwa eksploitasi merupakan salah satu konflik maupun masalah yang terjadi di tengah masyarakat.

Adanya praktik eksploitasi alam kerap kali menjadi sorotan diantara masyarakat. Praktik–praktik yang dilakukan oleh para pengeksposan yang memperdayagunakan dan mengolah alam dengan tidak baik dan benar hingga dapat memengaruhi eksistensi alam.

Dari pratek-pratek tersebut, ada faktor yang mendukung dan menimbulkan munculnya eksploitasi alam. Salah satunya ialah keinginan masyarakat untuk mendapatkan transformasi hidup menuju kesuksesan atau kebahagiaan dengan mengakumulasi semua hasil sumber daya alam untuk mendapatkan keuntungan. Sehingga tanpa disadari, semakin alam diperas dan digerus, semakin terancam juga eksisitensi manusia. Artinya bahwa semakin rusak dan hancurnya alam akan mengakibatkan munculnya bencana-bencana yang terjadi, karena tergerusnya alam hingga dapat mengakibatkan eksistensi manusia yang perlu dipertanyakan atau dengan alternatif lain, “Sampai kapan manusia berada di bumi?”

BACA JUGA:

Melihat banyaknya konflik maupun masalah yang berkaitan dengan alam “Ekploitasi Alam” akhir-akhir ini, Keuskupan Ruteng berdasarkan sidang pastoral tahun 2024, mengeluarkan tema pastoral ‘Ekologi Integral”.

Tema pastoral ini dikeluarkan, tidak lain, melihat dari kontinum-kontinum kehidupan masyarakat yang melakukan praktik-praktik eksploitasi alam begitu mengerikan. Sehingga tema pastoral ini dikeluarkannya merupakan tanggapan dari ensiklik dari Paus Fransiskus, Laudato Si’, juga sebagai perwujudan dalam bentuk akuntabilitas dan intervensi dari keuskupan untuk mengupayakan terjadinya rehabilitasi pada alam serta menumbuhkan kesadaran masyarakat pada alam untuk bisa mengelola, merawat dan mewujudnyatakan tema “Ekologi Integral” pada kehidupan. Sehingga dapat menjadi tolak ukur kontuinitas ekologi.

Salah satu contoh perwujudan dari tema pastoral ini ialah adanya ajakan dan pengajuan dari keuskupan untuk menanam pohon. Hal ini merupakan bentuk intervensi dan kepedulian dari keuskupan, agar terjadi rehabilitas pada alam.

Tema pastoral ini juga dapat diterapkan dan diimplementasikan oleh para siswa-siswi SMAK Seminari St Yohanes Paullus II Labuan Bajo. Karena tema pastoral yang dikeluarkan sangat identik dengan kehidupan siswa-siswi seminari yang terikat dengan regulasi serta visi dari lembaga ini, yang sudah terinternalisasi pada diri siswa-siswa seminari.

Adapun implementasi dari regulasi tersebut adalah setiap sore diadakan pembersihan lingkungan dan pengolahan alam dalam bentuk penanaman pohon. Selain itu visi lembaga seminari yang mencakup beberapa nilai, di antaranya Sienctia (Intelektual), Sanitas (Kekudusan), Sapientia (Kebijaksanaan), Sanitas (Kesehatan), Solidaritas (Kesetiaan) dan Misioner (Perutusan).

BACA JUGA YANG LAINNYA:

Dari beberapa nilai tersebut, terdapat nilai–nilai yang memiliki hubungan maupun kaitannya dengan tema pastoral ”Ekologi Integral” 2024 yang dikeluarkan oleh keuskupan. Nilai tersebut antara lain, sapientia (kebijaksanaan) dan solidaritas (kesetiaan).

Kedua nilai ini merupakan visi yang menjadi regulator pada kehidupan siswa-siswa seminari untuk mampu berkolaborasi dengan alam. Dengan cara memelihara, mengolah, mempergunakan alam dengan bijak dan baik. Sehingga dengan kedua nilai tersebut, dapat menetralisir dan merehabilitasi alam yang sudah rusak akibat dari eksploitasi yang dilakukan oleh para pengeskplon.

Dalam perwujudtannya, siswa-siswa seminari Labuan Bajo mampu mengolah dan merawat alam. Selain itu, dengan adanya nilai yang sudah tertanam pada diri siswa-siswa seminari, sehingga mampu diimplementasikan pada kehidupan, yang memungkinkan alam akan selalu terpelihara dan tetap berkesinambungan.

Dengan terpeliharanya alam, dapat mewujudkan keharmonisan dan kesejahteraan diantara seminaris maupun masyarakat. Seperti yang tercantum pada tema pastoral ”Ekologi Integral” yang mencakupi nilai maupun poin, di antaranya keharmonisan dan kesejahteraan.

Dengan demikian, terwujudnya tema ekologi integral di tengah siswa-siswa seminari maupun masyarakat merupakan hasil intervensi dan rasa tanggung jawab dari siswa-siswa seminari maupun masyarakat terhadap alam yang diindikasi dengan adanya kolaborasi dengan alam. Sehingga adanya kontuinitas dan rehabilitas pada alam.

Namun, semua itu tidak terlepas dari dasar nilai pada visi lembaga ini dan nilai tersebut sudah terinternalisasi pada setiap diri siswa-siswa seminari maupun masyarakat yang menjadi subjek dari keadaan alam ini. Semoga! (Bernardus Hudu Sandidiko Hati, Siswa Seminari St. Yohanes Paullus II Labuan Bajo, Manggarai Barat)


There is no ads to display, Please add some

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *