beritabernas.com – Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X (Sultan HB X) resmi meluncurkan kurikulum Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ) sebagai model pendidikan berbasis kearifan lokal yang terintegrasi dalam sistem pembelajaran formal.
Peluncuran PKJ di SMAN 6 Yogyakarta, Senin 4 Mei 2026 ini menjadi penegasan arah pendidikan DIY yang tidak hanya berorientasi pada kompetensi akademik, tetapi juga pembentukan karakter berbasis nilai budaya.
Peresmian PKJ tersebut mendapat perhatian luas, termasuk dari Anggota DPRD DIY dari PSI Dr Raden Stevanus Christian Handoko S.Kom MM. Ia menilai PKJ sebagai langkah strategis dan visioner di tengah arus disrupsi teknologi global.
Menurut Dr Raden Stevanus, PKJ bukan sekadar penguatan muatan lokal, melainkan transformasi paradigma pendidikan yang mengembalikan ruh pembentukan manusia seutuhnya. “Ini bukan hanya soal mengenalkan budaya atau sejarah Yogyakarta. PKJ adalah proses internalisasi nilai. Di tengah derasnya arus digitalisasi dan kecerdasan buatan, kita membutuhkan fondasi etik yang kuat. Tanpa itu, kemajuan justru bisa menjadi ancaman,” ujar Dr Raden Stevanus.
PKJ mengakar pada filosofi hidup masyarakat Yogyakarta yang dikenal melalui ajaran Sawiji, Greget, Sengguh, Ora Mingkuh, menurut Stevanus, nilai-nilai tersebut sangat relevan dalam konteks modern, termasuk dalam interaksi digital dan pemanfaatan teknologi seperti AI.
Baca juga:
- Dr Raden Stevanus Ajak Generasi Muda Maknai Jogja sebagai Benteng Terakhir Republik
- Hadapi Ledakan AI, Dr Raden Stevanus: Etika Berbasis Pendidikan Kejogjaan Sangat Penting
“Di era algoritma dan artificial intelligence, manusia justru diuji pada sisi etikanya. PKJ memberikan jawaban itu. Ini bukan romantisme budaya, tapi strategi membangun manusia yang tahan terhadap krisis moral di era digital,” tegas Dr Raden Stevanus.
D. Raden Stevanus melihat PKJ sebagai manifestasi dari cita-cita besar masyarakat Yogyakarta untuk melahirkan “Jalma Kang Utama”, manusia unggul yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual dan sosial.
Dalam perspektifnya sebagai pemerhati transformasi digital, ia menilai bahwa kekuatan lokal justru menjadi modal utama untuk bersaing secara global.
“Generasi DIY harus punya global mindset, menguasai teknologi, mampu beradaptasi dan mampu bersaing di level internasional. Tapi identitasnya tidak boleh hilang. Mereka harus tetap menjadi ‘Wong Jogja’ yang beretika, berbudaya, dan berkarakter,” ungkap Dr Raden Stevanus.
Peluncuran PKJ sendiri merupakan bagian dari visi besar Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam menjaga keistimewaan Yogyakarta melalui jalur pendidikan. Sultan menegaskan bahwa pendidikan tidak boleh tercerabut dari akar budaya, karena di situlah letak kekuatan identitas daerah.
Dr. Raden Stevanus mengingatkan bahwa keberhasilan implementasi PKJ tidak bisa hanya dibebankan pada sekolah. Ia menekankan pentingnya pendekatan kolaboratif yang melibatkan seluruh elemen masyarakat.
“Harus ada sinergi antara Keraton, Kampus, dan Kampung. dukungan kolaborasi pentahelik dari pemerintah, kampus, komunitas/masyarakat, dunia usaha hingga media juga diperlukan. Pendidikan karakter tidak cukup di ruang kelas. Keluarga dan masyarakat punya peran yang sangat besar dalam membentuk kepribadian anak,” kata Dr Raden Stevanus.
Ia menambahkan bahwa di tengah dunia yang semakin terdigitalisasi, langkah ini menjadi pengingat bahwa masa depan tidak hanya dibangun oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga oleh kekuatan karakter. (phj)
There is no ads to display, Please add some