beritabernas.com – Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Emanuel Melkiades Laka Lena yang biasa dikenal Melki Laka Lena ajak diaspora NTT atau warga asal NTT yang berada di perantauan untuk membangun desa masing-masing sesuai potensi yang ada di desanya.
Sebab, menurut Gubernur Melki Laka Lena, pemerintah daerah (pemda) baik provinsi maupun kabupaten punya keterbatasan, terutama dalam anggaran, sehingga perlu kolaborasi dengan berbagai pihak termasuk warga diaspora atau warga asal NTT yang berada di perantauan.
Hanya dengan cara kolaborasi, Provinsi NTT yang selama ini dikenal sebagai daerah miskin, secara perlahan dan bertahap bisa keluar dari kemiskinan. “Pemerintah daerah tidak bisa bekerja sendiri tanpa dukungan dari berbagai pihak. Karena itu, saya mengajak diaspora ayo bangun NTT dimulai dari desa masing-masing sesuai potensi desa,” kata Gubernur NTT Melki Laka Lena saat bersilaturahmi dengan warga diaspora di Yogyakarta, Minggu 26 April 2026.
Dalam silaturahmi yang dihadiri sejumlah sesepuh NTT yang tinggal dan menetap di Yogyakarta seperti Prof Jeremias Keban, Jeremias Lemek, Prof Mali, Daniel Damaledo, Ardi Sehami dan sebagainya itu, Melki Laka Lena mengatakan, Pemda NTT maupun pemerintah kabupaten tidak mungkin bisa urus NTT sendiri.

Karena itu, spirit yang kemudian menjadi tagline pemerintahannya adalah Ayo Bangun NTT, yakni mengajak semua untuk ikut membangun NTT dengan cara dan kapasitas masing-masing. Baik mahasiswa S1, S2, S3, dosen, profesor, pendeta, pastor, suster, ibu rumah tangga dan siapa saja agar bersinergi dan berkolaborasi membangun NTT dengan kemampuan masing-masing.
Khusus bagi diaspora, Gubernur NTT mengusulkan untuk membangun kampung halaman masing-masing dengan cara dan sesuai kemampuan atau potensi masing-masing. Kita letakkan itu di titik-titik perubahan yakni dari desa. Karena NTT terlalu besar maka pembangunan dimulai dari desa masing-masing.
Menurut Melki Laka Lena, warga diaspora diharapkan membangun NTT secara konkrit dimulai dari kampung halaman masing-masing sesuai potensi yang ada, misalnya peternakan, pertanian, perkebunan dan sebagainya. Pemda siap mendukung.
Baca juga:
- Mahasiswa NTT di Yogyakarta Dorong Geotermal untuk Kedaulatan Energi
- Istri Gubernur NTT Bersama Aktivis Lintas Jaringan Kawal Kasus Pelecehan Seksual dan TPPO Mantan Kapolres Ngada
- Jaga Jogja Tetap Kondusif, Tokoh NTT, Maluku dan Papua Temui Kapolda DIY
- Imam Katolik Asal NTT Tidak Setuju Jusuf Kalla Dilaporkan ke Polisi
“Saya berharap warga diaspora tolong cek potensi kampung masing-masing ada apa. Apabila ada peternakan boleh, pertanian boleh, mari kita diskusi dan kita kerja sama. Bangun NTT dari kampung masing-masing agar spirit Ayo Bangun NTT itu secara konkrit, mulai dari kampung masing dan pemda akan mendukung,” kata Gubernur NTT Melki Laka Lena yang pernah kuliah di Yogyakarta.
Pada kesempatan itu, Gubernur NTT mengungkapkan bahwa angka kemiskinan di NTT saat ini terun menjadi 17,5 persen atau turun 1,2 persen dari sebelumnya. Sementara pertumbuhan ekonomi tahun 2025 sebesar 5,14 persen atau naik dibanding tahun 2024 yang hanya 3,87 persen.
“Pertumbuhan ekonomi NTT 5,14 persen itu di atas rata-rata nasional sebesar 5,12 persen. Kami senang karena pertumbuhan ekonomi NTT tersebesar diungkit oleh sektor pertanian yang mencapai 30 persen. Sektor pertanian menyentuh 60 persen penduduk NTT,” kata Melki Laka Lena.
Menanggapi ajakan Gubernur NTT agar diaspora ikut membangun NTT, Daniel Damaledo, Founder sekaligus pemilik Restoran Ikan Pantai Timur dan Radio Sasando FM tempat acara berlangsung, sangat mendukung. Selain membangun kampung halaman masing-masing, warga diaspora juga bisa membuka dan mengembangkan usaha dimanapun berada dengan mempekerjakan anak-anak NTT yang ada di perantauan.

“Restoran Ikan Pantai Timur yang saya buka 8 bulan lalu mempekerjakan 30 karyawan yang hampir semuanya berasal dari NTT. Selain memberi sedikit penghasilan bagi mereka, restoran ini juga sebagai tempat mereka belajar berusaha sehingga ketika nanti pulang ke daerah masing-masing bisa mengembangkan usaha yang sama. Ini salah satu bentuk kontribusi warga diaspora untuk membangun NTT. Jadi tidak harus pulang ke NTT tapi ikut membangun NTT dari jauh dengan mempersiapkan sumber daya manusia yang terampil,” kata Daniel Damaledo yang segera membuka dua cabang Restoran Ikan Pantai Timur di Jogja barat dan Jogja bagian timur.
Acara silaturahmi yang dibuka dengan lagu kebangsaan Indonesia Raya dilanjutkan dengan lagu Flobamora dihadiri lebih dari 100 warga diaspora yang terdiri dari mahasiswa, dosen, tokoh berbagai agama, dan berbagai profesi asal NTT yang tinggal menetap di Jogja. Acara yang diselingi makan siang bersama dengan menu khas ikan laut Restoran Pantai Timur yang lezat itu diakhiri dengan dialog dan ditutup dengan foto bersama. (phj)
There is no ads to display, Please add some