Oleh: Rini Purwiastuti, Pengendali Dampak Lingkungan Ahli Muda pada Bidang Wilayah II Pusdal LH Jawa
beritabernas.com – Setiap bulan Oktober, dunia memperingati Hari Pangan Sedunia sebagai momentum untuk memperkuat komitmen mewujudkan sistem pangan yang berkelanjutan. Pada 2026, peringatan ini mengusung tema Innovate today, Nourish tomorrow atau berinovasi hari ini, mencukupi pangan masa depan.
Pesan tersebut menegaskan pentingnya inovasi untuk menjamin kecukupan pangan pada masa mendatang. Namun, inovasi pangan tidak cukup dimaknai sebagai penggunaan teknologi pertanian, pengembangan benih unggul, atau peningkatan hasil panen. Ada fondasi yang tidak boleh diabaikan: tanah yang sehat dan air yang terjaga. Tanpa keduanya, inovasi sehebat apa pun akan menghadapi keterbatasan dalam menopang produksi pangan secara berkelanjutan.
Ketahanan pangan selama ini kerap dibicarakan melalui ketersediaan bahan pangan, kelancaran distribusi, dan stabilitas harga. Semua aspek tersebut penting, tetapi keberlanjutannya sangat bergantung pada kondisi lingkungan tempat pangan diproduksi. Ketika lahan pertanian menyusut, kesuburan tanah menurun, dan sumber air terdegradasi, kemampuan menghasilkan pangan ikut terancam. Karena itu, menjaga lingkungan harus menjadi bagian integral dari strategi ketahanan pangan.
Salah satu tekanan yang perlu mendapat perhatian adalah alih fungsi lahan. Pertumbuhan penduduk dan pembangunan meningkatkan kebutuhan permukiman, infrastruktur, serta ruang ekonomi. Di sisi lain, lahan pertanian memiliki keterbatasan. Ketika sawah dan lahan produktif berubah menjadi kawasan terbangun, ruang produksi pangan semakin menyempit. Persoalannya bukan sekadar perubahan penggunaan lahan, melainkan berkurangnya kapasitas lingkungan untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat.
Baca juga:
- Dari Ozon ke Iklim: Pelajaran dari Keberhasilan Protokol Montreal
- Permukiman Hijau Harus Dimulai dari Rumah
- Dari Sisa Dapur hingga Industri Daur Ulang, Perjalanan Material Dimulai dari Rumah
Tekanan tersebut diperberat oleh degradasi tanah. Tanah yang kehilangan struktur, unsur hara, dan aktivitas biologisnya tidak lagi mampu mendukung pertumbuhan tanaman secara optimal. Kemampuan menyimpan air pun dapat menurun, sehingga tanaman semakin rentan menghadapi kekeringan maupun perubahan pola hujan. Jika berlangsung terus-menerus, kerusakan tanah dapat meningkatkan biaya produksi dan memperbesar risiko penurunan hasil panen.
Konservasi sebagai inovasi masa depan
Konservasi tanah dan air perlu ditempatkan sebagai investasi jangka panjang. Undang-Undang Nomor 37 tahun 2014 tentang Konservasi Tanah dan Air memberikan landasan penting bagi perlindungan, pemulihan, peningkatan, dan pemeliharaan fungsi tanah secara berkelanjutan. Prinsip ini perlu diterjemahkan ke dalam perencanaan pembangunan dan praktik pertanian, bukan berhenti sebagai ketentuan di atas kertas.
Inovasi tidak selalu berarti teknologi yang mahal atau rumit. Penggunaan tanaman penutup tanah, agroforestri, penghijauan, terasering, dan teknik pengendalian erosi merupakan contoh pendekatan yang dapat membantu menjaga kualitas tanah serta mengelola air. Sumur resapan dan biopori juga dapat diterapkan pada lokasi yang sesuai untuk mendukung peresapan air. Pemilihan metode harus mempertimbangkan karakteristik lahan, kondisi hidrologis, dan kebutuhan masyarakat setempat.
Pengetahuan lokal petani juga penting dalam upaya ini. Pengalaman membaca musim, memilih tanaman yang sesuai, mengatur pola tanam, dan mengelola air dapat dipadukan dengan hasil penelitian serta teknologi modern. Pendekatan Climate-Smart Agriculture (CSA) yang dikembangkan Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) mendorong peningkatan produktivitas, penguatan adaptasi terhadap perubahan iklim, dan pengurangan emisi gas rumah kaca. Dengan demikian, inovasi pertanian semestinya tidak hanya mengejar hasil panen, tetapi juga memperkuat ketahanan ekosistem.
Pengelolaan tanah dan air pun perlu dilakukan secara terpadu dari hulu hingga hilir. Kerusakan di wilayah hulu dapat memengaruhi aliran air, sedimentasi, dan kondisi ekosistem di wilayah bawahnya. Oleh sebab itu, kebijakan tata ruang, perlindungan kawasan resapan, pengelolaan daerah aliran sungai, dan praktik pertanian berkelanjutan harus saling mendukung. Pendekatan bentang alam terpadu, termasuk solusi berbasis alam atau Nature-based Solutions (NbS), dapat menjadi bagian dari upaya mengurangi degradasi lahan sekaligus memperkuat ketahanan masyarakat.
Momentum Hari Pangan Sedunia 2026 seharusnya mendorong perubahan cara pandang terhadap inovasi pangan. Keberhasilan tidak cukup diukur dari peningkatan produksi dalam satu musim, tetapi juga dari kemampuan mempertahankan produktivitas tanpa merusak sumber daya yang menopangnya. Pemerintah perlu memperkuat perlindungan lahan pertanian dan konservasi sumber daya alam. Petani membutuhkan dukungan pengetahuan, teknologi yang sesuai, dan akses terhadap praktik pengelolaan berkelanjutan. Masyarakat juga memiliki peran melalui konsumsi bijak dan pengurangan pemborosan pangan.
Pada akhirnya, masa depan pangan tidak hanya ditentukan oleh apa yang dipanen hari ini, tetapi juga oleh bagaimana tanah dan air diperlakukan. Inovasi yang mengabaikan daya dukung lingkungan berisiko menghasilkan keuntungan sesaat dengan menimbulkan beban jangka panjang.
Berinovasi hari ini berarti menjaga fondasi pangan untuk esok hari. Tanah yang sehat, air yang terpelihara, dan pengelolaan lingkungan yang bijaksana bukan pelengkap ketahanan pangan, melainkan syarat utama keberlanjutannya. (*)
There is no ads to display, Please add some